Catatan Haji 1447/2026 (3): Haji dan Konfrontasi Peradaban
Hari ketiga (21/5/2026), rombongan haji undangan Raja Salman diberikan kesempatan untuk melakukan aktivitas mandiri. Disamping ibadah di Masjidil Haram, ada sejumlah kuliah umum yang diberikan oleh beberapa masyayikh. Para jamaah pun bisa bertanya langsung tentang berbagai masalah agama.
Oleh: Dr. Adian Husaini (Ketua Umum Dewan Dakwah)
Hari ketiga (21/5/2026), rombongan haji undangan Raja Salman diberikan kesempatan untuk melakukan aktivitas mandiri. Disamping ibadah di Masjidil Haram, ada sejumlah kuliah umum yang diberikan oleh beberapa masyayikh. Para jamaah pun bisa bertanya langsung tentang berbagai masalah agama.
Alhamdulillah. Beberapa kali mengikuti kajian, banyak ilmu yang saya dapatkan. Tetapi, ada yang jarang dibahas dalam berbagai kajian tentang haji. Yakni, memahami ibadah haji dalam perspektif peradaban.
Ibadah haji – juga ibadah-ibadah Islam lainnya – sangat kuat dimensi Ilahiah dan ukhrawiyahnya. Dari bangun tidur sampai tidur lagi, orang muslim didorong selalu melaksanakan ibadah, karena Allah dan untuk Allah; untuk mencari keridhaan Allah. Ibadah untuk meraih kabahagiaan dunia akhirat.
Doa pamungkas pada tiap putaran thawaf di sisi Ka’bah adalah: “Rabbanaa aatinaa fid-dunya hasanah wa-fil-akhirati hasanah wa-qinaa ‘addzan naar.” Doa minta kebaikan hidup di dunia dan akhirat serta diselematkan dari neraka! Itulah harapan tertinggi kehidupan kita!
Jadi, kehidupan seorang muslim – selama 24 jam – tidak ada yang bersifat “sekular” (hanya mengejar dunia dan materi). Karena itulah, semua upaya mensekularkan kehidupan kaum muslim, akan mengalami kegagalan.
Jangan heran, jika banyak orang sekular-materialis akan bertobat di masa tuanya. Jauh dari Tuhan tidak membuat jiwa mereka tenang, meskipu hidup bergalimang materi, pujian, dan jabatan. Dengan iman dan ketaatan pada Tuhan, mereka merasakan kenikmatan ibadah dan semakin tekun mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Apalagi saat melakukan ibadah haji. Setiap kata, langkah dan gerak tubuh, semuanya dilakukan demi untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Al-Quran menjelaskan, bahwa dengan berzikir kepada Allah, maka hati akan menjadi tenang.
“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenang dan damai dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang dan damai.” (Lihat: QS 13:28).
Dalam perspektif peradaban, ibadah haji sejatinya sebuah perwujudan perjuangan peradaban. Ini adalah sebuah pernyataan konfrontasi melawan peradaban yang terlalu berlebihan dalam memuja materi; terlalu bebas dalam melampiaskan syahwat, dan dengan sistematis mengajak manusia melupakan Tuhan.
Jutaan kaum muslim berkumpul di Tanah Suci untuk bersama-sama mendekatkan diri kepada Sang Maha Kuasa dan melantunkan tekad perjuangan menjadi insan-insan perjuang peradaban mulia.
Jika direnungkan secara jernih dan mendalam, ibadah haji sejatinya adalah sebuah ibadah besar untuk membangun peradaban mulia di muka bumi. Inilah amanah Sang Nabi kita: Islam adalah tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi dari Islam. Semoga kita meraih haji mabrur. Amin. (Makkah, 22 Mei 2026).
Berita Terkait
Catatan Haji
Catatan Haji 1447/2026 (10): Tanda Haji Mabrur: Hidup Bahagia dalam Perjuangan
Ibadah haji tahun ini sungguh satu pengalaman pendidikan yang sangat dahsyat. Apalagi, saya diundang untuk berhaji oleh Raja Salman, bersama ratusan jamaah haji dari 140 negara. Inilah panggilan Allah. Inilah takdir Allah yang harus saya jalani dan sekaligus pengalaman pendidikan diri yang sangat berkesan.
Catatan Haji
Catatan Haji 1447/2026 (9): Haji dan Penanaman Persepsi Ancaman Bersama
Salah satu ritual penting dalam rangkaian ibadah haji adalah melontar jumrah. Selama tiga hari saya menginap di Mina dan melontar batu kecil sebanyak 49. Sebagai muslim, saya melontar jumrah dengan niat ibadah saja. Itulah yang disunnahkan oleh Rasulullah saw.
Catatan Haji
Catatan Haji 1447/2026 (8): Haji dan Deklarasi Kesempurnaan Agama
Tidak diragukan lagi! Arafah adalah puncak ibadah haji. Jutaan manusia berkumpul dengan niat, ucapan, gerak dan doa yang sama! Ribuan tahun, ritual seperti ini telah berlangsung. Ini bukan ritual bikinan manusia. Ini ritual budaya Arab. Ini ritual dari Tuhan Yang Maha Esa.