Alumni STID Mohammad Natsir Mensyahadatkan 8 Orang Suku Akit

Dewan Da’wah News, Pelalawan – Delapan orang Suku Akit warga Dusun Sungai Sekiyat, Riau memutuskan masuk Islam pada Senin (19/8/2019).

Adalah Ustadz Ricky Ahmad Candra, S.Sos alumni Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah Mohammad Natsir yang membantu pensyahadatan mereka.

Dewan Da’wah mengutus ustadz asal Lamongan ini untuk berdakwah di Dusun Sungai Sekiyat, Desa Sungai Upih, Kecamatan Kuala Kampar, Kabupaten Pelalawan, Provinsi Riau.

Proses pensyahadatan dilaksanakan di Musholla Risalah Andita, disaksikan oleh Ketua Unit Pengumpul Zakat (UPZ) Kemenag Kecamatan Kuala Kampar, Ketua Yayasan Muallaf Kecamatan Kuala Kampar, Sekretaris Desa Sungai Upih, Ketua RT Sungai Sekiyat dan masyarakat sekitar.

Delapan warga suku akit yang bersyahadat adalah Pak Yat (60), Addin (17), Suparja (15), Pina (11), Pak Junaedi (41), ibu Sujeah (30), Ryan (12), Ridho (10).

Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari mereka bekerja sebagai pemburu siput, lokan, kerang-kerangan dan usaha arang.

Mereka masuk Islam dengan sukarela tanpa paksaan, salah satunya Pak Junaedi sudah lama tertarik masuk Islam musababnya orang-orang muslim hidup dengan teratur.

“Sudah lama ingin masuk Islam tapi baru sekarang merasa yakin. Saya memandang Islam seperti kehidupan yang teratur, semua itu diatur sedemikian rupa sehingga indah dilihat,” kata Pak Junaedi berkisah kepada Ust. Candra.

Sejumlah warga Dusun Sungai Sekiyat itu sebelum masuk Islam mereka beragama Buddha tapi tidak mengerti dengan agama yang mereka anut dulu. Sebagian di antara mereka menjadikan agama sebelumnya sebagai formalitas identitas saja.

Cerita berawal dari Suparja, Pina, Ryan dan Ridho yang masih duduk di bangku sekolah dasar, setiap harinya bermain di Musholla bersama anak-anak muslim. Saat anak-anak muslim mengaji mereka menunggu duduk di luar.

“Awalnya saya biarkan mereka menunggu di luar sampai teman-teman yang muslim selesai ngaji, tapi lama kelamaan saya merasa iba soalnya mereka ditinggal di luar. Akhirnya saya mempersilahkan gabung biar tetap bisa bareng teman-temannya dan mareka mau,” kata Ust. Candra.

Berawal dari keinginan terus bersama teman-temannya yang Muslim menjadikan empat anak itu tertarik masuk Islam.

“Saya tidak memaksa, saya hanya tawarkan kalau ingin masuk Islam Ustadz akan bantu. Alhamdulillah mereka mau tanpa paksaan dari siapapun,” ujarnya.

“Hari Jumat (16/8/2019) selepas shalat Maghrib saya kumpulkan orang tua anak-anak itu di Musholla untuk sosialisasi dan meminta restu mereka yang anaknya ingin masuk agama Islam,” tambah Ust. Candra.

Sosialisasi dibantu Ketua Komunitas Adat Terpencil (KAT) Kemensos, Pak Panji Sanjaya dan Ketua Suku Akit, Pak Bachtiar yang sebelumnya sudah masuk Islam.

Berikut dikusinya:

Ust. Candra: “Apakah bapak merestui anak bapak masuk Islam?”

Pak Junaedi: “Iya pak ustad saya setuju anak saya masuk Islam”

Ust. Candra: “Kalau bapak sendiri tidak tertarik masuk islam?”

Pak Junaedi: “Nanti lah pak ustad biar anak saya saja duluan kalo saya masih belum bisa memastikan karena saya masih bingung”

Saat itu, Ust. Candra sempat menanyakan juga perihal restu Pak Yat dan Bu Nar orang tua dari Adin, Suparja dan Pina yang ingin masuk Islam dan mereka tidak keberatan dengan keputusan anak-anaknya.

Ust. Candra juga sempat menawarkan istri Pak Junaedi, Bu Sujeah apakah dia mau masuk Islam. Pak Junaedi sudah mantap ingin masuk Islam tapi tidak dengan istrinya.

Besok sorenya (17/8/2019) usai shalat Ashar Ust. Candra pergi ke rumah Pak Junaedi dan Pak Yat untuk menginformasikan pada tanggal 19 Agustus 2019 anak-anak nya akan dibantu mensyahadatkan, sekaligus mengingatkan dan memastikan apakah beliau dan istrinya mau ikut masuk Islam atau tidak.

Sebelum memulai pensyahadatan, pada tanggal 19 Agustus 2019 pagi hari Pak Junaedi dan istrinya Bu Sujeah yang awalnya menolak masuk Islam, menyatakan siap pindah agama.

Di tanggal yang sama, sore harinya Ust. Candra menunaikan janjinya untuk membantu orang-orang tersebut masuk Islam.

Disaksikan sejumlah warga dusun dan perwakilan Kecamatan dan Desa serta mereka ikut membantu dan pensyahadatan yang dilaksanakan usai waktu Ashar itu.

Setelah semua persiapan selesai, pensyahadatan pun dilaksanakan.

“Apakah anda sekalian ada paksaan untuk masuk islam?” tanya Ust. Candra

“Tidak ada” jawab mereka serentak

Untuk memastikan kesaksian mereka, H. Khoiruddin Ketua Unit Pengumpul Zakat (UPZ) Kemenag kecamatan

“Apakah kalian dipaksa oleh Ust. Candra untuk masuk Islam?” tanya Pak Khoiruddin.

“Tidak ada” jawab mereka serentak

“Apakah kalian dengan betul-betul mau masuk Islam?” tanyanya sekali lagi.

“Betul pak” timpal mereka.

Akhirnya satu per satu disyahadatkan oleh Ust. Candra.

Tidak ada suara yang keluar kecuali tangis haru dari para saksi, seperti Sekretaris Desa, Pak Zahid.

“Penduduk yang berjumlah 14 KK awalnya beragama Buddha kini tinggal 1 KK saja yang belum memeluk agama Islam, terimakasih Pak Ustadz Candra” kata Pak Zaid sambil menangis tersedu dalam sambutannya usai pensyahadatan.

“Ini terjadi tidak lain adalah perjuangan Pak Ustad Candra, yang rela berkorban dengan apa adanya membantu kita semua, membina, memberikan pencerahan, dan mengangkat derajat wilayah muallaf ini,” pungkasnya.

Ust. Candra da’i muda Dewan Da’wah Alumni S1 Prodi Komunikasi Penyiaran Islam dari Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah Mohammad Natsir Jakarta adalah salah satu dari sekian ratus da’i yang dikirim Dewan Da’wah ke daerah pedalaman, perbatasan negeri, kepulauan dan daerah terpencil. Mari terus dukung perjuangan mereka lewat uluran tangan anda, info lebih lanjut kunjungi: www.laznasdewandakwah.or.id

(Tamam/DDN)