Belum Sepekan di Pesisir Meranti, Da’i Muda Dewan Dakwah Bimbing Syahadat Pertama
Kepulauan Meranti, dewandakwah.or.id — Belum sempat benar-benar mengenal seluruh sudut Desa Sonde, Kecamatan Rangsang Pesisir, Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau, Ustaz Lukmanul Hakim, S.Sos. sudah dihadapkan pada sebuah amanah yang tak disangka-sangka. Baru beberapa hari menginjakkan kaki di wilayah pengabdian, teleponnya berdering menjelang salat Jumat (4/9/2026). Di ujung sambungan, Ustaz Wawan, pengurus Laznas Dewan Da’wah di Kepulauan Meranti, membawa sebuah kabar.
Kepulauan Meranti, dewandakwah.or.id — Belum sempat benar-benar mengenal seluruh sudut Desa Sonde, Kecamatan Rangsang Pesisir, Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau, Ustaz Lukmanul Hakim, S.Sos. sudah dihadapkan pada sebuah amanah yang tak disangka-sangka. Baru beberapa hari menginjakkan kaki di wilayah pengabdian, teleponnya berdering menjelang salat Jumat (4/9/2026). Di ujung sambungan, Ustaz Wawan, pengurus Laznas Dewan Da’wah di Kepulauan Meranti, membawa sebuah kabar.
Ada seorang pemuda yang ingin memeluk Islam. Namanya Arya. Bukan sekadar ingin mengenal Islam, pemuda itu telah memantapkan hati untuk mengucapkan dua kalimat syahadat dan membutuhkan bimbingan seorang da’i. Ustaz Lukman pun segera berkoordinasi. Setelah salat Jumat berjamaah, sekitar pukul 14.00 WIB, pertemuan itu berlangsung. Di hadapan Ustaz Lukman, Arya duduk dengan tekad yang telah ia simpan cukup lama. Hari itu, di Desa Sonde, sebuah perjalanan iman dimulai.
Berawal dari Linimasa TikTok
Keputusan Arya memeluk Islam ternyata bukan sesuatu yang lahir dalam semalam. Pemuda yang tumbuh dari keluarga penganut Buddha itu mulai mengenal Islam ketika merantau ke Batam. Setelah menyelesaikan pendidikan sekolah dasar (SD), Arya memilih tidak melanjutkan sekolah dan membantu orang tuanya bekerja sebelum akhirnya mencari penghidupan di tanah rantau.
Di tengah kesibukannya, telepon genggam menjadi jendela baru bagi Arya. Linimasa TikTok-nya perlahan dipenuhi konten yang tak biasa ia temui sebelumnya: lantunan ayat Al-Qur’an, suara azan, hingga potongan ceramah tentang Islam. Awalnya hanya lewat di layar. Namun, dari konten-konten singkat itulah rasa penasaran tumbuh. Perlahan, ketertarikan terhadap Islam semakin kuat.
Keinginan itu belum langsung ia sampaikan kepada keluarga. Arya memilih menyimpannya selama berada di perantauan. Hingga akhirnya ia kembali ke Desa Sonde. Di kampung halaman, keberanian yang sebelumnya tertahan mulai menemukan jalannya. Arya menyampaikan kepada keluarga keinginannya untuk memeluk Islam.
Bukan Semata Karena Pernikahan
Ada satu peristiwa yang kemudian semakin menguatkan langkah Arya. Ia melamar seorang perempuan dari desa sebelah. Keluarga calon istrinya mensyaratkan agar Arya memeluk Islam sebelum pernikahan dilangsungkan. Pernikahan tersebut direncanakan sekitar satu bulan lagi, pada awal bulan depan.
Namun bagi Arya, syarat itu bukanlah alasan utama. Keinginan memeluk Islam telah lebih dahulu tumbuh dalam dirinya, bahkan sebelum ia mengenal calon istrinya. Karena itu, ketika syarat tersebut disampaikan, Arya justru semakin mantap mengambil keputusan yang telah lama ia renungkan. Ia kemudian mencari informasi mengenai prosedur untuk memeluk Islam. Dari kantor kecamatan, ia diarahkan kepada Kepala Desa Sonde. Informasi tersebut kemudian diteruskan kepada Bang Wawan dari Laznas Dewan Da’wah hingga akhirnya sampai kepada Ustaz Lukman.
Semua berlangsung dalam waktu yang relatif singkat. Dari sebuah pertanyaan di kantor kecamatan, berlanjut ke kepala desa, diteruskan kepada pengurus Laznas Dewan Da’wah, hingga akhirnya mempertemukan Arya dengan seorang da’i yang baru beberapa hari tiba di wilayah tersebut.
Syahadat Selepas Jumatan
Tidak banyak waktu yang dibutuhkan untuk mempertemukan mereka. Selepas salat Jumat, sekitar pukul 14.00 WIB, prosesi ikrar syahadat berlangsung. Ustaz Lukman membimbing Arya mengucapkan dua kalimat syahadat dengan penuh kesungguhan. “Setelah saya mendapatkan kabar dari Ustaz Wawan itu, akhirnya saya atur waktunya kapan kita bisa kumpul bareng dan pengikraran syahadat bagi Ananda Arya. Alhamdulillah tadi sudah terlaksana ba’da Jumatan, sekitar jam dua. Selesai dan lancar,” tutur Ustaz Lukman
Bagi Ustaz Lukman, pengalaman tersebut menjadi momentum yang sangat berarti. Belum genap sepekan menjalankan amanah di pesisir Meranti, ia sudah dipertemukan dengan seseorang yang tengah membuka lembaran baru dalam kehidupannya. Namun, bagi seorang da’i, membimbing syahadat bukanlah garis akhir. Justru di situlah pekerjaan berikutnya dimulai.
