Belajar Politik Berkarakter Ala Masyumi

Dewan Da’wah News, Jakarta – Islamic Book Fair (IBF) yang menurut pihak panitia penyelenggara merupakan pameran buku Islam terbesar se-Asia Tenggara kembali diadakan pada tahun ini di Jakarta Convention Center (JCC) selama lima hari (27/2-3/3). Dalam pameran tersebut disuguhkan pula acara-acara yang berhubungan dengan literasi di antaranya membedah buku karangan anak bangsa. Pada Sabtu (2/3/2019) ada acara bedah buku “Jejak Para Tokoh Muslim Mengawal NKRI” menghadirkan Drs. H. Lukman Hakiem (penulis buku, Mantan Anggota DPR) dan H. Muhammad Fuad Nasar, S.Sos, M.Sc. (Pemerhati Sejarah dan Pergerakan Islam, Kemenag RI) sebagai pembicara.

Pembicara pertama Drs. H. Lukman Hakiem sudah kami tulis di berita sebelumnya. Berita ini merupakan lanjutan akhir dari berita sebelumnya.

Kata Fuad, dulu Indonesia memiliki partai Islam legendaris bernama Masjumi yang tokoh-tokohnya meski tidak memiliki kekayaan berlimpah tapi punya karakter yang berkualitas.

“Meskipun mereka berada dalam kesederhanaan dan kebersahajaan tetapi mereka dikenal sebagai orang-orang yang teguh memegang prinsip dalam hidupnya,” kata Fuad memulai seminar bedah buku.

Fuad menceritakan bahwa tokoh-tokoh Masyumi dapat membedakan mana prinsip, strategi dan taktik. Dan mereka adalah orang-orang yang memiliki intuisi tajam di dalam merespon dan menyikapi berbagai situasi dan kondisi serta dapat pula mengklasifikasika antara media dan visi.

“Mereka dapat membedakan mana tujuan perjuangan dan mana alat perjuangan,” jelasnya.

Berikutnya, lanjut Fuad, tokoh-tokoh dari partai Islam pertama di Indonesia ini adalah pribadi-pribadi besar yang mampu memberikan pengabdian total untuk agama dan NKRI, jadi bagi mereka perjuangan menegakkan agama dan membela negara bukan sesuatu yang harus dipisah.

“Seperti halnya pesan perjungan Pak Prawoto Mangkusasmito yang mengatakan ‘untung ruginya perjungan itu diukur dengan untung ruginya Islam,’ kalau membicarakan soal untung ruginya Islam tentu di dalamnya sudah termasuk membela negara,” ujar Fuad.

Di dalam dunia politik pasti akan ada lawan yang memiliki pandangan berbeda. Sedangkan seluruh petinggi Masyumi adalah orang-orang yang demokratis dan dapat menghargai perbedaan pendapat.

“Bahkan kata Pak Anwar Haryono, ‘lawan pendapat adalah kawan dalam berfikir,’ di situ kelihatan karakter negarawan yang tidak pendendam meski berbeda pendapat,” jelas Fuad.

Bahkan, kata Fuad silang pendapat kerap terjadi di internal Masyumi sendiri seperti di antaranya Yusuf Wibisono, Sukirman Wiryo Sanjoyo, M. Natsir, Abu Hanifah, Mr. Roem, Syafroedin Prawiranegara.

“Tetapi yang mengagumkan dari mereka adalah perbedaan pendapat itu tidak menimbulkan perpecahan, tidak diliputi kebencian dan permusuhan itu semua bagian dari dinamika yang mematangkan mereka di dalam pergerakan, nilai-nilai seperti itulah yang sangat relevan dengan kebutuhan kita sekarang ini dalam situasi di mana orang menyebut bahwa sekarang ini kita mengalami defisit negarawan,” lanjut Fuad.

Di akhir seminar, Fuad berpesan kepada para peserta seminar bahwa dengan mempelajari sejarah tokoh-tokoh Masyumi akan diketahui bagaimana karakteristik politisi muslim dan bekal untuk menjadi politisi muslim yang berkarakter.

“Jadi kalau orang mau belajar cara berpolitik yang tidak pendendam atau menghabisi lawan-lawannya ya itu (tokoh-tokoh partai Masyumi), mereka adalah orang yang mampu mempraktekkan keshalehan dalam berpolitik dan mereka dapat itu dari hasil tempaan Islam yang begitu panjang,” pungkasnya.[tmm]