Kembali ke Daftar Berita
Catatan Haji

Catatan Haji 1447/2026 (7): Haji dan Harapan Kebangkitan Sains Islam

Oleh Admin Dewan Dakwah • Rabu, 27 Mei 2026
Catatan Haji 1447/2026 (7): Haji dan Harapan Kebangkitan Sains Islam

Alhamdulillah, salah satu acara yang sangat berkesan dari program haji undangan Raja Salman 2026 adalah kunjungan ke Museum Wahyu. Di Museum ini jamaah haji diberi kesempatan melihat replika Goa Hira, tempat Rasulullah saw menerima wahyu, kali pertama.

Oleh: Dr. Adian Husaini (Ketua Umum Dewan Dakwah)

Alhamdulillah, salah satu acara yang sangat berkesan dari program haji undangan Raja Salman 2026 adalah kunjungan ke Museum Wahyu. Di Museum ini jamaah haji diberi kesempatan melihat replika Goa Hira, tempat Rasulullah saw menerima wahyu, kali pertama.

Dengan turunnya wahyu dari Allah, maka umat manusia tidak dibiarkan untuk mencari-cari panduan hidupnya sendiri. Sebab, sehebat apa pun akal manusia, tidak akan mampu memahami seluruh aspek dirinya sendiri dan juga makna serta tujuan hidupnya di dunia ini. 

Dengan wahyu, manusia bisa memahami siapa dirinya, dari mana dia berasal, dan untuk apa dia hidup di dunia, serta apa yang akan terjadi setelah dia mati. Dengan bimbingan wahyu pula, manusia dapat memahami hakikat alam sekitarnya. 

Itulah makna penting turunnya wahyu pertama kali kepada Nabi Muhammad saw. Karena itu, beliau ditugaskan untuk menyampaikan ayat-ayat Allah, mensucikan mereka, dan mengajarkan ilmu dan hikmah. (QS 2:151 dan 62:2).

Turunnya wahyu yang dibacakan dan dicontohkan langsung penerapannya oleh Nabi Muhammad saw telah mengubah kehidupan bangsa Arab secara mendasar. Mereka menjadi bangsa pembelajar; bangsa yang sangat cinta dan haus ilmu. 

Bukan itu saja. Mereka kemudian menjadi bangsa terbaik, yang berhasil membangun peradaban mulia; peradaban penuh kasih sayang dan keadilan. Dalam waktu singkat, peradaban Islam menyebar ke seluruh penjuru dunia. 

Tahun 636 Masehi (empat tahun setelah Rasulullah saw wafat), umat Islam sudah menaklukkan Romawi dan membangun peradaban tinggi di Kota Jerusalem. Tahun 711 Islam sudah memasuki Eropa dan membangun peradaban tinggi selama 700 tahun. 

Inilah kebangkitan sains Islam. Sains yang memadukan secara harmonis tiga sumber ilmu: panca indera, akal, dan wahyu. Sains Islam ini bukan hanya konsep indah di atas kertas. Sains Islam pernah mendominasi dunia selama sekitar 700 tahun. Bangsa Eropa begitu banyak belajar kepada umat Islam. Sampai-sampai Tim Wallace Murphy, dalam bukunya, What Islam Did for Us, menulis satu sub-bab: “The West Debt to Islam.”

Karena menolak wahyu sebagai salah satu sumber ilmu, maka sains modern berkembang semakin liar. Akibatnya, meskipun berhasil memahami dan mengeksploitasi alam dengan semaunya  sendiri, kemajuan sains dan teknologi tidak berbanding lurus dengan hadirnya kehidupan penuh damai, kasih sayang, dan kebahagiaan. 

Inilah yang ditulis oleh Seyyed Hossein Nasr: “To day more and more people are becoming aware that the applications of modern science, a science witch until a few decades ago was completely Western and which has now spread to other continents, have caused directly or indirectly unprecedented environmental disasters…” (Lihat, buku The Need for a Sacred Science, karya Seyyed Hossein Nasr). 

Kini, simaklah buku-buku sains yang diajarkan kepada anak-anak kita di sekolah dan kampus. Apakah di situ diajarkan tentang fenomena alam sebagai ayat-ayat Allah? Apakah sains diajarkan agar anak-anak kita semakin kuat imannya dan semakin baik akhlaknya? 

Semoga kita meraih haji mabrur!  Dan semoga kemabruran haji membuka mata dan pikiran kita untuk mau belajar sains dan teknologi dari bangsa mana saja, tanpa sikap sombong dengan menolak wahyu sebagai sumber ilmu.  (Arafah, 26 Mei 2026).

Berita Terkait