Setiap lembaga amil zakat selayaknya telah masuk uji verivikasi lapangan dari Kemena, sehingga terlihat profesionalisme dan kualitasnya. Maka dari itu dalam sebuah pertemuan bersama Ketum Dewan Da’wah, Drs. M. Siddik, MA yang dipimpin langsung oleh Kasubdit Pemberdayaan Lembaga Zakat, Kemenag yaitu Dr. H. Juraidi Malkan, MA. mengungkapkan bahwa pihaknya percaya kepada profesionalitas kinerja Lazis Dewan Da’wah.

“Saya sangat yakin dengan Dewan Da’wah, kami hanya ingin memastikan,” katanya sembari disambut tawa para hadirin pada acara yang diselenggarakan Lazis Dewan Da’wah bersama Kemenag dengan tema “Verivikasi Lapangan dan Sosialisasi Regulasi Zakat” di Gedung Dewan Da’wah, Kramat Raya 45, Jakarta, Rabu (19/9/2016).

Sebelumnya, dalam kesempatan tersebut Siddik menjelaskan secara singkat sejarah Dewan Da’wah dan ketokohan Pak Natsir Allahuyarham, kemudian dia memperkenalkan seluruh jajaran staf Dewan Da’wah.

Dalam pendahuluannya, Siddik mengutarakan bahwa zakat sangat identik dengan ajaran Islam dan keIslaman seseorang. Islam tidak akan lepas dengan Sholat, zakat dan puasa, bahkan orang yang tidak membayar zakat padahal semua syarat telah terbebani maka hukumnya wajib diperangi sebagaimana Khalifah Abu Bakar ash Shiddiq tunaikan sebelumnya.

Kegiatan dakwah pun, Siddik melanjutkan, karena saking pentingnya zakat (harta) seorang da’i kurang jika hanya berbekal ilmu dan jago orasi karena dakwah juga dapat sukses tidak hanya dengan da’wah bil lisaan (dakwah komunikasi) tapi juga dengan da’wah bil haal (dakwah harta).

Kemudian Juraidi menjelaskan soal keunikan ibadah zakat yang tidak dimiliki oleh ibadah lainnya, yaitu adanya aamil atau pelayan/pelaksana (at taubah ayat 60) sehingga tak heran jika zakat ada regulasinya, dalam hal ini kemenag memiliki regulasi tersendiri untuk memberdayakan zakat umat.

Oleh sebab itu pelaksana badan zakat pertanggungjawabannya tidak hanya di dunia tapi juga di akhirat. Dalam hal ini Kemenag tampil untuk membantu mengarahkan pelaksana zakat agar lebih maju.[tamam]