Pra Pengesahan UU Pesantren Dan Pendidikan Keagamaan, Dewan Da’wah Usulkan Agar Memenuhi Asas Keummatan Dan Berkeadilan

Dewan Da’wah News, Jakarta – Rancangan Undang-Undang Pesantren dan Pendidikan Keagamaan saat ini sedang dimusyawarahkan bersama pihak-pihak terkait, khususnya lembaga atau organisasi yang memiliki badan pendidikan berbasis pesantren dan agama. Dewan Da’wah berkesempatan hadir dan mengutarakan pikiran agar UU terkait yang dihasilkan lebih mapan.

Perwakilan komponen Islam lainnya turut hadir di antaranya, Muhammadiyah, Persatuan Islam, Nahdlatul Ulama, Al-Irsyad, Al-Washliyah, Mathla’ul Anwar dan lain-lain.

Atas nama pimpinan umum, Dewan Da’wah mengutus Dr. Teten Romly Qomaruddien, MA (Pusat Kajian Dewan Da’wah) untuk hadir dan berbicara serta dengar Pendapat Komisi VIII DPR RI di Gedung Nusantara 2 Komplek DPR/ MPR-RI, Jakarta, Selasa (27/8/2019).

Adapun poin-poin usulan Dewan Da’wah adalah sebagai berikut:

1. Pendefinisian Pesantren

Sebagaimana tertuang dalam analisa populer para peneliti, bahwa yang disebut “pesantren” wajib memenuhi lima rukun; keberadaan kyai, santri, masjid, bangunan pondok dan adanya kitab kuning.

Berkaitan hal tersebut Dewan Da’wah memandang, dalam praktek kebijakannya hendaknya UU tersebut lebih mengedepankan rasa keadilan, di antaranya dalam pendefinisian pesantren antara salafiyyah dan ghair salafiyyah (selain salafiyyah), yakni pondok tradisional dan non tradisional. Mengapa hal ini dianggap penting, karena banyak ormas-ormas Islam yang memiliki lembaga keagamaan yang mungkin masih kurang dari rukun di atas.

Adapun terkait literatur, selain kitab kuning hendaknya UU tersebut  memberikan ruang yang cukup dalam mendorong pengkajian literatur ketokohan, di mana hal ini sangat penting dalam menghadirkan kembali keteladanan mereka sebagai tokoh ummat dan bangsa.

2. Kelembagaan Pesantren dan Pendidikan Keagamaan

Di antara kelembagaan pesantren yang memuat di dalamnya materi pendidikan, dakwah dan pemberdayaan. Maka Dewan Da’wah memandang ketiga unsur ini tidak lepas dari upaya tafaqquh fid dîn dan tafaqquh fin nâs, yaitu memahami agama secara mendalam dan juga memahami manusianya secara seksama sebagaimana dicetuskan Allâhuyarham Dr. Mohammad Natsir sebagai tokoh Pendidikan Islam Integral. Adapun pemetaannya, Dewan Da’wah menyebut dengan istilah benteng ummat atau bengkel ummat yang meliputi masjid, pesantren dan kampus.

Karena itulah, Dewan Da’wah memohon kiranya unsur-unsur tersebut mendapatkan penguatan kembali sebagai tempat perubahan dan pembinaan kader ummat serta bangsa yang mendapatkan perlindungan undang-undang dalam menjalankan aktivitasnya.

3. Visi-Misi Pendidikan Keagamaan

Visi-misi pendidikan dalam pandangan Dewan Da’wah, tidak dapat dilepaskan dari visi-misi dakwah yang telah menjadi rumusan pokok, sifat dan fungsi dakwah, baik bersifat bimbingan pendidikan (binâan) dan bersifat penangkalan dari segala hal yang menyimpangi agama Islam (difâan). Menurut Dewan Da’wah, dua sifat ini menjadi sangat penting apabila mendapatkan penguatan sebagai fungsi pengawalan ajaran agama demi lahirnya insan yang bertauhid dan bertanggung jawab pada agamanya.

4. Karakteristik Pendidikan

Pada prinsipnya, apa yang dirumuskan dalam Rancangan undang-undang Pesantren dan Pendidikan Keagamaan ini, Dewan Da’wah sangat mengapresiasi selama dapat mengokohkan dan memenuhi rasa keadilan dan menjunjung tinggi keummatan. Menurut Dewan Da’wah, karakteristik pendidikan keagamaan yang harus dibangun tersebut, hendaknya tidak lepas dari semangat ke-Islaman dan semangat ke-Indonesiaan. Adapun karakteristik yang dimaksud, terbingkai dalam poin-poin berikut ini:

a. Mengawal akidah ummat.

b. Menegakkan syariat Islam.

c. Merekat ukhuwwah Islamiyyah.

d. Menjaga keutuhan NKRI, dan

e. Mendukung solidaritas dunia Islam.

5. Harapan dan Penutup

Dengan sangat penuh harap, semoga RUU yang tengah digodok ini dapat melahirkan hukum  yang lebih optimal; berkeadilan, beradab dan memenuhi harapan demi terwujudnya cita-cita pendidikan yang menjunjung tinggi ketuhanan dan memelihara semangat kebangsaan.

Reporter: Rom

Editor: Tamam