Bediuzzaman Said Nursi Sang Manusia Menakjubkan

Dewan Da’wah News, Jakarta – Lembaga sosial dan pendidikan asal Turki, Hayrat Foundation bekerjasama dengan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta menyelenggarakan Seminar Internasional dengan tema “Perkembangan Peradaban Islam Era Modern di Turki Pasca Keruntuhan Turki Utsmani” di auditorium utama Harun Nasution UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada Rabu (13/3/2019). Di antara pembicaranya adalah perwakilan Hayrat Foundation Afrika, Ismail Kaya. Dia menceritakan sosok fenomental masa lalu, Bediuzzaman Said Nursi, berikut kami tuliskan rangkuman kisahnya.

Said Nursi dilahirkan pada tahun 1878 di Timur Turki. Ayah, ibu dan keluarganya merupakan orang-orang imani yang sangat menjaga nilai-nilai agama Islam serta hidup dengan tolok ukur syariah sehingga menjadikan keluarga ini menghasilkan anak-anak yang shaleh. Gambaran hidup islami itu tentu diarasakan pula oleh Said kecil yang dibimbing langsung oleh ibunya untuk mengenyam pendidikan agama.

Pada suatu hari Said bertemu Rasulullah SAW dalam mimpinya dan Bediuzzaman menuntut ilmu dari-Nya. Rasulullah SAW memberikan kabar baik bahwa ilmu pengetahuan akan diilhamkan kepadanya.

Selepas mimpi itu dan dengan kebulatan niat dalam waktu singkat Said telah mampu menghafalkan Al-Quran, beliau telah mempelajari ilmu nahwu, mantiq dan sharaf serta ia juga telah hafal 90 kitab turats induk.

Allah pun memberinya kemapuan mengingat yang kuat dan kecerdasan yang tajam. Lalu apa yang dia baca menjadi hafalan dan tidak hanya hafal Nursi pun dapat memahami dengan baik apa yang telah dihapal.

Said Memahami masalah-masalah yang krusial dan sulit dipahami. Serta, selalu menang dalam perdebatan ilmiah. Dengan kelebihan itu semua maka tak heran guru-gurunya memberi gelar Badiuzzaman (keajaiban zaman)

Gubernur di zaman itu, Bitlis sudah mengetahui tentang kemasyhuran Said. Sang gubernur memberi tempat belajar untuknya selama dua tahun. Setelah rampung belajar Said biasa diundang oleh masyarakat Van (salah satu nama kota di Timur Turki) untuk mengikuti debat ilmiah dan terkadang ia juga mengajar ilmu agama di madarasah yang telah dibuat oleh gubernur.

Dalam pergaulan dengan lawan jenis, Said yang memiliki semangat belajar yang tinggi disertai kehati-hatian dalam perkara halal dan haram membuat gadis-gadis keturunan para jendral mengeluh terhadap perilaku Badiuzzaman. Sebab, selama tinggal di rumah Badiuzzaman tidak pernah melihat wajah dan berbicara dengan mereka.

Pribadinya yang dermawan membuat dirinya pantang menerima hadiah, sadaqah dan zakat dari siapapun.

Ada satu cerita yang menggambarkan keteguhan Said dalam Al Quran adalah mentari kehidupan.

Suatu hari Gubernur Van memberikan Koran kepada ulama muda ini, tertulis di Koran itu bahwa menteri dari penjajah, Inggris berkata ‘Selama Al-Quran ini di tangan ummat Islam, kita tidak bisa menguasai serta mengalahkan mereka. Yang perlu kita lakukan adalah merampas Al-quran ini dari tangan mereka atau kita jauhkan mereka dari Al-Quran.‘

Berita ini mengundang keberanian Said sambil berkata: ‘Aku akan membuktikan dan memperlihatkan bahwa Al-Quran adalah mentari maknawi yang tidak akan padam dan tidak dapat dipadamkan.’

Setelah kejadian tersebut Said lebih fokus melakukan penelitian di bidang ilmu Barat dan filsafat Barat untuk mematahkan argumen kaum penjajah itu. Karena itu, Said banyak mempelajari dan mendalami ilmu logika dan sains modern untuk membuktikan hakikat Islam dari ilmu-ilmu Barat tersebut.

Akhirnya lahirlah satu rencana besar untuk menyatukan ilmu sains dan ilmu Islam dalam satu sistem pendidikan.

Said berkata ‘Cahaya hati sanubari ialah ilmu-ilmu agama. Sedangkan cahaya bagi akal adalah ilmu-ilmu modern. Melalui gabungan antara keduanya, hakikat akan terungkap. Ketika keduanya terpisah, maka akan lahir dari yang pertama sifat fanatik, sedangkan yang kedua lahir keraguan dan skeptisisme.’

