Sebagai ikhtiar memulihkan lahan kritis di hulu Sungai Cimanuk, Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (Dewan Dakwah) bersama Serikat Tani Islam Indonesia (STII) Jawa Barat dan Dinas Perkebunan Kab Garut, menyelenggarakan Dialog Lingkungan bertema ‘’Hieumkeun (Rindangkan) Hulu Cimanuk’’ di Balai Pertemuan Tani Mukti Kampung Cuburuy, Desa Cipaganti, Kec Cisurupan, Kab Garut, Ahad (9/10) pagi.

Dialog diikuti seratusan petani dari Desa Cipaganti, Pangauban, dan Sirnajaya yang tergabung dalam kelompok tani binaan Dinas Perkebunan dan STII Garut.

Mereka tercengang menyaksikan rekaman video banjir bandang yang menghempas ‘’Kota Dodol’’. Berulangkali petani berdecak, mendesis, atau berkomentar lirih, menyimak film dokumenter yang ditayangkan Posko LAZIS Dewan Dakwah.

‘’Masya Allah, pikasieuneun pisan (mengerikan sekali),’’ desis Janjan, warga Cipaganti. ‘’Hii, kuring sieun (takut saya),’’ gumam Ny Ninih,  warga Desa Pangauban, sambil bergidik.

Banjir bandang itu memang bencana terbesar dalam sejarah Kabupaten Garut maupun Sungai Cimanuk.

‘’Tsunami’’ setinggi 8 meter akibat luapan air Sungai Cimanuk di Kabupaten Garut, Selasa (20/9/2016) malam, menyebabkan kerugian jiwa, fisik, harta, bangunan, infrastruktur, dan lahan pertanian di 7 kecamatan plus 2 kecamatan lain. Meliputi Kecamatan Bayongbong, Samarang, Tarogong Kidul, Garut Kota, Karangpawitan, Wanaraja, dan Kecamatan Banyuresmi.

‘’Cikajang dan Pasirwangi juga terkena imbas bencana, meskipun tidak secara resmi masuk dalam kecamatan terdampak,’’ tutur Agung Gumelar, ketua Posko LAZIS Dewan Dakwah.

Data korban meninggal dunia di Posko Tanggap Bencana Makodim 0611 Garut mencapai 36 orang dan 19 orang lainya masih dilaporkan hilang. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, bahwa  35 orang luka-luka dan 6.361 orang mengungsi. Sebanyak 2.049 rumah rusak yang meliputi 283 rumah hanyut, 605 rumah rusak berat, 200 rumah rusak sedang, dan 961 rumah rusak ringan.

Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Garut melaporkan, luas lahan pertanian yang terkena banjir bandang mencapai 126 ha. Terdiri 118 ha yang merupakan areal sawah padi dan 8 ha lahan tanaman jagung. Kerugian produksi yang diakibatkan bencana ini diperkirakan mencapai 672.000 kg gabah kering panen dan 56.000 kg jagung. Taksiran kerugian ekonomi akibat bencana ini di sektor pertanian mencapai Rp2,8 milliar.

Menurut Sekretaris Umum STII Jabar, M Hafiz Azdam, banjir bandang disebabkan kerusakan lahan di hulu dan DAS (daerah aliran sungai) Cimanuk yang dipicu hujan lebat sekitar 2 jam berturut-turut.

Kepala Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Jawa Barat, Anang Sudarna, mengungkapkan, penyebab kerusakan lingkungan di hulu Sungai Cimanuk yang memiliki luas 16.367 ha, adalah aktivitas pertanian, wisata alam, tambang dan geotermal.

Dalam konferensi pers banjir longsor Garut dan Sumedang, di Jakarta, Rabu (21/9), Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Sutopo Purwo Nugroho menjelaskan, sedimentasi (pengendapan) di DAS Cimanuk 6.350 ton per km persegi per tahun. Volume sedimentasi tahunan yang mendangkalkan Cimanuk mencapai 12,7 juta meter per tahun.

“Koefisien rezim sungai (KRS) Cimanuk mencapai 713, paling besar dari sungai lain di Jawa. Setiap hujan cepat terjadi banjir dan langsung surut. Saat musim kemarau jadi kering,” papar Sutopo.

Oleh karena itu dalam sambutannya pada dialog dengan petani di kaki Gunung Papandayan tadi, Ketua Umum Dewan Dakwah Moh Siddik MA, mengajak untuk meningkatkan akhlak terhadap lingkungan.

‘’Setiap bencana, pasti tidak lepas dari pengaruh perilaku manusia. Karena itulah, dengan bencana ini, kita harus bermuhasabah, introspeksi diri,’’ tandas Siddik sambil mengutip firman Allah SWT dalam Surat 30 (Ar Rum) ayat 41:

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”

Ketua Umum Dewan Dakwah yang didampingi Direktur Ekseutif LAZIS Dewan Dakwah, Ade Salamun, kemudian menyerahkan bantuan dana stimulasi pembinaan petani kepada STII Jabar yang diterima Sekum M Hafiz Azdam.

Bantuan berupa seratus paket sembako dari Posko LAZIS Dewan Dakwah juga dibagikan untuk para petani.

Sedang Sekjen Pengurus Besar STII Faturrahman Mahfudz pada kesempatan itu menyampaikan secara simbolik bantuan tahap pertama berupa 5.000 bibit pohon kopi dari Dinas Perkebunan kepada Ketua STII Garut, Nanang SAE.

Untuk mengefektifkan pembinaan petani, dalam acara itu juga dikukuhkan pengurus STII dan gugus depan petani Garut oleh PB STII.

Dialog berakhir dengan penanaman bibit pohon kopi oleh Ketua Umum Dewan Dakwah, Sekjen Pengurus Besar STII, dan Sekum STII Jabar, disaksikan para peserta.