Sebagian dari mereka sudah menjadi mualaf (baru memeluk agama Islam, red), dan saat itu sedang menggelar acara peringatan Maulid Nabi. Kalau kata canggung diartikan belum terbiasa atau kurang terampil mengerjakan sesuatu, memang seperti itulah yang dirasakan mereka sebagai mualaf di desa terpencil itu.

Kondisi kehidupan mereka masih memprihatinkan. Ekonomi yang pas-pasan serta pengetahuan agama Islam yang terbatas membuat kehidupan mereka masih terpuruk. Memang, mayoritas penduduk di sana punya mata pencarian beragam. Di antaranya nelayan, buruh sagu, menyadap karet dan sebagainya.

Tak mengherankan, di belakang rumah-rumah penduduknya yang sangat sederhana, rata-rata ditanami pohon sagu atau karet. Mereka berbaur rukun dengan masyarakat beragam etnis di sana, seperti Melayu, Jawa dan sebagainya.

Begitulah gambaran kampung mualaf, di Desa Selat Akar. Kampung Suku Asli yang didirikan oleh kelompok mualaf, yang ingin benar-benar mendalami Islam dengan baik. Mereka yang terdiri atas 15 kepala keluarga dengan 52 jiwa ini, tinggal dalam satu Komplek. Di sana ada rumah serta surau sederhana sebagai tempat ibadah

berukuran 3,5 x 3,5 meter. Surau itu dijadikan sebagai pusat belajar kaum mualaf di kampung tersebut.

Senin (20/1) lalu ketika berkunjung ke sana, kami merasakan sensasi perjalanan berbeda karena harus berhadapan dengan gelombang musim utara yang menggelora. Kapal cepat yang ditumpangi oleng ke kiri dan kanan. Bersyukur kami selamat melewatinya. Persis pukul 13:00 WIB kami tiba di ibu kecamatan, Bandul.

Perjalanan ke Selat Akar dilanjutkan dengan menggunakan sepeda motor. Sekitar 20 menit kemudian, kami bersama rombongan Dewan Dakwah Indonesia (DDI) Riau, Camat Tasik Putri Puyu, Fahrurrozi langsung menuju Surau Al Jihad. Di sini sudah berkumpul puluhan masyarakat mualaf. Kebetulan hari itu mereka menggelar acara Maulid Nabi. Kejutan bagi kami, disambut sejumlah anak-anak dan orangtua mualaf yang berjejer rapi di pinggir jalan. Sambil melantunkan Shalawat Badar, anak-anak mualaf itu menyalami rombongan kami.

‘’Beginilah sejak dulu kondisi kampung kami, masih tertinggal dan pembangunan infrastrukturnya juga masih terbatas,’’ ucap Amiruddin, mantan Kepala Desa Selat Akar periode 1998-2012.

Dua periode memimpin Selat Akar, diakuinya memang berat, khususnya dalam membina kaum mualaf. Karena pada umumnya para mualaf ini masih bercampur dengan keluarga mereka dalam waktu yang cukup lama. Pada 2006 pihaknya mendapatkan bantuan dari pemerintah untuk membangun rumah layak huni.

Makanya, kata Amir, dari beberapa unit rumah ini disisihkan untuk mualaf. Tujuannya agar mereka hidup mandiri dan tidak bercampur dengan keluarga mereka. Karena setelah memeluk Islam, tantangan mualaf ini masih sangat berat. Tidak jarang, ada yang sudah masuk Islam, kembali lagi ke agamanya semula.

‘’Secara perlahan kami mencari solusi dan 2006 kami dapat bantuan rumah layak huni dari Pemerintah Provinsi Riau sebanyak 30 rumah. Disisihkan lah lima unit untuk mualaf. Setelah itu barulah dilakukan pembinaan, melibatkan pembimbing dari lembaga Islam,’’ ujarnya.

Amir menyebutkan, untuk mengajak mereka masuk Islam juga sangat sulit. Kerap, budaya mereka masih terbawa-bawa ketika masuk Islam, khususnya tradisi masa lalu yang sulit dihilangkan. Apalagi umumnya masyarakat Suku Asli ini sebelumnya begitu kuat keyakinan animismenya.