Di samping Bediuzzaman sibuk dengan dunia ilmu, beliau juga memperjuangkan dakwah di kalangan masyarakat yang pada waktu itu dilanda pengaruh isme-isme Barat yang tujuannya untuk menjatuhkan Khilafah Utsmaniyah.

Selain belajar, Said pun mengajar dan memiliki murid-murid yang memiliki semangat kuat. Pelajarannya pun tidak hanya fokus pada pengayaan ilmu, dia juga melatih dan mempersiapkan muridnya dalam bidang ketentaraan sebab tanda-tanda meletusnya perang mulai terasa. Maka, pada perang dunia pertama, Bediuzzaman turut terlibat sebagai komandan pasukan relawan yang terdiri dari para pelajarnya melawan Rusia. Ketika di barisan terdepan perang, saat itu beliau menulis satu karya Tafsir Isyaratul I’jaz berbahasa arab.

Karena kesuksesan perjuangan perang dan ilmunya yang tinggi, beliau terpilih menjadi anggota Dewan Darul Hikmah Islamiyyah pada umurnya yang ke-41 tahun..

Waktu itu Istanbul berhasil diduduki oleh Inggris sehingga Turki menjadi negara jajahan dan Said berjuang keras melawan Inggris dengan publikasi seperti penulisan artikel tentang wajah-wajah berbahaya dan niat buruk Inggris terhadap umat.

Atas perjuangannyua itu petinggi Ankara yang nantinya mengkhianati Kekhilafahan yaitu Mustafa Kemal At Taturk memberikan apresiasi kepada perjuangan Said dan mengundangnya untuk datang kota tersebut.

Meski demikian, Badiuzzaman tidak berhasil menggapai apa yang dicita-citakan. Hal ini disebabkan karena beliau menyaksikan mayoritas petinggi pemerintah Ankara meremehkan hal-hal agama dan diperparah dengan pengaruh Barat dan ilmu Barat. Maka Bediuzzaman menulis satu surat dan mengedarkannya kepada anggota parlemen. Respon dari para elit negara tidak senang dengan tindakan beliau yang sangat berpengaruh itu.

Menjelang keruntuhan Khilafah kondisi Turki semakin panas khususnya di Ankara sehingga Said memutuskan untuk pulang ke Van.

Singkat cerita, pasca keruntuhan Utsmaniyyah pemerintah Ankara secara resmi mengubah sistem pemerintahan negara dari Khilafah menjadi Republik.

Mustafa Kamal At Taturk adalah orang yang menginisiasi pengkhianatan dan pemberontakan terhadap Utsmaniyah.

Oleh Mustafa satu persatu aturan, hukum, nilai-nilai serta hal-hal yang berkaitan dengan Islam yang mulai dilarang. Konstitusi diubah mengikut corak negara Barat.

Pemakaian simbol Islam dilarang seperti jilbab untuk wanita, mengubah huruf bahasa Turki Utsmani (ciri tulisannya bergaya Arab) kepada huruf Latin, adzan diganti ke dalam bahasa Turki, sistem pendidikan Islam juga dilarang dan pelarangan-pelarangan lainnya yang sangat merugikan umat.

Khususnya di bidang pendidikan pemerintah memasukkan materi-materi ateisme dari usaha ini mereka mencoba merubah rakyat Turki yang islami menjadi tidak beragama atau tidak percaya tuhan.

Umat Islam semakin lemah dengan diasingkannya para pewaris nabi yaitu ulama-ulama diasingkan ke luar negeri atau dipenjara dan bahkan ada yang dieksekusi mati.

Akhirnya, Bediuzzaman juga telah diasingkan dari Timur Turki ke sebuah kampung di arah Barat bernama Barla.

Ketika Bediuzzaman diasingkan pada tahun 1927 dia sudah berumur 50 tahun. Dengan ilmunya yang tinggi dan pengalaman hidupnya yang luas, Bediuzzaman berkesimpulan bahwa masalah utama ummat adalah lemahnya iman.

Selama masa pengasingan di kampung Barla, masyarakat kampung itu diinstruksi pemerintah untuk tidak mendekati Badiuzzaman katanya orang ini sangat berbahaya. Namun, dari masa ke masa, masyarakat kampung menyaksikan sendiri bahwa Said bukan orang berbahaya dan masyarakat mulai percaya kepadanya dan menuntut ilmu kepada beliau.

