Muraqabatullah yaitu sikap selalu sadar bahwa dirinya dalam pengawasan Allah adalah hamba yang selalu mawas diri akan rasa syukur dari nikmat-nikmat Allah sehingga menjadi barometer atas setiap tindakannya, menjauhkan diri perbuatan yang akan mendatangkan kemarahan Allah, dan selalu memaafkan kesalahan orang lain. jika hal ini dapat betul-betul disadari, maka hatinya akan selalu berada pada derajat ini dalam segala perbuatannya. Jika ia lupa, hatinya akan mengembalikannya kepada kesadaran tersebut, dengan izin dari Allah. FirmanNya:

وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي أَنْفُسِكُمْ فَاحْذَرُوهُ ۚ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ غَفُورٌ حَلِيمٌ

“… Ketahuilah bahwa Allah mengetahui apa yang ada di dalam hatimu, maka takutlah kepadaNya” (QS. Al Baqarah: 235)

Mungkin kita dapat berpura-pura sholat berlama-lama demi mendapatkan perhatian dari atasan kita, atau sengaja berpuasa senin kamis saat ada undangan dan mengatakan “saya sedang puasa” demi dapat pujian paling alim bahkan mengatasnamakan “Hamba Allah” dalam catatan infaq shodaqoh kemudian menceritakannya pada agar dirinya dianggap sebagai tauladan.

Kasus-kasus di atas adalah oknum hamba yang senantiasa lupa bahwa dirinya sedang diawasi oleh malaikat sang pencatat amal dan lupa bahwa kelak akan dipertanggungjawabkan atas semua perbuatan bahkan kulitpun akan berbicara.

حَتَّىٰ إِذَا مَا جَاءُوهَا شَهِدَ عَلَيْهِمْ سَمْعُهُمْ وَأَبْصَارُهُمْ وَجُلُودُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Sehingga apabila mereka sampai ke neraka, pendengaran, penglihatan dan kulit mereka menjadi saksi terhadap mereka tentang apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Fushshilat: 20)

Pengawasan Allah bukan berarti kita selalu “dituntut” tapi juga bermakna kita selalu “dilindungi” oleh sebab itu rasa ikhlas dalam menjalani ibadah kehidupan sangat diutamakan. Memang tidak dipungkiri mempraktekkan nilai-nilai kebaikan seperti sabar, syukur, mendahulukan orang lain, rendah hati dan lain-lain sulit kalua dirasa dituntut, tapi cobalah tanamkan dalam diri bahwa kita sedang diperhatikan dan dilindungi oleh Allah.

لا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا

“Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita” (QS. At Taubah: 40)

Mudah-mudahan kita tidak termasuk hamba yang saat sendiri berani bermaksiat dan berusaha khusyuk saat di kerumunan orang banyak.[kanzen]