Aksi Mahasiswa 23 September, BEM STID Mohammad Natsir Suarakan Anti RUU P-KS

Dewan Dakwah News – Pada tanggal 23 September 2019 ribuan mahasiswa dari berbagai kampus dari Jabodetabek dan luar daerah menggelar long march dari beberapa titik menuju DPR RI. Tuntutan utama mereka adalah menolak RUU KUHP dan revisi UU KPK. Aksi itu berlangsung beberapa hari dan disambut oleh gerakan yang sama dari berbagai daerah, bahkan hingga hari ini aksi serupa masih digalakkan.

Badan Eksekutif Mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah (BEM STID) Mohammad Natsir turut menyemarakkan aksi itu dengan menerjunkan sejumlah mahasiswa yang siap turun ke jalan.

Uniknya, menurut Muhammad Jundi Rabbani Ketua BEM STID Mohammad Natsir meski pihaknya sedendang seirama dengan tuntutan mayoritas mahasiswa, BEM satu ini tetap tidak setuju jika Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU P-KS) disahkan.

“Meski sebagian mahasiswa ada yang minta RUU itu (RUU P-KS) disahkan, kami tetap konsisten nggak dukung itu, atau minimal direvisi isi undang-undangnya, sebab kontennya masih belum matang bisa-bisa disalahgunakan,” kata Jundi saat dihubungi DDN, Kamis (26/9).

Untungnya, lanjut Jundi, RUU P-KS batal disahkan pada periode pemerintah saat ini.

“Alhamdulillah RUU itu nggak jadi disahkan, mudah-mudahan DPR dan pemerintah lainnya yang terkait bisa mempelajarinya kembali sebelum disahkan,” harapnya.

Pihaknya yang turun pada tanggal 24 September 2019 itu, kata Jundi, tidak ikut melakukan tindakan anarkisme.

“Kami nggak ikut pas kerusuhan itu, saya sebelumnya sudah duga kayaknya bakal ada kerusuhan lagi, akhirnya kami pulang duluan, lagian kita pun tidak setuju kalau ada tindakan anarkisme baik dari kawan-kawan mahasiswa atau pihak keamanan, tapi kalo diliat-liat sih sulit mengkondisikan sekian ribu mahasiswa dari berbagai kampus, daerah dan kultur,” pungkas Jundi.[Tamam/DDN]

Ket. Foto: Sejumlah mahasiswa STID Mohammad Natsir ikut aksi mahasiswa (24/9).