Setelah Syahadat, Perjalanan Baru Dimulai
Mengucapkan syahadat adalah langkah pertama. Setelah itu, Arya membutuhkan pendampingan untuk memahami dasar-dasar Islam: bagaimana berwudu, melaksanakan salat, mengenal Al-Qur’an, hingga memahami prinsip-prinsip kehidupan seorang Muslim. Terlebih, ia berada di tengah keluarga yang memiliki keyakinan berbeda. Di Desa Sonde, kondisi semacam ini bukan sesuatu yang asing. Masyarakat Suku Akit hidup berdampingan dengan beragam latar belakang keyakinan. Perbedaan agama bahkan dapat ditemukan dalam satu keluarga.
Orang tua Arya yang beragama Buddha, misalnya, tetap menghormati keputusan anaknya untuk memeluk Islam. Toleransi itu hadir dalam hal-hal sederhana. Ketika Arya telah menjadi Muslim, keluarganya memahami batasan makanan yang boleh dikonsumsi. Orang tua tidak lagi memasak makanan yang diharamkan dalam Islam, seperti daging babi, untuk disajikan di rumah. Jika ingin mengonsumsinya, mereka memilih membeli makanan tersebut di luar rumah.
Bagi Arya, dukungan keluarga menjadi ruang yang penting untuk menjalani kehidupan barunya. Dan bagi Ustaz Lukman, kondisi tersebut menjadi bagian dari tantangan dakwah yang harus terus didampingi.
Dakwah yang Tidak Berhenti di Dua Kalimat Syahadat
Kisah Arya menunjukkan bahwa pintu hidayah bisa datang melalui jalan yang tidak selalu terduga. Bisa melalui pertemuan langsung dengan seorang da’i. Bisa melalui majelis ilmu. Bahkan, bisa bermula dari sebuah video yang melintas beberapa detik di linimasa media sosial.
Tetapi ketika hati telah menemukan jalan, seseorang tetap membutuhkan pendamping untuk melanjutkan perjalanan. Di situlah peran da’i di pelosok menjadi penting. Mereka bukan hanya hadir untuk menyampaikan ceramah, tetapi juga menjadi teman belajar, tempat bertanya, sekaligus pendamping bagi masyarakat yang sedang bertumbuh dalam kehidupan beragama.
Ustaz Lukmanul Hakim kini menghadapi amanah tersebut di pesisir Meranti. Ikrar syahadat Arya mungkin hanya berlangsung beberapa menit. Namun, pembinaan setelahnya membutuhkan waktu, kesabaran, dan kehadiran yang berkelanjutan. Sebab, tugas seorang da’i bukan sekadar mengetuk pintu hati. Ia juga memastikan, ketika pintu itu terbuka, ada yang tetap hadir untuk menemani langkah berikutnya.
Dukungan untuk keberlanjutan dakwah para da’i di pelosok negeri terus diperlukan. Melalui amanah zakat, infak, dan sedekah yang disalurkan melalui Laznas Dewan Da’wah, para da’i dapat terus hadir, mendampingi masyarakat, dan merawat benih-benih keimanan yang baru tumbuh. Di pesisir Meranti, satu syahadat telah terucap. Dan satu perjalanan panjang baru saja dimulai.
Humas Dewan Dakwah
Reportase: Bidang Pembinaan dan Penempatan Da’i Dewan Dakwah
Editor: Abu Dzakir
Berita Terkait
Kabar Da'i
Da'iyah Muda Pulang Mengabdi ke NTT, Membina Masyarakat di Kupang Hingga Pesisir Flores
Kupang, dewandakwah.or.id — Nama Bengkulu sempat tertulis dalam bayangan perjalanan Arbiatul Adawiyah, asal NTT. Saat surat penugasan dibacakan pada hari wisuda di STID Mohammad Natsir, alumni tersebut telah bersiap untuk menapaki medan dakwah di ujung barat Pulau Sumatera. Namun, perjalanan hidup membawanya ke arah berbeda. Panggilan pengabdian justru membawanya kembali ke tanah kelahirannya, Nusa Tenggara Timur (NTT). Di wilayah dengan masyarakat minoritas Muslim itu, Arbiatul mendapat amanah...
Kabar Da'i
Menembus Kabut Asap, Menunaikan Tugas Dakwah di Kotawaringin Timur
Kalimantan Tengah, dewandakwah.or.id — Perjalanan para da’i Dewan Da’wah alumni STID Mohammad Natsir menuju medan dakwah di Kalimantan Tengah disambut pekatnya kabut asap sebelum akhirnya menjejakkan kaki di tanah tugas. Rombongan berangkat dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Jakarta, pada Rabu, 19 Agustus 2026 menuju Bandara H. Asan, Sampit, Kalimantan Tengah. Mereka terdiri atas Ustadz Ahmad Sobari, S.Sos., Ustadz Riski Al Ikhlas, S.Sos., bersama istrinya, Ustadzah Rahmaniah Daka, S.Sos...
Kabar Da'i
18 Jam Membelah Samudra, Langkah Pengabdian Da’iyah di Ujung Barat Nusantara
Mentawai, dewandakwah.or.id — Menempuh medan dakwah di Kepulauan Mentawai, Sumatra Barat, menuntut kesabaran ekstra sejak hari pertama keberangkatan. Itulah yang dirasakan oleh Ustadzah Sunarti Tuto Laba, S.Sos dan Ustadzah Ida Ayu Bukhori, S.Sos, da'iyah Alumni STID Mohammad Natsir. Perjalanan bukan hanya soal menembus jalur udara dan darat, melainkan juga kesiapan mengarungi Samudra Hindia selama belasan jam demi menyapa masyarakat pulau.