PERANAN WANITA DALAM ISLAM

Oleh : H. Amlir Syaifa Yasin, MA (Wakil Ketua Umum DDII)

Sebelum Islam datang, dimasa jahiliyah kaum wanita dianggap sebagai manusia yang kurang berharga dan kurang berguna bagi kehidupan, bahkan hanya dianggap sebagai pelampiasan nafsu kaum lelaki, sesudah itu habislah peranannya. Bahkan para ayah malu dan merasa aib apabila mempunyai anak wanita. Untuk menghilangkan rasa malu tersebut, mereka mengubur hidup-hidup anak perempuannya. Mereka betul-betul benci kepada kaum wanita, seperti apa yang dilakukan sendiri oleh Umar bin Khattab sebelum masuk Islam, seperti tertulis dalam surat An Nahl ayat 58-59:

 وَإِذَا بُشِّرَ أَحَدُهُم بِٱلۡأُنثَىٰ ظَلَّ وَجۡهُهُۥ مُسۡوَدّٗا وَهُوَ كَظِيمٞ يَتَوَٰرَىٰ مِنَ ٱلۡقَوۡمِ مِن سُوٓءِ مَا بُشِّرَ بِهِۦٓۚ أَيُمۡسِكُهُۥ عَلَىٰ هُونٍ أَمۡ يَدُسُّهُۥ فِي ٱلتُّرَابِۗ أَلَا سَآءَ مَا يَحۡكُمُونَ

“Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah. Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)?. Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu”

Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah.

Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. apakah dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)? Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu.

Kehadiran Nabi Muhammad Saw kedunia dinyatakan oleh Allah sebagai pembawa rahmat bagi semua ummat manusia, termasuk kepada kaum wanita. Sejak itu pula telah dimulai suatu khittah dan tradisi baru bagi kaum wanita dengan diberikannya kemerdekaan dan hak-hak mereka sebagai anggota masyarakat. Derajat wanita terangkat sebagai manusia yang mempunyai sifat lemah lembut. Hal tersebut dinyatakan dalam ayat-ayat Allah dan hadits-hadits Rasulullah Saw.

Sejarah membuktikan bahwa sejak kehadiran Islam itulah, sebenarnya dimulai gerakan-gerakan kemerdekaan dan emansipasi wanita yang diawali oleh Nabi sendiri yang telah mempelopori kemerdekaan dan emansipasi wanita itu dimulai dari keluarganya sendiri, istri-istrinya dan putrinya, sanak keluarga kemudian diteruskan kepada keluarga-keluarga para sahabat. Cukup jelas kiranya dengan menyebutkan beberapa contoh dari istri-istri, putrinya, keluarga para sahabat dan orang-orang yang hidup pada zaman keemasan Islam. Dari mereka dapat diambil suri tauladan bagaimana wanita berperilaku, bagaimana mengurus suami dan bergaul dengan suami, bagaimana mengurus anak-anak dan anggota keluarganya, bagaimana bertindak-tanduk, bagaimana harus belajar, apa saja yang mereka ketahui, bagaimana mengatur rumah tangga, bagaimana betugas diluar rumah, bagaimana membawa diri diwaktu bersama keluarga dan sewaktu berada ditengah-tengah orang banyak dan lain-lain yang ada hubungannya dengan masalah-masalah kehidupan.

Wanita Dalam Islam

Pada masa Rasulullah Saw, sering terjadi perselisihan atau peperangan antara ummat Islam dengan ummat agama lain, dimana wanita menjadi pendamping kaum laki-laki dalam membantu rakyat yang terkena musibah atau luka. Malahan kaum wanita justru memberikan dorongannya yang dapat memberikan keberanian yang luar biasa kepada kaum laki-laki untuk maju terus ke medan perang melawan musuh. Siti Khadijah, istri Rasulullah Saw adalah wanita pertama yang memberikan keberanian dan semangat kepada Rasulullah tatkala beliau merasa sangat takut dan gemetar tubuhnya dikala bertemu dengan Malaikat Jibril di Gua Hira ketika menerima wahyu pertama.

