Suatu ketika terjadi sebuah peristiwa dizaman Rasulullah SAW. Seorang wanita dari suku Bani Makhzuum, satu rumpun dengan suku Quraisy, terbukti melakukan tindakan pencurian. Suku Bani Makhzuum sebagaimana halnya adalah merupakan bahagian dari suku Quraisy. Suku terbesar dikalangan bangsa Arab saat itu, merupakan kelompok orang-orang terpandang. Tokoh-tokoh masyarakat Arab terkemuka, banyak berasal dari suku Bani Makzhuum atau Quraisy. Dari suku Bani Makzhuum inilah panglima Islam Khalid Ibnu Walid berasal, dan dari suku Quraisylah nabi Muhammad dilahirkan.
 
Kebanggaan kepada suku dan Qabilah merupakan ciri istimewa bangsa Arab sebelum Nabi Muhammad diangkat menjadi Rasul. Mereka mudah tersinggung apabila Qabilahnya dibicarakan orang. Mereka gampang melakukan pertumpahan darah, bilamana Qabilahnya direndahkan orang. Kebanggan kepada Qabilah dan suku menyebabkan mereka menutup mata terhadap aib dan kesalahan diri sendiri.
 
Inilah yang menyebabkan ketika seorang wanita dari Bani Makzhuum terbukti melakukan tindakan pencurian. Seorang wanita dari sebuah qabilah terpandang. Rasa harga diri (mungkin juga rasa malu) menyebabkan mereka cemas dan khawatir, kalau-kalau peristiwa ini sampai ketelinga Rasulullah, tentu arang akan tercoret dikening mereka, hukum harus ditegakkan, tangan wanita Bani Makzhuum harus dipotong.
 
Melalui Usamah bin Zaid mereka mencoba mendekati. Usamah adalah orang yang dekat dengan Rasulullah. Beliau digelari “Hibbu Rasulullah”, pecinta Nabi. Mereka berharap, melalui Usamah ini kiranya Nabi bersedia memberikan “Syafa’ah”nya (semacam grasi).
 
Dengan mata merah, air muka berubah, Rasulullah berang membantah : “Apakah kepadaku kalian minta syafaah tentang satu hukum dari hukum-hukum Allah?”. Usamah menjadi kecut dan salah tingkah. Kemudian Rasulullah berdiri dan berkata : “Inilah yang menyebabkan binasanya bangsa-bangsa sebelum kamu, apabila yang melakukan pencurian (penyelewengan) itu orang-orang yang terpandang, mereka biarkan”. Mereka beri toleransi, berlaku peraturan khusus. Masyarakat Jahiliyyah membagi manusia kepada : Kelompok “sayyid” dan kelompok “abid” atau “khadim”, kelompok majikan, orang terpandang dan kelompok budak dan pelayan.
 
Akan tetapi kalau yang melakukan pencurian (penyelewengan) itu orang-orang lemah dan nestapa, mereka tegakkan hukum. “Maka demi Allah,” jawab Rasulullah. “Seandainya Fatimah binti Muhammad yang melakukan pencurian (penyelewengan), pasti kupotong tangannya”.
 
Cermin dari ketegasan sikap dan keadilan hukum Islam. Seorang anak kesayangan Rasulullah, berkembang, tumbuh dan besar diharibaan rumah tangga Rasulullah. Jauh dari kemungkinan kekeliruan dan kesalahan. Namun dengan tegas Rasulullah berkata : “Jika mencuri, akan kupotong tangannya”. Jawaban yang memberikan gambaran betapa keadilan, persamaan, kemanusiaan harus dijunjung tinggi.
 
*oleh : Ustad Amlir Syaifa Yasin