Nama yang diberikan orang tua kepada sang buah hati adalah bentuk doa. Doa dan harapan yang terpancar dalam hati agar dikabulkan Allah Ta’ala Yang Maha Memberi. Oleh karenanya dalam hal nama, Islam menganjurkan para orang tua agar memberikan nama terbaik bagi anak-anaknya dan sebaliknya melarang memberikan nama yang buruk.

“Ustadz Naldi” adalah sebuah nama kecil yang diberikan oleh sepasang suami istri di daerah Talang Kubu, Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Ustadz Naldi lahir pada tanggal 8 April 1997 di daerahnya tersebut dan namanya menjadi perbincangan masyarakat ketika itu karena sejak kecil sudah diberi nama ustadz. Satu-satunya nama yang pernah ada dalam sejarah desa dan mungkin juga jarang kita jumpai di negeri Indonesia, nama yang langka namun penuh dengan makna. Nama yang menjadi sebuah doa, agar Allah Ta’ala kelak menjadikan anak laki-laki pertamanya sebagai seorang ustadz yang paham ilmu agama dan menjadi investasinya kelak ketika menghadap Allah Ta’ala, demikianlah ungkapan Pak Zainal dan Bu Lilis.

Panggilan ustadz melekat dalam diri Ustadz Naldi sejak kecil, namun di usianya yang ketujuh ia ditimpa berbagai macam penyakit sehingga tubuhnya menjadi kurus dan membuat sedih orang tuanya.

Adat yang berlaku mengharuskan ustadz naldi kecil berganti nama agar penyakit yang dideritanya segera hilang, begitulahkepercayaan masyarakat setempat. Muhazil adalah nama pilihan dari kedua orang tua tercinta, namun mereka berdua tetap berharap agar kelak ia menjadi ustadz walau namanya sudah berganti. Panggilan ustadz pada diri Ustadz Nadli kecil (Muhazil) tetap menjadi panggilan utama masyarakat sekitar kepada dirinya hingga di usianya yang dewasa seperti sekarang ini.

Harapan itu seakan sulit untuk terwujud karena berbagai kendala yang menghadang di tengah perjalanan hidupnya kala itu. Mulai dari tidak adanya biaya untuk menyekolahkan ustadz Naldi kecil di sekolah agama hingga lingkungan masyarakat yang kurang mendukung dengan pergaulan bebas yang merajalela. Walau sempat mengaji hingga lulus dari sekolah dasar, ustadz Naldi kecil “Muhazil” hampir tidak pernah mengaji lagi mulai dari SMP hingga lulus SMK. Seakan cita-cita menjadi ustadz yang diharapkan orang tuanya mustahil untuk tercapai.

Keinginan melanjutkan kuliahnya kembali mengalami kendala. Kuliah yang seakan mustahil untuk digapai karena kendala biaya yang kembali menghampiri, terlebih ada dua adik kecil yang harus juga mendapat pendidikan. Akan tetapi, harapan yang sudah seakan sirna kembali muncul ketika buah hatinya tercinta melanjutkan pendidikannya di sebuah kampus dengan basis agama. Walau harus merelakan anaknya pergi jauh dari tempat tinggalnya, Pak Zainal dan Bu Lilis ikhlas merelakan anak tercintanya menuntut ilmu di Bukittinggi yang jaraknya mencapai 350 km dari daerahnya.

Akademi Da’wah Indonesia (ADI) Aqabah Bukittinggi adalah kampus ustadz Naldi kecil menimba ilmu agama dengan berbagai mata kuliah di dalamnya. Setelah setahun menimba ilmu agama dan dakwah tentunya, maka ustadz Naldi “Muhazil” mampu untuk berdakwah dan menyebarkan risalah Islam kepada masyarakat tempat tinggalnya. Harapan dan doa dari kedua orang tua tercinta terkabulkan oleh Allah Ta’ala walau banyak rintangan yang menghadang. Tak hanya menjadi harapan kedua orang tua, namun menjadi harapan masyarakat tempat tinggalnya, harapan ummat agar menjadi ustadz muda dan teladan di tengah hancurnya pergaulan yang melanda generasi muda Islam.

Demikianlah kisah nyata dalam kehidupan ustadz Naldi kecil “Muhazil” (Mahasiswa Teladan ADI Aqabah tahun 2015-2016) yang membuktikan kepada kita tentang dahsyatnya kekuatan doa dalam nama yang diberikan oleh kedua orang tua tercinta.Nama adalah Doa, Harapan Orang Tua kepada Allah Ta’ala. (Danu Sabdo Wirawan/ Musyrif ADI Aqabah)

ket foto: kanan Muhazil, Kiri Danu