Bendera ini awalnya dirancang oleh seorang seniman asal San Fransisco bernama Gilbert Baker pada tahun 1978. Ide ini muncul ketika seorang gay bernama Harvey Milk meminta Baker membuat bendera untuk gerakan dukungan hak-hak gay dalam parade kota.

Baker yang juga mahir menjahit membuatkan bendera tersebut dibantu 30 orang untuk mewarnai dan menjahit bersama. Warna pelangi dipilihnya sebagai pilihan yang jelas. Ia menyebut warna pelangi sebagai bagian dari magis alam dan keindahan.

Menurutnya, pelangi adalah aspek untuk mewakili keberadaan LGBT ini lebih tepatnya mewakili semua jenis kelamin dan ras.

Bendera asli memiliki delapan garis masing-masing pink, merah, oranye, kuning, hijau, biru kehijauan, nila dan ungu akhirnya selesai dibuat. 

Baker menyebut arti untuk setiap warna misalnya, jeruk diwakili penyembuhan dan pink mewakili seksualitas. Dia kemudian memproduksi lebih banyak pada salah satu perusahaan bendera di San Francisco.

Parade mengibarkan bendera pelangi di San Francisco merupakan kebanggaan setiap tahun dan segera menjadi simbol untuk acara tersebut. 

Seiring berjalannya waktu, bendera menjadi ikon global. Pada tahun 1986 bendera ini dirsmikan oleh Asosiasi Bendera Internasional sebagai simbol LGBT.

Desain ini bahkan juga telah diadopsi sebagai bendera resmi untuk komunitas gay dan lesbian di Kerajaan Coral Sea Islands, sekelompok kecil di pulau yang resmi dinyatakan sebagai republik pada tahun 2004.

Awalnya, Baker membuat beberapa versi bendera pelangi. Pertama versi delapan warna, sementara yang kedua menghilangkan warna pink. Namun saat ini yang paling terkenal adalah enam garis dengan dihapusnya juga warna biru kehijauan agar memiliki garis yang sama rata.

Bendera pelangi itu memiliki beberapa arti, yaitu Hot pink: Seksualitas, Merah: Hidup, Jingga: Penyembuhan, Kuning: Sinar Matahari, Hijau: Alam, Pirus: keajaiban/seni, Nila/Biru: Ketenangan/Keselarasan, Ungu: Semangat

Namun karena saat itu hot pink bukanlah warna yang lazim digunakan pada bendera, Baker mengibarkan bendera dengan 7 warna dengan menghilangkan warna tersebut.

Di tahun 1979, warna bendera ini diubah lagi. Bendera ini akhirnya dibuat supaya jumlah warnanya genap yaitu 6 warna. Maka warna pirus dan indigo/biru dihilangkan dan diganti warna biru kobalt.

Hingga saat ini bendera 6 warna itulah yang menjadi ikon eksistensi keberadaan komunitas LGBT di seluruh dunia yang di mana pada masing-masing warna memiliki arti tersendiri; Merah: Hidup dan seksualitas, Jingga: Penyembuhan dan persahabatan, Kuning: Vitalitas dan energi, Biru kobalt: Keselarasan dan karya seni, Ungu: Semangat dan rasa syukur.

Pembaca bisa membayangkan sudah sangat lama mereka ingin menunjukkan eksistensi mereka baik di mata manusia normal dan hukum negara di seluruh dunia. Untuk bendera saja mereka sangat serius apalagi mengajak orang-orang di sekitarny menjadi bagian dari mereka.

Sumber:

http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/15/06/29/nqp8mv-asal-mula-bendera-pelangi-jadi-simbol-kaum-lgbt

http://www.bintang.com/lifestyle/read/2263880/sejarah-bendera-pelangi-simbol-bagi-para-lgbt-seluruh-dunia