Makanya, kata Amir, kehadiran agama Islam membuat corak hidup mereka berubah. Sekarang mereka sudah mampu hidup layak, meski secara ekonomi masih sangat memprihatinkan. Ini yang menurutnya harus sama-sama diperhatikan.

Dulu, dirinya pernah membangun sebuah musala. Karena tidak ada yang membimbing para mualaf ini, kegiatan di musala sebagai pusat bimbingan umat Islam, tidak berjalan baik. Belakangan, musala itu malah rubuh dimakan usia. Baru lah dua tahun terakhir ini dibuat musala baru persis di tengah komplek perkampungan mualaf. Tentu dengan harapan, pembinaan terhadap mereka dapat berjalan baik.

‘’Walau saya tidak kepala desa lagi, sampai sekarang masih tetap melakukan pembinaan terhadap mereka. Karena ini tanggung jawab sebagai orang Islam. Tentu harapan saya, para mualaf ini diberi perhatian lebih dan kalau bisa, minimal pada hari-hari besar Islam dilakukan kegiatan yang dipusatkan di kampung mualaf ini,’’ harapnya.

Amir sangat mendukung upaya yang dilakukan pemerintah kabupaten dan kecamatan di Kepulauan Meranti untuk membina kaum mualaf, agar lebih baik dalam mengenal agama Islam. Apalagi ada lembaga-lembaga Islam yang melakukan pembinaan dan turun langsung ke lapangan. Mereka memerlukan perhatian, khususnya dalam bimbingan agama Islam.

Menurutnya, para mualaf ini memang harus terus dibantu dan dikembangkan, agar mampu mandiri. Artinya, selain penguatan keimanan mereka harus diiringi kemampuan memantapkan ekonomi keluarga.

‘’Semuanya butuh waktu dan proses. Untuk menjadikan mualaf ini kuat dan berkualitas tentu menjadi tanggung jawab kita semua. Kami mengharapkan perhatian pemerintah terhadap masyarakat suku asli di desa kami. Kondisinya masih sangat memprihatinkan,’’ harapnya.

Dambakan Komplek Mualaf

Penghuni kampung mualaf yang kami jumpai mengaku bangga menjadi orang Islam. Diakui, setelah mualaf, mereka lebih menemukan ketenangan batin. Apalagi, pilihan keyakinan itu juga berasal dari dorongan yang kuat di dalam hati masing-masing.

‘’Masuk Islam ini karena dorongan hati saya, dan saya tidak ingat kapan mengucapkan dua kalimat syahadat. Sekarang saya lebih tenang saat memeluk agama Islam, jika saya bandingkan ketika tidak memiliki agama,’’ ujar Nuriah (30), salah seorang mualaf yang dijumpai di teras rumahnya, didampingi suaminya.

Sebelum memeluk agama Islam Nuriah mengaku sempat menikah melalui tradisi suku asli. Saat itu, suaminya, meski beragama Islam namun tidak mengetahui tentang Islam secara benar. Makanya selama beberapa tahun menjadi mualaf, dia sempat canggung dan belum merasakan nikmatnya memeluk Islam. Semua karena kurangnya pengajaran tentang agama Islam yang dia dapat.

Karenanya, saat ini Nuriah ingin mendalami agama Islam, sebab ada pembimbingnya. Dalam sepekan, Nuriah belajar membaca Alquran dan salat yang dipusatkan di Surau Al Jihad bersama mualaf yang lain.

‘’Sekarang sedikit-sedikit sudah tahu Islam, terutama salat lima waktu dan belajar mengaji,’’ ucapnya tersenyum, sambil mengendong putrinya yang baru berusia 2 tahun.

Nuriah mengaku, rumah layak huni bantuan pemerintah yang kini dia tempati, awalnya milik orangtuanya. Sekarang kondisinya sudah memprihatinkan. Karena tidak ada pilihan, Nuriah bersama suami dan tiga anaknya tetap bertahan di sana, sambil berharap dapat segera pindah ke komplek kampung mualaf.