Ketika umat Nasrani membesarkan Maryam sebagai Ibunda Isa As, maka ummat Islam memuliakan dan membesarkan Fatimah sebagai Putri Rasulullah Saw. Setelah putra-putranya wafat, maka kasih sayang beliau dicurahkan sepenuhnya untuk putrinya, “Fatimah”, diajarinya Fatimah Ilmu pengetahuan sehingga tumbuh sebagai wanita bijaksana dan mempunyai kelebihan-kelebihan. Setelah menikah dengan Ali bin Abi Thalib, lahirlah putranya Hasan, Husein dan Mukhsin, namun Mukhsin meninggal sewaktu kecil, sedangkan Hasan dan Husein tumbuh dalam didikan Fatimah dengan sempurna yang kemudian menjadi pemimpin ummat. Fatimah sendiri sering dijadikan contoh oleh Rasulullah Saw ketika memberi nasehat kepada para sahabat-sahabatnya, untuk istri dan anak-anak yang perempuan, Beliau mengatakan “Contohlah Fatimah”.

Kalau dilihat sejarah Islam di Kota Kordova Andalusia (Spanyol), ketika kejayaan Islam mencapai puncaknya, dimana kaum wanitanya hampir tidak ada bedanya dengan pria dalam peranannya berkorban untuk bangsa dan negara. Ummat Islam saat itu dipimpin oleh Raja Abdurrahman Al Nashru yang didampingi istrinya Al Hamra yang cerdas dan bijaksana. Ketika istrinya lebih dahulu meninggal dunia, dia abadikan dengan membangun sebuah istana yang diberi nama istrinya “Al Hamra” untuk mengenangnya. Begitu juga di tanah air kita, muncul Raden Ajeng Kartini. Laksamana Malahayati yang memimpin pasukan armada laut melawan penjajah Belanda, Tjuk Nya’ Dien, Siti Rohana Kudus, Rangkayo Rasuna Said dan lain-lain sebagainya adalah wanita-wanita Muslimah. Hal-hal tersebut diatas merupakan peran sosial mereka diluar rumah. Tetapi dimulai dari hak dan kewajiban mereka sebagai Muslimah atas dirinya, atas suami, anak-anak dan keluarga.

Dalam hal mengangkat derajat kaum wanita dari tata pergaulan, nabi bersabda:

وَالْمَرْأَةُ فِى بَيْتِ زَوْجِهَا رَاعِيَةٌ وَهْىَ مَسْئُولَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا

“Dan wanita menjadi penanggungjawab di rumah suaminya, dia akan dimintai pertanggungjawaban mengenai hal itu.” (HR. Bukhari)

Dalam hal peran wanita ini, Umar bin Khattab mengatakan : “Demi Allah, sewaktu kami berada di zaman jahiliyah, kami tidak pernah mempertimbangkan kaum wanita sama sekali sampai Allah menurunkan ayat-ayat tentang wanita dan memberikan haknya”.

Dalam Al Qur’an wanita diberi tempat khusus dengan memberi satu surat yang disebut surat “An Nisa.” Kalau diperhatikan memang benar, betapa besar peranan kaum wanita dalam hidup ini. Ia melahirkan manusia dan mengasuh anak-anak, dia pula yang mengatur keperluan-keperluan pokok keluarganya. Kalau diperhatikan contoh kehidupan nabi, beliau berada dalam kandungan ibunya sedangkan ayahnya sudah tiada, karena itu dia dilahirkan dalam keadaan yatim. Beberapa tahun kemudian ibunya meninggal dunia, kemudian beliau diasuh oleh seorang wanita muda bangsa Habsyi bernama Ummu Aiman dan disusui oleh Halimatus Sa’diyah. Dalam masa-masa persiapan beliau menjadi Rasul, sejak berusia 25 tahun beliau didampingi istri tercinta Khadijah yang sangat setia membantu perjuangan beliau dengan harta dan jiwanya.

