Oleh : Taufik Hidayat, MA  | Wasekjen Dewan Da’wah Pusat

Beberapa lembaga survey kredibel melalui quick count-nya telah mendeklarasikan kemenangan Anies-Sandi dengan selisih angka yang cukup telak. Kemenangan ini mengindikasikan beberapa hal yang perlu kita ambil hikmah nya, Kemenangan Anies-Sandi merupakan sebuah pertolongan dari Allah SWT, karena jika menggunakan logika kekuasaan, maka Anies-Sandi tentu berada pada posisi yang tidak menguntungkan. Publik mungkin mafhum, bahwa aparatur negara cenderung berpihak dan membiarkan dengan leluasa para pendukung Ahok-Djarot melakukan berbagai pelanggaran dan kecurangan kampanye, belum lagi dengan aksi pamungkas mereka melalui pembagian sembako.

Publik telah mencatat bagaimana terdakwa penista agama tidak diberhentikan dari Jabatan Gubernurnya oleh Mendagri dengan maksud agar Ahok leluasa berkampanye walaupun pakar tata negara sekelas Mahfud MD berkali-kali menyatakan Ahok harus ditahan, belum lagi keberpihakan media mainstream yang selalu mengembar gemborkan kinerja Ahok selama berkuasa walaupun tidak ada yang istimewa dari kinerja tersebut, Dengan dana yang cukup berlimpah, secara logika seharusnya Ahok-Djarot menguasai medan pertempuran dengan “senjata” handalannya tersebut.

Tetapi, Ahok-Djarot tidak paham bahwa pilkada DKI Jakarta ini bukan seperti pilkada biasa, Publik terutama ummat Islam telah mengkategorikan pilkada DKI Jakarta selayaknya Jihad Fi Sabilillah seperti Perang Badr dimana kekuatan jumlah pasukan, uang dan kekuasaan tidak mampu mengalahkan pertolongan Allah yang diturunkan seperti perang Badr pada lima belas abad yang silam (QS. Al-Anfal : 17). Turunnya pertolongan Allah ini karena ikhtiar dan doa ummat Islam yang terus menerus dilakukan.

 

Cagub  Anies Baswedan, P.hd bersama Ketua Umum Dewan Da’wah  Drs. Mohammad Siddik,MA saat kunjungan ke Dewan Da’wah beberapa waktu yang lalu

Pertolongan Allah disini bisa berbentuk banyak hal Pertama, kekuatan opini jalanan yang dibangun melalui serial demonstrasi yang dipimpin oleh para ustad sekelas Habib Rizq dan Bachtiar Nasir telah mampu mengalahkan media mainstream yang seringkali tidak peduli kepada aksi aksi yang diakukan oleh Ummat Islam atau kalaupun meliput dengan bahasa yang “miring”.

Demonstrasi dengan jumlah yang sangat besar tidak pernah tercatat dalam sejarahnya di Indonesia seperti aksi 212 , Pertolongan Allah pada aksi tersebut terlihat nyata dimana ummat Islam dengan hati yang lapang mau berkorban duit, tenaga dan waktu hanya untuk datang ke aksi tersebut, belum lagi keteduhan langit yang membuat suasana pada aksi tersebut terlihat sejuk dan diturunkan hujan untuk membuat suasana pengap menjadi segar akibat jumlah massa yang cukup besar.

Kedua, peristiwa penghinaan gubernur NTB ketika mengantri di Bandara Singapura oleh Steven membuka kesadaran pribumi terutama ummat Islam bahwa warga etnis tionghoa yang tinggal di Indonesia selama ini ternyata punya persepsi yang “menghinakan” terhadap pribumi / ummat Islam. Istilah “Tiko” atau “Indon” yang bermakna derogatif dan tak pantas dilabelkan kepada Gubernur NTB yang jelas nasab dan ketokohannya. Peristiwa ini terjadi cukup dekat dengan hari pencoblosan 19 April dan menjadi viral di media sosial. Fakta ini tidak dapat di poles oleh Buzzer Ahok karena isu nya sangat sensitif dan terdapat bukti tertulis yang diakui sendiri oleh Steven.