‘’Sekarang tinggalnya jauh dari komplek kampong mualaf. Makanya kami berharap agar pemerintah dapat membangun rumah buat kami di komplek mualaf, sehingga kami dapat setiap waktu melakukan kegiatan di komplek. Apalagi sekarang ini sudah ada pembimbingnya,’’ ujarnya sambil mengakui pada saat mengucapkan dua kalimat syahadat dipandu oleh petugas P3NTCR dan itu setelah menikah sekitar lima tahunan lalu.

Nuriah mengaku, kendala dalam mendalami ilmu agama ini karena tidak ada yang membimbing dan jika mau belajar dulu sangat sulit, karena gurunya tidak ada. Namun sekarang pengajarnya sudah ada.

‘’Kami tidak mau mati dalam kesesatan, makanya kami harus belajar agama dan menyembah Allah Swt yang sudah menciptakan kami semua,’’ ucap Nuriah pelan dan wajah tertunduk.

Masih Canggung

Salmiati (32), warga Suku Akit lainnya, mengaku sudah mualaf enam tahun lalu. Dia tertarik dengan Islam sejak masih berusia 16 tahun. Saat keinginannya disampaikan, kedua orangtuanya ternyata tidak melarang. Akhirnya Salmi memeluk agama Islam dan kemudian menikah dengan Junaidi (34). Mereka saat ini sudah dikarunia dua orang anak dan tinggal di rumahnya sendiri di Jalan Punak, Dusun 2, Desa Selat Akar.

‘’Saya masuk Islam atas kesadaran sendiri. Sebelum Islam saya selalu mimpi aneh-aneh dan dalam mimpi itu selalu dibantu oleh orang Islam. Makanya saya bertekad masuk Islam. Tepatnya setelah tamat SD, niat ini disampaikan ke orangtua. Alhamdulillah, orangtua saya mendukung dan malah mereka berpesan jangan balek lagi ke agama lama. Orangtua juga berpesan kalau mau masuk Islam, pelajari betul semua ajarannya. Jangan sampai Islam KTP aje (saja, red),’’ ujarnya.

Meski sudah lama memeluk Islam, Salmi mengaku masih canggung karena belum bisa melaksanakan perintah agama dengan sempurna. Sampai sekarang dirinya masih belajar salat dan mengaji Alquran.

Untungnya, suami Salmi adalah orang Islam, sehingga sedikit banyak bimbingan agama didapat dari sang suami. “Saya bersyukur masuk Islam. Bahkan saya bangga dan tidak ada penyesalan, karena ini kemauan saya sendiri,’’ ujarnya, yang menyebutkan, setelah Islam namanya menjadi Salmiati.

Dia mengisahkan masa lalunya memeluk Islam, di mana dirinya juga berusaha ingin mengajak orangtua mengikuti jejaknya, tapi belum ada kemauan. “Saya masih ingat pesan orangtua saya, meski beragama lain, mereka selalu berpesan, jangan Islam KTP aja, tapi harus benar-benar. Makanya saya bertekad akan mendalami Islam ini dengan sungguh-sungguh dan sekarang anakanak saya belajar agama Islam di MDA,’’ ujarnya.

Begitu juga ketika dirinya datang ke rumah orangtuanya saat bulan suci Ramadan, dia selalu ditanya apakah berpuasa atau tidak. ‘’Adik-adik juga tidak ada masalah, hubungan keluarga kami tetap terjalin baik,’’ tuturnya.

Lain halnya dengan Sarinah (35), mualaf dari suku asli yang saat ini sudah memiliki tiga anak dengan suaminya, Azwar. Dia mengaku baru memeluk Islam empat tahun yang lalu, kendati sejak usia 18 tahun sudah ingin masuk Islam. ‘’Sebenarnya saya sudah lama masuk Islam, tapi baru 4 tahun ini saya merasakan nikmatnya menjadi orang muslim dan sekarang saya baru belajar mengaji dan salat,’’ ujar Sarinah.