Pada tahun 586 Masaehi, dimana Muhammad menjadi Nabi dan Rasul, bangsa Eropa dan para tokoh agama Kristen masih mempertanyakan dalam diskusi mereka, “Apakah wanita itu dinamakan manusia ?” mereka berkesimpulan bahwa wanita itu manusia tetapi semata-mata dijadikan untuk melayani dan menjadi budak kaum Pria.  Nabi berkata “Wanita itu adalah saudara kembar laki-laki, dan surga itu berada di bawah telapak kaki ibu.”

Kesamaan Derajat Laki-Laki Dan Wanita Di Sisi Allah

Kalau dilihat dari segi kehambaan antara laki-laki dan wanita di sisi Allah yang Maha Adil, maka sesunguhnya Allah tidak membeda-bedakan dua jenis makhluk tersebut. Yang membedakan antara mereka adalah semata-mata perbuatan baik dan perbuatan buruk yang dilakukan oleh masing-masing. Surga dijadikan bukan untuk kaum pria saja, sedang kaum wanita dianggap tidak bisa memasukinya. Seorang Maharaja (Kepala negara) yang mempunyai kekuasaan yang sangat luas dibanding dengan rakyat biasa yang tidak mempunyai apa-apa adalah sama kedudukannya di mata Allah, keduanya sebagai hamba-Nya yang harus bertanggung jawab nanti di hadapan pengadilan-Nya yang Maha Adil.

Laki-laki dan wanita seperti yang disebut di atas tidak dibeda-bedakan, sama-sama berhak masuk surga, sama-sama diperbolehkan turut (partisipasi) berlomba memperoleh kebajikan, mengabdi kepada masyarakat dan agama. Jika kaum pria boleh maju, kenapa wanita tidak? Dasar persamaan antara kaum pria dan wanita ini ditegaskan oleh Allah dalam Surat An Nahl 97 :

مَنۡ عَمِلَ صَٰلِحٗا مِّن ذَكَرٍ أَوۡ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤۡمِنٞ فَلَنُحۡيِيَنَّهُۥ حَيَوٰةٗ طَيِّبَةٗۖ وَلَنَجۡزِيَنَّهُمۡ أَجۡرَهُم بِأَحۡسَنِ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ

“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”

Sungguh sangat rendah tindakan seseorang yang memandang rendah kaum wanita, sehingga terdapat dalam suatu rumah tangga di mana suami taat menjalankan ibadah sedang istrinya tidak tahu sama sekali, suami menjalankan sholat dengan khusu’ dan melakukan puasa dengan teratur sedang istrinya tidak. Anak lelaki disekolahkan dan dimasukkan ke tempat-tempat pendidikan dan pengajian, tetapi anak wanita dibiarkan tinggal di rumah saja, padahal mereka nantinya akan menjadi ibu rumah tangga dan akan menjadi guru/pendidik yang pertama bagi anak-anaknya.

Memang ada jabatan-jabatan penting yang tidak dikurniakan oleh Allah kepada kaum wanita seperti jabatan kenabian dan kerasulan, akan tetapi bukankah yang melahirkan para nabi dan para rasul itu adalah kaum wanita? Begitu juga terhormatnya Maryam ibu nabi Isa as, sehingga disebutkan dalam Al-Qur’an dengan panggilan seorang wanita saleh dan bertaqwa. Demikian juga Asiah dan Mashitah di zaman Fir’aun, Siti Khadijah dan Aisyah di zaman nabi Muhammad Saw dan Rabiah al-Adawiyah di zaman tabi’in (zaman sesudah sahabat).

