Ustadz Misbach dalam sambutannya berharap bahwa kepengurusan yang sudah dilantik ini dapat bekerjasama dengan semua kekuatan Islam di Aceh dalam rangka mewujudkan tegaknya syariat Islam di Aceh dan menjawab tantangan da’wah yang ada.

 

Berbicara masalah tantangan da’wah saat ini, lanjut Misbach Malim, kondisi yang dihadapi juga sama dengan apa yang dihadapi oleh Rasulullah SAW. ketika pertama kali membawa misi risalah Islam, yakni masyarakat Jahiliyah. Hanya saja saat ini kejahiliyahan itu menggunakan model, modus operandi, bentuk yang lebih modern sesuai dengan masa dan perkembangan zaman, sehingga ada istilah Jahiliyah Kontemporer, Jahiliyah Abad 20 dan lain-lain. Intinya sama, suatu sikap, pola pikir, karakter, tingkah laku, penampilan, gaya hidup yang membangkang kepada Allah SWT.

 

Paling tidak ada 4 karakter, sikap, pola pikir dan perilaku Jahiliyah yang Allah SWT utarakan dalam al-Quran sebagai tantangan da’wah yang dihadapi oleh Rasulullah SAW dan para penerus risalahnya (baca;da’i) yang dapat wujud dimana, kapan dan pada siapapun.

 

Pertama, surat Ali ‘Imran [3]: 154:…sedang segolongan lagi telah dicemaskan oleh diri mereka sendiri; mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah seperti sangkaan jahiliyah….

 

Persangkaan inilah yang telah menyebabkan mereka terjerumus ke dalam kemusyrikan, karena menggugat hal-hal yang sudah mutlak, mapan kebenarannya dalam Islam. Saat ini sikap dan pola pikir ini sebagiannya dianut oleh kaum liberal, yang menggugat hal-hal yang mapan dalam agama dengan berbagai persangkaan (dhan), seperti keadilan Tuhan (dalam kasus warisan), terjebak dalam paham materialisme, (tidak meyakini hal-hal yang gaib), al-Quran diskriminatif terhadap perempuan dan menuhankan rasio, teknologi dan sebagainya.

 

Kedua, surat al-maidah [5]: 50; …“Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki,…Ayat di atas, membicarakan jahiliyah dalam makna hukum; di mana berlaku hukum di tengah masyarakat Arab sebelum Islam, yang kuat menindas yang lemah, yang kaya menindas yang miskin, yang banyak menindas yang sedikit dan seterusnya. Tidak ada belas kasih dan sikap mendahulukan kepentingan orang lain. Selain itu juga karena hukum yang diterapkan adalah hukum buatan manusia yang diibaratkan oleh Allah seperti sarang laba-laba (ankabut), kalau yang kecil tersangkut  tetapi kalau yang melanggar orang berpangkat, banyak uang, pejabat maka hukum pun terinjak.

 

Jika kita jujur mencermati kondisi hari ini, ternyata pola hukum jahiliyah juga menjadi ciri kehidupan hari ini, sama-sama menggunakan hukum buatan manusia dan supremasi serta law enforcement tidak jalan. Inilah gambaran hukum jahiliyah hari ini, yang menjadi tantangan da’wah.


Ketiga, [33]: 33; .… dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu….


Kata jahiliyah dalam ayat di atas menjukan sikap hidup negatif yang pernah dipertunjukan wanita jahiliyah, berupa cara berpakian dan berpenampilan. Kondisi tersebut hari ini diwakili oleh pornografi, pornoaksi, traffiking dan menjadikan wanita sebagai komoditi yang dieksploitasi sebagiai pemuas nafsu. Ini pun menjadi tantangan da’wah tersendiri di era modern ini.

Keempat, surat al-Fath [48]: 26: … “Ketika orang-orang kafir menanamkan dalam hati mereka kesombongan (yaitu) kesombongan  jahiliyah…

 

Kata jahiliyah dalam ayat di atas, menunjukan makna keangkuhan, kesombongan, mudah tersinggung, pendendam, pemarah, serta jauh dari sikap lemah lembut. Sikap jahiliyah ini juga menjadi bagian dari ciri kehidupan bangsa ini, betapa bangsa ini sangat dekat dengan pola kehidupan yang penuh kekerasan, perkelahian dan kesadisan. Kondisi ini diperparah oleh friksi-friksi di kalangan ummat Islam, beda Ormas, jamaah, partai, mazhab dll menjadi ego sektoral yang menambah tantangan da’wah dalam rangka menegakkan syariat Islam.

 

Untuk menghadapi tantangan tersebut, maka dibutuhkan pekerja-pekerja da’wah (da’i) yang militan, berjuang lillahi ta’ala dan dengan kerja yang professional, demikian ustadz Misbach mengakhiri sambutannya.

 

Kegiatan yang dihadiri oleh sekitar 200 undangan mewakili Pemerintah Aceh, Ormas Islam, Lembaga Da’wah, guru dan media di isi dengan pelantikan Pengurus Pemuda Dewan Da’wah Aceh periode 2012-2015 dan Seminar bertema “Mencari Pemimpin Islami dan Berkomitmen Menjalankan Syariat Islam”

 

Kepengurusan Pemuda Dewan Da’wah Aceh, yang diketuai oleh Basri Effendi, SH, merupakan badan otonom Dewan Da’wah Aceh dan ini provinsi pertama di Indonesia yang mempunyai sayap pemuda di Dewan Da’wah.

 

Semoga dengan adanya tenaga-tenaga da’i mudah semakin membantu tugas da’wah dan mempercepat proses penegakan syariat Islam di Aceh, karena langkah prioritas kerja Dewan Da’wah Aceh ke depan adalah memahamkan kembali syariat Islam, baik aqidah, syariah dan akhlaq, kepada ummat Islam yang ada di Aceh sebagai tahap awal mewujudkan tegaknya syariat Islam secara kaffah di Aceh, demikian di antara butir-butir pidato Ketua Umum Dewan Da’wah Aceh, Hasanuddin Yusuf Adan. (dda)