Meski dirinya sudah masuk Islam, namun tidak memutuskan hubungan kekeluargaan bersama orangtua dan juga adiknya. Pada waktu luang, Sarinah selalu mengunjungi rumah orangtuanya yang tidak jauh dari komplek perkampungan mualaf.

Senada dengan mualaf yang lain, dia juga mengharapkan agar pemerintah memperhatikan nasib mereka, karena dengan keterbatasan ekonomi membuatnya susah untuk bergaul dengan sesama masyarakat. Jadi, jika pemerintah memiliki program untuk membina mualaf, dirinya meminta agar diutamakan.

‘’Kami berharap pemerintah dapat membangun rumah layak huni bagi kami, karena sekarang saya masih tinggal menumpang di kebun orang lain. Kalau di komplek mualaf ini ada perumahan tentu akan memudahkan kami dalam menuntut ilmu agama,’’ ujarnya.

Pendekatan Lemah-lembut

Mengajak masyarakat Suku Akit untuk memeluk agama Islam memang memerlukan perjuangan berat. Berbagai cara dilakukan, di antaranya melalui perkawinan antara Suku Akit dengan warga Jawa maupun Melayu.

Bahkan melalui persoalan ’kampung tengah’ alias makanan juga sudah dilakukan. Karena kebiasaan warga Suku Akit ini masih kental dengan keyakinan animisme, sehingga untuk mengajak mereka sangat susah.

‘’Memang susah untuk berjuang. Itu juga dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW berjuang untuk mengajak orang lain masuk Islam itu sangat sulit. Namun dengan kesabaran akhirnya pemeluk Islam bertambah banyak,’’ ujar Maidir, membuka kisah perjuangannya melakukan pembinaan terhadap mualaf di Desa Selat Akar saat dijumpai di rumahnya di Dusun Kampung Jawa di desa tersebut.

Ia mengaku, pada waktu itu anak-anak Suku Akit banyak yang ingin memeluk agama Islam, namun dirinya tidak mampu berbuat banyak. Karena kondisi di masa itu juga sangat sulit, namun upaya untuk mengislamkan warga Suku Akit ini tetap dilakukan. Di antaranya membantu mereka yang ingin memeluk Islam untuk keluar dari desa.

Tapi upaya itu mendapat perlawanan dari orangtua mereka yang masih kental dengan tradisi. Perlawanannya secara fisik dan juga psikis. Namun untuk sekarang jumlah warga Akit yang memeluk Islam sudah banyak, sehingga dirinya kini tinggal memberikan dorongan kepada umat Islam yang lain agar sama-sama membina mereka. Namun dirinya yakin, mengajak mereka dengan lemah-lembut dan membujuknya dengan cara yang baik, pasti warga suku asli ini mau memeluk agama Islam.

Karena pihaknya yakin Islam adalah agama yang terbaik di muka bumi. Maidir menyebutkan, mengenang masa-masa sulit mengajak warga Akit masuk Islam, merupakan hal yang sangat menyedihkan. Karena tekanan terhadap diri dan keluarganya sangat berat.

‘’Saya sempat meneteskan airmata jika mengenang masa perjuangan mengajak mereka masuk Islam. Sebanyak enam orang masuk Islam di tahun 1980. Waktu itu saya bertugas mengajar SD di sana (SD di Desa Bandul, red),’’ ujar Maidir.

Sejak lama, kata Maidir, cita-citanya dalam mengembangkan dan mensyiarkan Islam khususnya bagi suku asli yakni membuat komplek mualaf, sekarang sudah tercapai. Karena masalah keyakinan suku asli ini masih belum jelas. Khususnya dalam menghadapi mereka melalui budaya yang masih percaya kepada animisme, tentu ini juga merupakan tugas berat bagi pembimbing mualaf di Desa Selat Akar.

‘’Saya sebagai tokoh masyarakat akan tetap memberikan dukungan kepada siapa saja yang ingin berjuang mensyiarkan Islam di kampung ini, kami siap memberikan dukungan dan mengajak semua umat Islam untuk peduli dengan mualaf yang ada di Kabupaten Kepulauan Meranti,’’ harapnya. (Ustadz Taslim Prawira, Da’i Dewan Dakwah di Provinsi Riau)