Banyak lagi kaum wanita yang secara aktif turut menegakkan kebenaran dan memberikan andil dalam usaha perbaikan di dunia: Pada waktu permulaan menegakkan agama Islam, nabi Muhammad dibantu dan didukung oleh istrinya, Siti Khadijah. Sungguh pun bagi kaum wanita kurang dibenarkan; untuk mengendalikan jabatan khalifah baik dilakukan sendirian maupun bersama kaum pria, namun pada permulaan Islam terdapat banyak wanita terpelajar dan terkemuka, bahkan banyak pula di antara mereka yang melebihi kaum pria, seperti Ummul Mukminin (Ibu orang beriman), yaitu istri-istri Nabi Muhammad. Kekurangan yang ada pada diri kaum wanita tidak akan mengurangi derajatnya, karena masih banyak jabatan-jabatan penting yang dapat dipegangnya sesuai dengan kondisi kewanitaannya. Pada umumnya sifat dan kondisi kaum pria lebih kuat dan lebih dapat bersabar dari kaum wanita, karena itu Allah memberikan tanggung jawab kepada kaum pria sebagai pembela kaum wanita. Firman Allah Swt dalam surat An-Nisa ayat 34:    

...ٱلرِّجَالُ قَوَّٰمُونَ عَلَى ٱلنِّسَآءِ بِمَا فَضَّلَ ٱللَّهُ بَعۡضَهُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٖ

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita)…”

Akan tetapi dengan tabiat wanita yang lemah lembut sebagai kurnia Allah dapat dipandang sebagai faktor pengimbang kaum pria dalam kehidupan, wanita dapat melakukan apa yang tidak dapat dikerjakan oleh pria, seperti mengatur rumah tangga, mengasuh anak-anak dan lain-lain.

Demikianlah Allah yang Maha Adil memberikan kelebihan-kelebihan kepada kelompok dan seseorang; ada yang mempunyai kelebihan pandai berbicara seperti ahli pidato, ada yang suaranya merdu seperti penyanyi, ada yang mempunyai keahlian dalam ketajaman pena seperti para pujangga dan lain sebagainya. Oleh sebab itu seseorang tidak boleh iri hati atas kelebihan yang dimiliki atau didapat orang lain, karena pada dirinya sendiri sebenarnya ada kelebihan pula yang tidak dimiliki oleh orang lain.

Wanita adalah guru, dan rumah tangga adalah sekolahan yang akan menghasilkan kesatria-kesatria, cerdik cendekiawan dan pemimpin di masa yang akan datang, karena wanitalah yang banyak tinggal di rumah, mengasuh dan menuntun anak-anak ke jalan yang benar serta menyediakan keperluan suami dan anak-anak, seperti mengatur hidangan makanan, minuman dan pakaian.

Alangkah bahagianya sebuah rumah tangga di mana suami istri dapat menyerasikan tugasnya masing-masing dalam menyelenggarakan rumah tangga. Suami ke luar rumah untuk mencari nafkah/kebutuhan keluarga, sedang istri tinggal di rumah untuk mengatur rumah tangga, karena rumah merupakan medan yang sangat luas bagi kerja kaum wanita. Firman Allah dalam surat Al-Ahzab 33:

وَقَرۡنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجۡنَ تَبَرُّجَ ٱلۡجَٰهِلِيَّةِ ٱلۡأُولَىٰۖ وَأَقِمۡنَ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتِينَ ٱلزَّكَوٰةَ وَأَطِعۡنَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُ

“Dan hendaklah kamu (wanita) tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya…

Sekiranya kaum wanita suka berhias diri dengan menggunakan make-up, lipstik, maka perhiasan batinnya tentu harus lebih dari itu.

Kaum pria yang menjadi pembela,wanita harus menjadi penganjur hal-hal seperti di atas itu kepada anak-anak dan istrinya, sebab budi kaum wanita adalah menjadi budi ummatnya.

Kita mengetahui bahwa dunia ini merupakan kesenangan dan sebagian di antaranya adalah wanita yang saleh, karenanya budi yang baik harus diletakkan di atas kepala wanita sebagai mahkota dengan memberikan pendidikan agama untuk mengangkat derajat dan kehormatan bangsa. Wanita yang berakal sehat adalah wanita yang mau hidup bersama suaminya dan memikul beban serta tanggung jawab, senang sama senang dan susah sama susah.

