Tabligh akbar ini menghadirkan Syaikh Ghayyats Abdul Baqi, wakil dari Syirian Society Humanitarian Relief and Development. Ia menguatkan penjelasan berita-berita yang tersebar di media massa tentang Suriah. “Rezim Basyar Assad itu tidak jauh berbeda dengan pemerintahan Firaun pada zaman Nabi Musa”.  Dalam kurun waktu 19 bulan, lebih dari 14 ribu penduduk Suriah mengungsi ke Turki. Sebanyak 36.295 korban tewas sejak Februari 2011.

 

Menurut Syaikh Ghayyats, sebenarnya Rezim Syiah Basyar Assad adalah rezim pengecut. Mereka membalas perlawanan warga Sunni dengan roket dan tank baja.

Syeikh Ghayyats menceritakan, melihat kediktatoran Basyar Assad, seorang siswa sekolah dasar menulis di tembok sekolahnya “Diamlah Wahai Basyar Assad! Turunlah dari pemerintahanmu.” Siswa sekolah dasar ini kemudian ditangkap, disiksa, disetrum sampai tewas.

 

“Pemuda-pemuda yang melakukan perlawanan ditangkap, dipaksa mengucapkan “Robbiyal Basyar!” Mereka disiksa sampai mau berkata bahwa “Tidak ada tuhan selain Basyar.” Pemuda yang memberontak disiksa sampai mati. Begitupun kaum perempuan. Para militer dari pemerintah Basyar Assad memperkosa para perempuan, membakarnya, dan membuangnya ke pinggir jalan. Anak-anak disembelih di depat orang tuanya. Orang tua disiksa sampai mati di hadapan anak-anaknya.” papar Syaikh Ghayyats. Peristiwa seperti ini juga terjadi pada zaman Fir’aun.

 

Dalam tabligh akbar hari ini hadir Angga Dimas Pershada, relawan medis yang menyaksikan langsung korban-korban pembantaian rezim Syiah Basyar Assad. Ia menjelaskan, sampai Sabtu (13/10) korban Rezim Syiah Basyar Assad yang tewas mencapai 35.933 jiwa. Hari ini jumlah korban yang tewas, 36.295 jiwa. “Dalam setiap harinya korban tewas bisa sampai 350 orang lebih. Mereka adalah saudara kita dari kalangan Sunni. Jadi, jelas sekali ini bukan masalah tirani pemerintah yang bersifat politis. Ini adalah pembantaian yang dilakukan oleh pemerintah Syiah terhadap rakyat Sunni.”

 

Pembantaian yang terjadi di Suriah benar-benar berkaitan dengan aqidah. Salah satu bukti, korban-korban yang terluka dilarikan ke perbatasan Turki, Yordan, Libanon, dan Irak. Mayoritas korban terbanyak dilarikan ke Turki. Faktanya setelah ditelusuri, 60 persen dokter di perbatasan Turki beragama Syiah. Hasilnya, korban luka ditangani dengan tidak benar. “Bahkan ada pasien yang hanya terluka kecil di ujung jarinya dan hanya memerlukan pengobatan ringan, ternyata oleh dokter Syiah diamputasi pada bagian lengan.”

 

Ustadz Yusuf Burhanuddin, Lc. sebagai wartawan konflik di Lebanon dan Palestina menutup acara tersebut dengan himbauan untuk lebih memahami dan mencari tahu tentang kondisi sesama Muslim di dunia Internasional. “Dalam kolflik Suriah ini, Hizbullah mendukung Basyar Assad dengan jelas. Konstituen Hizbullah adalah tentara Syiah. Mereka melakukan perang-perangan dengan Israel di Lebanon beberapa tahun lalu hanya untuk membunuh penduduk Sunni. Tentara Hizbullah waktu itu yang meninggal amat sedikit.” Inilah bukti bahwa tidak ada permusuhan antara Syiah dan Israel, tidak ada permusuhan antara Israel dan Rezim Basyar Assad. Israel dan Assad sama-sama bersekongkol.

 

Persediaan senjata Rezim Basyar Assad ini sangat banyak, dari Cina dan Rusia. Mereka bahkan berani melemparkan roket ke taman bermain di perbatasan Turki. Waktu itu 5 orang anak tewas seketika. Pada hari Idul Fitri, seorang pemuda sedang menggembalakan 40 ekor kambingnya dilempari roket. Kambing-kambing mati, begitupun pemuda yang menggembalakannya. “Kami ikut memakamkan jasadnya,” ujar Angga Dimas.

 

Pada akhir acara Syaikh Ghayyats memberi kata penutup, “Amerika dan PBB tidak bisa diharapkan. Mereka tidak ingin masyarakat ekstrimis menguasai Suriah, mereka tidak mau ahlu sunnah tinggal di Suriah. Orang Suriah mungkin banyak tidur sehingga tanpa sadar politik dikuasai oleh orang yang tidak bertanggung jawab dari kaum Syiah. Jangan banyak tidur dan belajarlah membaca sejarah. Agar hal yang sama tidak terjadi di Indonesia.”

 

Setelah tabligh akbar, dilaksanakan penggalangan dana untuk Suriah. Dalam kesempatan tersebut terkumpul dana lebih dari Rp 15.725.200,- Angga Dimas mengakhiri acara dengan pernyataan, “Saat kami menanyakan bantuan apa yang dapat diberikan oleh Indonesia untuk muslim Suriah, mereka hanya meminta agar selalu disertakan dalam do’a-do’a kita. Itu tandanya mereka iffah, menjaga kehormatan diri walaupun dalam keadaan amat terdesak. Membantu sesama muslim yang sedang dalam kesulitan adalah kewajiban. Kita tidak perlu diminta untuk memberikan bantuan. Sudah selayaknya kita membaca kunut nazilah untuk muslim Suriah dalam shalat-shalat kita.”. MD/Dewandakwahjabar.com