Sejarah Bersatunya Seluruh Negara Bagian Indonesia

Dewan Da’wah News, Tambun – Sebuah bangsa yang ingin besar maka rakyatnya harus bisa menghargai sejarah.

Hal tersebut disampaikan oleh ketum PP Pemuda Dewan Da’wah saat memberi sambutan di acara Seminar Nasional Mosi Integral Natsir 03 April 1950 dengan tema “Merawat NKRI Menyiapkan Generasi” di Gedung Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah (STID) Mohammad Natsir, Tambun, Rabu (3/4/2019).

Dalam acara tersebut hadir sejumlah pembicara di antaranya, Drs. Lukman Hakiem penulis buku-buku Masjumi, Dr. pepen Irfan Fauzan, M. Hum, Tenaga Ahli BAPPENAS dan Hadi Nur Ramadhan aktivis muda Dewan Da’wah.

Lukman Hakiem menceritakan sejarah bersatunya negara-negara bagian menjadi NKRI.

Saat Jepang menyerah kepada Indonesia, seharusnya negara ini diserahkan kepada sekutu Jepang yaitu Amerika akan tetapi karena Amerika sibuk dengan penaklukkan Jepang maka urusan Indonesia diserahkan kepada tentara Inggris. Inggris adalah negara sekutu Amerika saat Perang Dunia II dan diperintah Jenderal Amerika untuk menangani Indonesia, akhirnya Inggris menerima perintah tersebut dengan terpaksa,  mendadak dan tanpa persiapan matang.

19 september 1945 tentara Inggris merapat ke Tanjung Priuk Inggris hanya membawa tiga batalion pasukan.

Jadi antara 17 Agustus sampai 19 September 1945 terjadi vakum penjajahan, nah momen tersebut dimanfaatkan oleh tokoh-tokoh bangsa (Soekarno-Hatta) untuk memproklamirkan kemerdekaan Indonesia. Administrasi pemerintah tetap berjalan terutama di Jakarta.

Saat sudah merapat ke Pelabuhan Tanjung Priuk, Jenderal Inggris menghadap walikota Jakarta Raya, Suwiryo untuk meminta bantuan perihal kebutuhan saat sudah sampai ke Tanjung Priuk.

Dikarenakan Inggris menyadari adanya pemerintahan di Jakarta, maka secara defacto Inggris mengakui Republik Indonesia.

Tetapi apa yang disebut Indonesia belum jelas. Di Jakarta pemerintahan berjalan efektif, tapi di Indonesia Timur masih dikuasai Belanda sehingga rencana penyatuan negara-negara bagian itu masih di awang-awang.

“Jadi yang namanya negara kesatuan waktu itu masih jadi cita-cita,” kata Lukman

Tokoh-tokoh bangsa berusaha mencari cara untuk mempersatukan bangsa-bangsa. Perdana Menteri, Sutan Syahrir mau berunding dengan Belanda.

“kata Pak Natsir berunding dengan Belanda itu bukan untuk memperoleh hasil seketika (persatuan negara), tapi untuk membawa suara republik ini ke dunia internasional,” ujar Lukman.

Sehingga kalau Indonesia sudah diakui oleh dunia internasional jika ada penyerangan dari negara lain khususnya Belanda, negara tersebut akan ditekan oleh dunia internasional.

Maka diselenggarakanlah Perjanjian Linggarjati yaitu perjanjian antara Indonesia-Belanda yang saling bersepakat untuk membentuk Negara Republik Indonesia Serikat (RIS) momen ini terjadi pada 1947. RIS sendiri terdiri dari tiga negara bagian yaitu Republik Indonesia Yogyakarta, Negara Indonesia Timur dan Negara Kalimantan. Kemudian yang awalnya tiga bertambah menjadi 16 negara bagian.

Kemudian RIS yang dibawahi oleh Ratu Kerajaan Belanda secara resmi mengakui kedaulatan dan RIS pada 29 Desember 1949.

4 Januari 1950 ada demonstrasi di Negara Malang, mereka meminta melepaskan diri dari Negara Bagian Jawa Timur dan meminta bergabung ke Negara Indonesia di Yogya.

Pada tanggal 17 Januari 1950 rakyat Bekasi mengeluarkan resolusi yang isinya tidak mengakui semua kekuasaan selain dari kekuasaan Negara Republik Indonesia. Pada tanggal 30 Januari dan Maret 1950 Sukabumi, Tasikmalaya dan Garut mengambil sikap yang sama seperti Bekasi dan masih banyak lagi masalah-masalah negara bagian.

Kemudian Pak Natsir berkeliling Indonesia untuk mensosialisasikan mosi integralnya hingga akhirnya diterima oleh seluruh daerah dan menjadilah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Ini ustadz lho yang bikin NKRI,” pungkas Lukman.