Majalah yang memelihara sastra dan menyuarakan aksi lewat kesenian ini lahir dengan edisi pertama pada 1 Juli 1966.

Sekarang majalah tersebut sudah genap berumur 50 tahun dalam percaturan sastra nasional dan hingga hari ini meski tidak semua para pendirinya ada namun majalah ini terus lekang tak dimakan zaman.

Hal tersebut disampaikan oleh Taufik Ismail dalam sambutannya pada peringatan 50 tahun Horison di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Selasa (26/7/2016).

Dalam kesempatan tersebut turut diresmikan peluncuran situs Horison (http://www.horison-online.com) artinya Horison cetak berhenti diproduksi. Namun meski begitu Taufik Ismail meyakinkan Horison akan tetap hidup.

Sedangkan para pendiri majalah legendaris itu saat beberapa sudah tiada dari empat orang tinggal dua. Para pendirinya adalah Mochtar Lubis (1922-2004), P.K. Ojong (1920-1980), Zaini (1924-1977) dan dua orang lainnya yang menjadi saksi pergantian majalah tersebut menjadi media daring saat ini adalah Arief Budiman (1940) dan Taufik Ismail (1935).

“Arief Budiman tidak sempat hadir karena sakit dan berada di Salatiga, dia berkirim salam kepada kita semua,” pungkas Taufik.[tamam]