Istri yang aktif berorganisasi atau menjadi Pegawai

Bagi istri yang aktif dalam organisasi atau menjadi pegawai, ada beberapa hal yang harus diperhatikan, antara lain :

  1. Bila hendak pergi rapat, menghadiri pertemuan atau pergi ke tempat kerja, harus diselesaikan dahulu urusan-urusan rumah tangganya, seperti pakaian suami dan anak-anak, hidangan keluarga dan lain-lain, agar kehidupan rumah tangganya berjalan dengan baik dan tenang. Sebab akan sia-sia bila istri aktif di luar rumah sedangkan keadaan rumah tangganya menjadi berantakan.
  2. Yang harus dihindari oleh istri yang aktif adalah jangan sampai urusan-urusan melayani suami dan anak-anaknya diserahkan begitu saja kepada pembantu, atau malahan diserahkan kepada suaminya; sedang ia sendiri mondar-mandir dari satu tempat ke tempat lain dengan bebasnya, tanpa menghiraukan seluk beluk urusan rumah tangga yang menjadi tanggung jawabnya.
  3. Perlu diingat, akibat ketidak serasian rumah tangga dan pertentangan antara suami – istri yang terus menerus, sering mengakibatkan terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan, bahkan kefatalan dalam rumah tangga.
  4. Istri hendaknya menghindari tingkah laku yang seolah-olah hendak mengeluarkan diri dari perlindungan suami dengan cara mencari pekerjaan di luar rumah tangga, sehingga kebutuhan dirinya tidak perlu dibantu oleh suaminya. Pokoknya kebutuhan maerinya tidak perlu diminta dari suami, dan dengan itu ia tidak mau lagi patuh pada suami dan bebas melakukan kegiatan di luar rumah dengan pakaian-pakaian yang indah, yang selalu ingin menarik perhatin pria lain dengan alasan ingin berbakti kepada masyarakat dan lain-lain.

Bias Jender

Akhir-akhir ini semakin merebak perdebatan tentang ajaran agama yang berkaitan dengan perempuan, terutama dalam ajaran Islam. Banyak orang mempertanyakan yang terkesan Bias Jender. Dalam beberapa tradisi agama ditemukan kesan mendiskreditkan perempuan, jika terjadi razia maksiat mesti yang terjaring adalah perempuan. Bapak-bapak lebih banyak menyalahkan perempuan. Ajaran Islam secara normatif mengajarkan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan. Hal ini mengandung tanda tanya besar bagi pemeluknya, apakah kesalahan terletak pada tekstualnya atau pada cara memahaminya ? Mungkinkah Islam mengajarkan prinsip kesetaraan itu memuat hal-hal yang kontradiktif, seperti memandang rendah terhadap perempuan. Diperlukan kajian yang mendalam tentang ajaran Islam dari aspek-aspek tekstual dan kontekstual.

Pembicaraan kesetaraan sering dikaitkan dengan emansipasi. Sementara hal itu masih diperdebatkan. Apakah emansipasi berarti kesetaraan? Ada yang mengatakan emansipasi itu tidak perlu lagi dibicarakan karena sejak awal Islam telah memberikan kesetaraan. Disisi lain ada yang memaknai dengan “persamaan” yang identik dengan produk pemikiran barat yang menyesatkan seperti tercermin dalam bentuk kebebasan, yang dilabelkan dengan gerakan “Women Liberation”. Dalam gerakan ini perempuan memiliki hak-hak yang sama dengan laki-laki, yang kadangkala diluar batas kodrat dan harkat perempuan. Hal ini menimbulkan ketakutan dan ancaman bagi ummat Islam. Menerima konsep kesetaraan dari para Feminis Muslim yang diasumsikan memiliki kesamaan pandangan dengan “Women Liberation”. Inilah yang perlu diwaspadai bahwa dalam ajaran Islam kesetaraan tidak sama dengan kebebasan.

Editor: tamam