Meninjau Aset Waqaf Sekolah Diponegoro

Semarang-dewandakwah.or.id, Sore hari, usai melantik pengurus baru Dewan Da’wah Jawa Tengah Kantor Semarang, Ahad (21 /4), Ketua Umum Dewan Da’wah Drs. Mohammad Siddik, MA, Wakil Ketua Umum Drs. Amlir Syaifa Yasin, Wakil Sekretaris Umum Taufik Hidayat, S.Sos, MA, menyempatkan meninjau dari dekat Masjid Pengeran Diponegoro dan SD Islam Pangeran Diponegoro, Semarang.

“Selain berada dalam sebidang tanah waqaf Dewan Da’wah, masjid Pangeran Diponegoro juga dibangun oleh Dewan Da’wah,” ujar Ust. Amlir Syaifa Yasin menjelaskan. Keduanya berada dalam satu areal tanah yang telah diwaqafkan kepada Dewan Da’wah.

Meski berada dalam sebidang tanah waqaf, secara fisik antara masjid dan areal sekolah tampak ada dinding pembatas. Dibalik dinding itu, menjadi bagian dari masjid, telah berdiri bangunan dua lantai berukuran sedang yang tampak dari labelnya, difungsikan sebagai kantor lembaga amil zakat infaq dan shodaqoh (Lazis). Sedangkan dibalik gedung Lazis tersebut adalah pekarangan sekolah.

Ketika ditanya bagaimana akses para murid menuju masjid, Hj. Dewi, Kepala Sekolah Dasar Islam Pangeran Diponegoro, yang menerima kunjungan kami, menjelaskan, “Ya, dulu sebelum ada dinding pembatas, halaman ini masih menyatu dan menjadi akses langsung para murid untuk melaksanakan aktivitas ibadah, tetapi setelah ada dinding pembatas, akses menuju masjid harus melewati trotoar jalan raya”. Dinding itu memang tidak terlihat berpintu.

Hj. Dewi membawa kami meninjau lebih dalam ke areal sekolah. Memperlihatkan kondisi fisik sekolah TKB – TK – SD. Lebih ke belakang lagi, terdapat bangunan berlantai dua yang digunakan sebagai ruang-ruang kelas dan kantor guru. Ruang kelas itu sejak awal difungsikan telah dilengkapi fasilitas modern, mulai dari meja-kursinya, rak-rak dan dilengkapi pula dengan AC.

“Siswa kami sudah berjumlah 950 orang,” ujarnya, sambil menceritakan standar mutu pendidikannya bahwa seluruh siswa paling tidak sudah hapal Al-Qur’an, antara 3-7 juzz. Dan sekolah ini telah menjadi percontohan bagi sekolah-sekolah Islam lainnya di Semarang,” jelasnya.
Bukan itu saja, Hj. Dewi juga menjelaskan bahwa SD Islam Pangeran Diponegoro yang terletak di Jl. Jatimulyo, Semarang, memberlakukan uang SPP terendah dibanding SD Islam lain yang setaraf dengannya. Bahkan masih membebaskan uang iuran SPP untuk sejumlah siswa yang berprestasi namun memiliki latar belakang ekonomi kurang mampu.

Yayasan Pendidikan Islam Tembalang, lembaga yang menaungi sekolah Islam Pangeran Diponegoro, saat ini juga tengah menyiapkan membangun fasilitas pendidikan lanjutan – SMP Islam Pangeran Diponegoro – dilokasi lain, di areal tanah seluas 5.000 meter persegi. “Tanah itu dalam proses pembelian. Kami baru menyelesaikan sampai pemberian Down Payment. Proses masih panjang, tetapi kami optimis akan dapat diwujudkan,” Ujar Suharnomo, Dekan di Universitas Diponegoro. Suharnomo adalah salah satu pengurus Yayasan Pendidikan Islam Tembalang. Pengurus lainnya yang hadir saat itu adalah Sam’ani, SE dan Ir. Ahmad.

Mendengar penjelasan demi penjelasan, Ust. Mohammad Siddik menyatakan kekagumannya. “Kami senang melihat perkembangan pemberdayaan aset ini semua. Sekolahnya berkembang dan telah menjadi Sekolah Islam favorit. Demikian juga dengan masjidnya yang telah dikembangkan oleh para pengurusnya sedemikian rupa hingga tampak indah, bersih dan agung,” ujar Ust. Siddik.

Perkembangan demikian menurut Ust. Siddik adalah sesuai dengan amanat pemilik awal yang disampaikan kepada Dewan Da’wah. Perkembangan dan kemajuan yang telah diupayakan secara serius oleh sekolah ini merupakan pemberdayaan aset waqaf yang perlu dicontoh oleh pengurus Dewan Da’wah ditempat lainnya.

“Dan Dewan Da’wah akan tetap mengawal pemberdayaan aset waqaf sekolah dan masjid Pangeran Diponegoro untuk menjaga amanah waqaf pemiliknya,” jelas Ust. Siddik.

Humas Dewan Da’wah