Bagi penulis, ini bukanlah hal yang kebetulan, objek penghinaan langsung kepada orang terpandang yaitu Gubernur yang menyebabkan efek viral nya sangat cepat di media sosial merupakan pertolongan Allah selayaknya mukjizat. Di tengah para pendukung Ahok ingin menunjukkan bahwa etnis Tionghoa dapat memimpin Jakarta sekedar fungsi administrator tetapi ternyata ada hal lain yang Allah ingin tunjukkan kepada pribumi di Indonesia atau di Jakarta bahwa persepsi negatif terhadap pribumi masih ada di kalangan etnis tionghoa.

Kesadaran ini menjadi penambah suara secara tidak langsung dari pribumi yang kebetulan non-Muslim, etnis etnis yang mayoritas warganya adalah non-Muslim seperti etnis Batak, Ambon, Maluku, NTT dll. mulai sadar bahwa seberapapun mereka mendukung etnis tionghoa tetap saja mereka dikategorikan  sebagai pribumi yang dilabelkan sebagai “tiko” atau “indon”.

Ketiga, pembagian sembako oleh timses Ahok-Djarot menjadi blunder di masa tenang, beberapa kali hasil survey menyebutkan bahwa pendukung Anies-Sandi dilabelkan sebagai pemilih emosional sedangkan pendukung Ahok-Djarot dilabelkan sebagai rasional, tetapi dengan pembagian sembako secara massif dan vulgar menyebabkan label sebagai kubu “rasional” menjadi senjata makan tuan. Bagaimana mungkin kubu rasional melakukan aksi aksi irrasional, begitulah yang terjadi pada pikiran publik.

Tak pelak aksi ini menjadikan pemilih ahok yang rasional berpikir ulang untuk tidak memilih atau beralih pilihan ke Anies-Sandi. Sekali lagi ini merupakan bentuk pertolongan Allah dengan memasukkan rasa takut, panik dan  gentar ke kubu pendukung Ahok sehingga mereka melakukan cara cara yang sudah tidak lagi rasional dan tidak peduli dengan aturan hukum di masa tenang.

Masih banyak indikator indikator pertolongan Allah lainnya yang tentunya di luar logika kita, yang jelas, kemenangan Anies-Sandi merupakan pertolongan Allah akibat dari persatuan ummat yang melakukan ikhtiar bersama sama dan berdoa bersama dengan jumlah jutaan orang untuk mengalahkan penista agama yang tidak pantas memimpin ummat Islam di DKI Jakarta.

Ini bukan merupakan kemenangan tim sukses, strategi konsultan politik, prabowo, habib rizieq maupun relawan, tetapi kemenangan yang Allah berikan kepada ummat Islam di Jakarta maupun di Indonesia di mana rakyat di luar Jakarta juga ikut berpesta pora menyambut kemenangan ini hingga ada yang masak nasi kuning hanya untuk syukuran kemenangan Anis-Sandi.

Apa selanjutnya yang harus kita lakukan untuk menjaga pertolongan Allah agar tetap ada. Persatuan ummat Islam harus tetap dijaga dibawah kepemimpinan ulama dan tokoh yang berniat ikhlas dan lurus. Musuh ummat Islam sekarang adalah pendangkalan Aqidah, ketidakadilan, penegakan hukum yang tebang pilih, sekulerisasi dan liberalisasi kehidupan, korupsi yang merajalela, kemiskinan dan kebodohan. Jika saja perjuangan untuk mengalahkan Ahok diduplikasi untuk mengalahkan musuh musuh yang disebutkan diatas, tentunya ummat Islam di Indonesia akan menjadi ummat teladan dan contoh di dunia. Semoga saja Allah terus mencurahkan pertolongannya kepada Ummat Islam. Wamakaruw Wamakarallah Wallahu Khoirul Maakirin.