Dalam rangka memberdayakan ekonomi umat, pada Jumat (28/4) dan Sabtu (29/4) lalu, LAZIS Dewan Dakwah Pusat telah mengadakan pelatihan pengolahan ikan patin menjadi abon aneka rasa. Pelatihan ini diadakan di Ponpes Raudhatul Jannah, Lampung Tengah. Diikuti oleh perwakilan para santri, relawan Dewan Dakwah Pusat dan Dewan Dakwah Provinsi Lampung, dan ibu-ibu daiyah Muslimat Dewan Dakwah Provinsi Lampung.

Acara diawali dengan sambutan dari perwakilan Lazis Dewan Dakwah Pusat, Agung Gumelar. Beliau menceritakan bagaimana Lazis Dewan Dakwah Pusat membantu Ponpes Raudhatul Jannah mengawali pembibitan ikan patin hingga pembangunan kolam yang cukup luas.

Setelah itu dilanjutkan sambutan oleh K.H. Wiyono, pemilik Ponpes Roudhatul Jannah. Beliau menjelaskan bagaimana sebagai pemilik pondok harus berkreasi untuk mencukupi kebutuhan pangan dan gizi para penghuni pondok. Keputusan untuk mengembangkan budidaya ikan patin ini diharapkan bukan hanya dapat menopang dari segi nutrisi, tapi juga dari segi ekonomi.

Pemateri tunggal dalam pelatihan ini adalah Ita Apriyani, M.Si. Beliau adalah pengusaha abon hasil olahan dari ikan lele yang diberi merk “Bonile”. Beliau sengaja diundang dari Yogya untuk berbagi kiat-kiat suksesnya mengembangkan abon ikan lele ini sampai tahap ekspor ke Hongkong dan Korea.

Di hari pertama, Ita menjelaskan tentang beberapa macam produk olahan ikan; dari mulai bakso ikan, kaki naga ikan, crispy, sampai nugget ikan, termasuk abon ikan.

Dipilihnya produk olahan berupa abon ikan ini karena tingginya kandungan omega 3 dan omega 6 pada ikan yang baik bagi pertumbuhan otak anak-anak. Keunggulan ini tidak didapatkan pada produk olahan abon sapi.

Bukan hanya itu, perhitungan dari segi ekonomi juga sangat menguntungkan. Jika 5 kg patin dikonsumsi secara biasa, maka harga jualnya tidak sampai 150 ribu rupiah. Tapi jika 5 kg patin diolah menjadi abon, maka akan dihasilkan 1 kg abon dengan harga mencapai 350 ribu rupiah.

Selain menjelaskan keuntungan-keuntungan yang didapat dari pengolahan ikan ini, Ita juga menjelaskan syarat-syarat produk olahan yang bisa dijual di pasaran. Untuk tingkat daerah, sebuah produk harus memiliki Sertifikat Produksi Pangan Industri Rumah Tangga (SPP-PIRT) dari Dinas Kesehatan beserta syarat pengajuan prosedur perijinan dan administrasi.

Sedangkan untuk tingkat nasional, beredarnya suatu produk makanan haruslah memenuhi Ijin Edar BPOM RI dan Sertifikat Halal MUI.

Di hari kedua, peserta diajak memanen ikan patin di kolam milik ponpes. Agar acara masak-memasak ini menjadi lebih seru, maka panitia membagi peserta menjadi 3 kelompok. Kelompok 1 adalah para santri putra, kelompok 2 adalah para relawan putri Dewan Dakwah , dan kelompok 3 adalah para ibu-ibu daiyah Muslimat Dewan Dakwah yang diwakili oleh Nurul Qomari, Admiyati, dan Sariyanti.

Ita mengajarkan bagaimana membelah ikan patin dan memisahkan duri-duri halusnya tanpa merusak susunan tulang ikan. Dengan cara khusus ini maka daging ikan yang didapat tidak tercampur dengan duri, dan tulang ikan pun masih bisa diolah menjadi gorengan yang crispy. Setelah itu dilanjutkan dengan mengolah daging ikan menjadi abon.

Sore hari pelatihan ini usai dan menghasilkan olahan abon yang khas. Tanpa diduga, ternyata abon patin buatan kelompok santri putra lebih mantap rasanya dibandingkan buatan kelompok lainnya. Namun hal ini tidak membuat kecil hati para peserta lainnya, karena kebersamaan dan keriangan selama kegiatan 2 hari ini cukup menghibur mereka. Semoga ibu-ibu daiyah kelak bisa berkreasi lebih baik lagi dan menciptakan produk olahan ikan berkualitas tinggi.

Ed : Muttaqin | Dewandakwahlampung.com