Di tahun itu, Bediuzzaman menulis satu risalah tentang hari kebangkitan tujuannya untuk mematahkan pemikiran pemerintah yang mengingkari hari kebangkitan. Dengan risalah ini, Bediuzzaman meneruskan tulisan-tulisan lain yang akhirnya melahirkan karya besar yakni “Risalah Nur.”

Dalam karya Risalah Nur Bediuzzaman membuktikan hakikat-hakikat iman dengan ayat-ayat kauniyah. Said mematahkan argumen-argumen filsafat Barat dengan ilmu filsafat itu sendiri dengan ditambah sains modern.

Dalam rangka menanama iman di jiwa ummat, Bediuzzaman menulis karya ini dengan bahasa yang dapat dimengerti oleh semua golongan. Risalah-risalah yang ditulis diberikan kepada siapa saja termasuk orang-orang terdekatnya, dan mereka akan menyalin karya itu dan memberikan kepada teman yang lain. Dengan cara tersebut pembiakan Risalah Nur tersebar ke seluruh Turki.

Bediuzzaman juga menemukan satu mukjizat baru di dalam Al Quran dari sudut penyusunannya. Mukjizat berupa “Quran Tawafuq” yaitu mukjizat yang menonjolkan keagungan di sisi penulisan yang mana pada setiap halaman terdapat dua kata atau lebih yang tersusun secara simetris, baik secara horizontal maupun vertikal. Tugas menulis ini diberikan kepada anak muridnya Ahmet Husrev dan beliau menulis sebanyak 9 kali. Sekarang Hayrat Foundation menyebarkan Kuran Tevafuk ke seluruh ummat di pelosok dunia.

Waktu itu, Risalah Nur telah membuat pembaca mencapai iman tahqiqi dan terhindar dari iman taqlidi. Para pembacanya dapat mencapai marifatullah (mengenal Allah) dan mahabbatullah (mencintai-Nya). Di waktu yang sama menguatkan ikatan iman sesama pembaca dan pelajar Risalah Nur. Hal ini membuat gelisah rezim pemerintah. Dengan dalih Risalah Hijab, rezim pemerintah memenjarakan Bediuzzaman yang waktu itu sudah berumur 56 tahun bersama 120 muridnya di penjara Eskisehir.

Saat dipindahkan ke penjara Kastamonu Said mengalami penyiksaan dari sipir. Walau demikian, beliau mendidik murid-muridnya di penjara dan meneruskan tulisan Risalah Nur. Risalah-risalah yang ditulis dikirim dari penjara ke Isparta. Di Isparta Ahmet Husrev memperbanyak salinan risalah itu dan menyebarluaskankannya ke seluruh Turki. Setiap kali orang membaca Risalah Nur, waktu bersamaan mereka mendapatkan obat penawar dalam setiap permasalahan. Hingga akhirnya peminat atau pembaca Risalah Nur bertambah banyak.

Setelah itu, Bediuzzaman juga ditransfer lagi ke Penjara Denizli. Penjara demi penjara telah ditempati Said dan menjadi madrasah yusufiyah. Penyiksaan, kezaliman, pengasingan dan penahanan berkali-kali tidak membuat Bediuzzaman menyerah untuk terus berkhidmat kepada Iman dan Quran. Serangan ateisme dan sekularisme terus menerjang Turki baik dari dalam dan luar negeri bahkan melalui bantuan pemerintah namun iman masyarakat Turki telah kembali bangkit sedikit demi sedikit kepada dan semakin menguatkan keimanan mereka seiring bertambah banyaknya pembaca Risalah Nur.

Bediuzzaman tidak pernah membalas perbuatan buruk para sipir terhadapnya malah mendoakan yang terbaik untuk mereka. Terkadang mengajak mereka kembali pada ajaran Islam, katanya:

“Generasi masa mendatang akan beragama dan generasi lalu juga beragama, jika kalian jauh dari agama akan malu dengan dua generasi ini.”

Beliau berkata kepada kepala penjara:

“Bangsa yang tidak beragama tidak bisa hdup, jika anda ingin bela negara harusnya anda memberi kebebasan kepada orang yang beragama. Menjaga 1000 orang yang beragama itu lebih mudah dari menjaga 10 orang yang tidak sholat dan tidak mengerti halal haram.”

Setelah seumur hidupnya mengabdikan diri untuk umat dan Islam akhirnya pada usia ke 87 tepatnya pada tahun 1960, Bediuzzaman Said Nursi meninggal dunia.

Bediuzzaman telah meninggalkan masyarakat besar yang beriman, menghasilkan karya 130 risalah. Semoga Allah mencurahkan rahmat-NYA.

Editor: tamam