Media massa adalah alat sumber kabar sebuah komunitas masyarakat. Dapat dibayangkan sebuah komunitas masyarakat tanpa adanya media massa akan mengalami penurunan kualitas baik secara modernisme, ekonomi, infrastruktur dan intelektualitas.

Khusunya dalam dunia informasi, peran media massa sangat menentukan alur perjalanan ideologi masyarakat, maka jika ingin melihat kebenaran sebuah negara lihatlah medianya. Sehingga tak jarang kalangan elit politik dan kaum hartawan memanfaatkan media untuk kepentingan masing-masing.

Dalam hal ini, sang peliput kabar baik fotografer, videografer, jurnalis, reporter dan kawan-kawannya hingga pemilik perusahaan media bertanggung jawab atas konten berita yang ditulis.

Kebanyakan wartawan hari ini lupa akan idealismenya sebagai sosok yang bersih, jujur dan adil dalam penulisan sehingga tak heran beberapa kaum elit di atas “membayar” wartawan untuk citra diri dan perusahaan/jabatan politik.

Padahal dalam Islam menulis itu bagai pisau berbilah dua, jika dipegan oleh orang yang tepat pisau itu akan menusuk orang yang salah, jika dikendalikan oleh serampangan orang akan menusuk dirinya sendiri.

Islam melihat segala bentuk media tulis sebagai ladang pahala dan di waktu bersamaan tulisan dapat menjadi dosa. Perhatikan hadit di bawah:

مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى، كَانَ لَهُ مِنَ اْلأَجْرِ مِثْلُ أُجُوْرِ مَنْ تَبِعَهُ، لاَ يَنْقُصُ ذلِكَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَيْئًا. وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلاَلَةٍ، كَانَ عَلَيْهِ مِنَ اْلإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ، لاَ يَنْقُصُ ذلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا.

“Barangsiapa yang mengajak kepada suatu petunjuk, maka dia memperoleh pahala seperti pahala orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi sedikit pun dari pahala-pahala mereka. Dan barangsiapa yang mengajak kepada kesesatan maka dia memperoleh dosa semisal dosa orang yang mengikutinya tanpa mengurangi sedikit pun dari dosa-dosa mereka.” (HR. Muslim)

Hadits di atas juga berlaku untuk wartawan yang menulis atas dasar pesanan/suap/bayaran orang tertentu untuk kepentingan dirinya dan tidak mempedulikan masyarakat umum. Contohnya seorang wartawan menulis berita soal pemerataan logistik pangan di suatu daerah yang terkena bencana, padahal fakta lapangan menunjukkan bantuan tersebut tidak merata, maka dari tulisan tersebut sang wartawan mendapat dosa dari orang yang memesannya plus rakyat yang kelaparan akibat tidak maksimalnya bantuan pangan.

Sebaliknya, wartawan yang memberitakan fakta dengan adil, bersih dan jujur maka Allah alan berikan balasan setimpal.

Dr. Ahmad Zain An Najah dalam pengajian bulanan Jurnalis Islam Bersatu (JITU), Senin (29/8/2016) di Mushollah Ar Rahim, Tebet, Jakarta mengungkapkan bahwa setiap muslim khususnya wartawan harusnya melaksanakan ritual rutin, yaitu intropeksi diri.

Katanya, oleh sebab itu semua Muslim berdoa dengan kalimat yang sama “Ihdinash Shiroothol Mustaqiim” (tunjukilah kami jalan yang lurus) karena wartawan sebagai manusia biasa kadang salah dan khilaf dalam menulis berita.

Zain melanjutkan, saat Muslim sudah memutuskan menjadi jurnalis atau berkerja di perusahaan media massa maka nilai-nilai Islam yang luhur tidak boleh lepas begitu saja. Kejujuran dalam mengungkapkan fakta, adil dalam dalam pemberitaan, bersih dan tidak ada yang disembunyikan patutnya menjadi idealis bagi setiap Muslim yang terjun ke dunia media massa.

Komitmen-komitmen di atas, menurut Zain, layaknya sumpah yang tidak boleh dilanggar. Allah SWT berfirman:

… يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَوْفُوا بِالْعُقُودِ

“Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah janji-janjimu itu…” (QS. Al Maidah: 1)

Dan Rasulullah SAW bersabda:

المسلمون على شروطهم

“Muslim itu terikat dengan syarat-syarat (kontrak, janji) yang disepakatinya.” (HR. Tirmidzi)

Maka, kata Zain, syarat-syarat itu harus dipegang kuat-kuat selama tidak bertentangan dengan Al Quran dan Al Hadits. Sebagai salah satu cabang profesi, menjadi wartawan dalam kajian Islam masuk dalam kategori Muamalah (hal-hal yang berhubungan dengan interaksi kemasyarakatan).

Zain menjelaskan hal-hal yang berkaitan dengan muamalah sendiri dalam kajian fiqh atau ushul fiqh hukumnya boleh selama tidak ada dalil yang menyelisihinya. Kaidahnya adalah:

الأصل في المعاملات والعادات الإباحة إلا ما دل الديل بخلافه

“Hukum asal suatu adat istiadat dan muamalah adalah boleh selama tidak ada dalil yang melarangnya.”

Jadilah wartawan Muslim yang Islami dalam artian yang dapat memegang teguh ajaran Islam bukan sebaliknya yang sibuk memperkaya diri dengan menjilat hasil “pesanan” dan merugikan banyak pihak.[tamam]