Musabab Ketokohan Mohammad Natsir

Dewan Da’wah News, Tambun – Pengurus Pusat Pemuda Dewan Da’wah bekerjasama dengan Badan Eksekutif Mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah Mohammad Natsir menyelenggarakan seminar Seminar Nasional Mosi Integral Natsir mengambil tema “Merawat NKRI, Menyiapkan Generasi” di Gedung STID M. Natsir, Tambun, Bekasi Rabu (3/4/2019).

Ustadz Hadi Nur Ramadhan yang menjadi salah satu pemateri pada seminar tersebut menyampaikan bahwa Mohammad Natsir dibesarkan oleh dua musabab pertama, guru.

Menurutnya, Natsir bisa menjadi orang besar karena punya mentor yang dapat diserap ketauladanan dad keilmuannya dan ditemui secara intens .

“Natsir muda, berangkat pagi-siang di Algemeene Middelbare School (AMS) sorenya berguru kepada A. Hassan bersama Mohamad Roem, Prawoto Mangkusasmito, Kasman Singodimedjo dan sebagainya,” kata Hadi.

Hadi menambahkan semangat menghadiri kajian tidak salah tapi hasilnya tidak maksimal jika tidak memiliki mentor.

“Saya kira tradisi berguru ini sudah hilang di kalangan aktivis Islam sekarang. Semangat hadir kajian di mana-mana tapi tidak punya mentor itulah kenapa kita kalah dengan anak-anak Kiri. Mereka punya mentor dan begitu intens bertemu dengan mentornya,” ujarnya.

Bahkan, lanjut Hadi, generasi muda saat ini merupakan fenomena tanpa masjid atau lebih gemar ‘berguru’ kepada media daripada manusia sehingga melewati tahapan pembelajaran adab.

“Abad 21 itu adalah abad yang melahirkan aktivis tanpa masjid maksudnya adalah mereka anak-anak muda belajar agama dari Youtube, majalah, koran dan sebagainya sehingga ada tahap yang dilewati yaitu adab,” imbuhnya.

Dalam penyempurnaan sosoknya, Natsir tidak berguru pada satu orang saja, kadang beliau mengunjungi tokoh-tokoh intelektual lainnya.

“M. Natsir juga belajar ke Agus Salim dan Syaikh Ahmad Surkati” kata Hadi.

Kata Hadi, selain berguru, Natsir dibesarkan dengan musabab kedua, kegermaran membaca buku.

“Natsir hobi membaca buku sejarah, Natsir menjadi besar karena dia hidup dengan riwayat orang-orang besar,”

Ustadz Hadi Nur Ramadhan (paling kanan) sedang menyampaikan materi

Hadi Menambahkan, di usia Natsi ke-70 tahun lebih setiap selepas sholat tahajjud selalu ada tiga kitab tafsir yang beliau baca yaitu Tafsir Fi Dzilalil Quran (karangan Sayyid Quthb), Tafsir Ibn Katsir, Tafsir Al Fuqon yang ditulis gurunya, A. Hassan.

“Kita tidak akan pernah menjadi besar kalau baca dan diskusinya bukan tokoh-tokoh besar,” tegas Hadi.[tmm]