Dalam mengarungi kehidupan, manusia memiliki dua hal yang takkan pernah dapat dilepas, yaitu nikmat dan ujian. Allah memberi hukum kehidupan dengan adil, oleh karenanya manusia tidak dibiarkan dalam kemelaratan terus menerus begitu pula sebaliknya.

“Panas terus ya,” “yah kok hujan lagi,” “Ya Allah musibah apa lagi ini”

Demikian sekelumit keluhan manusia. Kebanyakan orang mengeluh dan menyalahkan kondisi alam tapi lupa sudah berapa banyak hasil alam yang dikeruk dan lebih parahnya tidak pernah memikirkan Pencipta alam itu sendiri. Mencela alam sama dengan mencela Penciptanya, oleh sebabnya dalam Islam, setiap Muslim dilarang mencela alam berikut perubahan kondisinya.

Mengeluh boleh saja, tapi jangan jadikan alam sebagai biang masalah, karena mereka sendiri memiliki peran untuk menaati Allah dan melaksanakan perintahNya, layaknya kiat manusia. Tanah memiliki peran untuk menumbuhkan tanaman, jadi bahan bangunan tapi terkadang terjadi gempa, angin memiliki tugas mengantar kesejukan tapi terkadang mengantar badai. Layaknya manusia yang sehat kadang sakit, kenyang kemudian lapar, ada yang baru lahir dan meninggal dan seterusnya.

Musibah alam terjadi tak lain karena tiga hal, pertama, karena Allah ingin menguji hambaNya, kedua, ketamakan dan ketiga, manusia bermaksiat. Perhatikan dalil-dalil di bawah ini:

….وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ

Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri…” (QS. Asy Syuraa: 30)

 أَحَسِبَ ٱلنَّاسُ أَن يُتۡرَكُوٓاْ أَن يَقُولُوٓاْ ءَامَنَّا وَهُمۡ لَا يُفۡتَنُونَ وَلَقَدۡ فَتَنَّا ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡۖ فَلَيَعۡلَمَنَّ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ صَدَقُواْ وَلَيَعۡلَمَنَّ ٱلۡكَٰذِبِينَ

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi. Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS. Al ‘Ankabut: 2-3)

Maka solusinya adalah segera bertafakkur (deep think) atas setiap musibah dan segera bertindak untuk melakukan perubahan dan kemajuan karena inilah rahasia Allah menciptakan alam, selalu berbaik sangkalah kepada Allah.

Sedih itu baik, yang tidak baik adalah larut dalam kesedihan maka bersabar dan bersyukurlah. Sabar saat terkena musibah dan syukur saat diberi nikmat. Rasulullah SAW bersabda:

عجبًا لأمرِ المؤمنِ . إن أمرَه كلَّه خيرٌ . وليس ذاك لأحدٍ إلا للمؤمنِ . إن أصابته سراءُ شكرَ . فكان خيرًا له . وإن أصابته ضراءُ صبر . فكان خيرًا له

Alangkah mengagumkan keadaan orang yang beriman, karena semua keadaannya (membawa) kebaikan (untuk dirinya), dan ini hanya ada pada seorang mukmin; jika dia mendapatkan kesenangan dia akan bersyukur, maka itu adalah kebaikan baginya, dan jika dia ditimpa kesusahan dia akan bersabar, maka itu adalah kebaikan baginya” (HR. Muslim).[kanzen]