membahas-pki-bersama-dewandakwah-n-pjmi-n-jituDalam acara hasil kerjasama DDII dan PJMI yang berjudul “Tanggapan Atas Aksi Simpatisan dan Elemen Pro-PKI” yang diselenggarakan di Gedung Menara Da’wah Dewan Da’wah pada Selasa (24/5/2016) Taufik Ismail menceritakan pengalamannya saat menghadiri Simposium Nasional “Membedah Tragedi 1965, Pendekatan Kesejarahan” pada 18-19 April 2016 silam.

Kata Taufik, simposium itu sangat beraroma “Kiri.” Kiri adalah sebutan bagi anggota kelompok atau simpatisan baik ideologi maupun sikap menganut paham komunisme. Acara yang berlangsung dua hari itu dihadiri oleh lebih dari dua ratus orang dari kalangan pro dan kontra PKI.

Simposium tersebut mempersilahkan Taufik untuk mengisi acara di bagian terakhir yakni pembacaan puisi yang berjudul “Angka.” Saat puisi dibacakan, terdengar suara gemuruh peserta Pro-PKI yang menandakan ketidaksetujuan penampilannya di atas panggung, namun Taufik tetap meneruskan puisinya sembari mengungkapkan sejarah gelap PKI.

Uniknya, usai acara Taufik yang secara santun berpamitan langsung kepada ketua panitia acara oleh media-media diberitakan bahwa dirinya diusir.

Puisi Angka-angka yang dimaksud adalah angka tahun berikut jumlah korban ideologi dan aksi komunisme di seluruh dunia.

Sebanyak 120 juta orang meregang nyawa akibat kekejaman komunisme di 75 negara selama 74 tahun. Mereka rela membunuh rakyattnya sendiri, karena salah satu ideologinya adalah “Merebut kekuasaan dalam negara,” kata penyair senior ini.

Terhitung pihak komunis di seluruh dunia mengkudeta 75 negara, 24 negara “tutup toko,” 4 negara masih bertahan, namun sistem ekonominya sudah berubah, seperti China yang merubah sistem ekonominya menjadi Ekonomi Liberal.

Taufik menjelaskan akibat kudeta komunis di berbagai belahan dunia, sebanyak 61 juta tewas dibantai oleh pemerintah Uni Soviet, 40 juta di Republik Rakyat China, dan 3 juta di Kamboja.

“Dari total penduduknya 7 juta, Kamboja membunuh 3 juta atau sepertiga rakyatnya  dalam kurun 3 tahun,” ungkapnya sedih.

Selanjutnya, dikarenakan kaum Kiri lihai dalam teori-teori, menurut Taufik jangan melawan mereka dengan cara itu.

“Kalau berbicara teori mereka sangat pintar, tapi jika berbicara angka-angka mereka bungkam,” ujarnya.

Layaknya Syiah yang menerepakan teologi Taqiyah (kamuflase) komunispun dilatih untuk berbohong. Menurut Taufik tidak ada komunis yang benar-benar memperjuangkan kesetaraan ekonomi, adanya malah memperkaya petinggi partai dengan ciri khas palu arit tersebut, artinya rakyat atau pengikut komunisme sedang ditipu.

“ciri khas komunis adalah berdusta, mereka itu dilatih,” katanya.

Setelah melihat angka-angka bombastis di atas, Taufik mengungkapkan sebab banyaknya korban komunis tewas selain eksekusi, adalah kerja paksa dan kesenjangan/kegagalan ekonomi.

Semua itu terjadi karena kudeta, penipuan, dusta, penyiksaan dan pembunuhan adalah ajaran dasar mereka yang tertuang dalam buku komunisme pertama karangan Karl Marx dan Frederick Engels, yaitu The Communist Manifesto (terjemahan bahasa: Manifesto Partai Komunis, penerbit: Pembaruan).

“Tapi (ajaran) ini ditutup-tutupi,” ungkap Taufik.

Dunia membuktikan, satu-satunya negara yang dulunya komunisme ingin merebut kekuasaan tiga kali dan paling cepat menumpasnya adalah Indonesia. Namun rekor ini bukanlah kebanggaan, selama paham ini masih dibiarkan.

Kemudia Taufik menjelaskan bahwa komunisme adalah paham usang yang sudah ditinggalkan oleh banyak negara, termasuk pengusungnya, Rusia.[tamam]