Kembali ke Daftar Berita
Catatan Haji

Catatan Haji 1447/2026 (5): Haji dan Amanah Mewujudkan Pendidikan Terbaik

Oleh Admin Dewan Dakwah • Sabtu, 23 Mei 2026
Catatan Haji 1447/2026 (5): Haji dan Amanah Mewujudkan Pendidikan Terbaik

Ibadah haji tidak dapat dipisahkan dari sosok teladan yang agung, yaitu Nabiyullah Ibrahim alaihi salam. Beliau diabadikan sebagai manusia teladan dalam pendidikan dan perjuangan. Di tengah keluarga dan masyarakat pemuja kemusyrikan dan kerusakan akhlak, Nabi Ibrahim berjuang menegakkan Tauhid. Resiko besar dihadapinya: dimusuhi, dibunuh, dikucilkan, dan diusir dari negerinya.

Oleh: Dr. Adian Husaini (Ketua Umum Dewan Dakwah)

Ibadah haji tidak dapat dipisahkan dari sosok teladan yang agung, yaitu Nabiyullah Ibrahim alaihi salam. Beliau diabadikan sebagai manusia teladan dalam pendidikan dan perjuangan. Di tengah keluarga dan masyarakat pemuja kemusyrikan dan kerusakan akhlak, Nabi Ibrahim berjuang menegakkan Tauhid.  Resiko besar dihadapinya: dimusuhi, dibunuh, dikucilkan, dan diusir dari negerinya. 

Tapi, dalam kondisi sulit seperti itu, Nabi Ibrahim a.s. tetap memberikan pendidikan terbaik terhadap keluarganya.  “Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS 2:132). 

Itulah pesan pendidikan Nabiyullah Ibrahim a.s. dan para nabi sesudahnya. Intinya adalah agar anak-anak keturunan mereka tetap berpegang teguh dengan ad-Dinul Islam sampai mati. 

Nabi Ya’qub a.s., misalnya, sebelum wafat berpesan kepada anak-anaknya, “Apa yang kalian sembah sepeninggalku nanti?” Anak keturunan Nabi Ya’qub pun menjawab: “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya”. 

Komitmen tauhid itulah yang diminta Nabi Ibrahim dan para Nabi lainnya. Anak-anak mereka tidak ditanya: “Sesudah aku tidak ada nanti, kalian makan apa?”  

Pesan penting dari pendidikan Nabiyullah Ibrahim adalah bahwa jangan sekali-kali kita menganggap soal aqidah atau keimanan itu sebagai hal sepele.  Kekufuran dan kemusyrikan itu kezaliman yang besar. (QS 31:13). Tanpa iman, semua amal tidak ada nilainya. (QS 24:39, 2:217, 18:103-104). 

Kini, kita hidup di zaman yang tantangan aqidah TIDAK lebih ringan dibanding dengan zaman Nabi Ibrahim a.s. Dominasi paham sekulerisme-materialisme telah menggiring umat manusia ke jurang ateisme global. Survei-survei global menunjukkan negara-negara yang dikatakan maju dan makmur, justru telah membuang agama dari kehidupan dan pikiran mereka.

Akibatnya, manusia dipuja dan dimuliakan BUKAN karena iman dan akhlaknya. Dampaknya, tidak sedikit yang menganggap KAMPUS TERBAIK adalah kampus yang TIDAK MENGUTAMAKAN penguatan iman, taqwa, dan akhlak mulia. Bahkan, kekufuran, kemusyrikan, dan perzinahan dianggap hal biasa. 

Benar! Kita harus unggul dalam sains dan teknologi. Tetapi, bukan dengan mengorbankan iman dan akhlak mulia! Pendidikan model Nabi Ibrahim a.s. adalah pendidikan TERBAIK. Yakni, pendidikan yang ditujukan untuk membentuk manusia yang kokoh imannya dan mulia akhlaknya, seperti sosok Ibrahim. Pendidikan terbaik harus melahirkan pejuang-pejuang penegak kebenaran yang kuat, cerdas, bijak, dan pemberani. 

Inilah sebenarnya model pendidikan yang secara tegas diamanahkan oleh UUD 1945 pasal 31 ayat (3): “Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketaqwaan serta akhlak mulia dalam mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dengan undang-undang!”

Semoga kita meraih haji mabrur dan dapat mewujudkan pendidikan terbaik di negeri kita! Amin.  (Makkah, 24 Mei 2026)

Berita Terkait