Kembali ke Daftar Berita
Kabar Da'i

Kiprah Ustaz Angga, Dari Belajar Iqra hingga Kembali Berdakwah di Pedalaman Morowali

Oleh Admin Dewan Dakwah • Senin, 07 September 2026
Kiprah Ustaz Angga, Dari Belajar Iqra hingga Kembali Berdakwah di Pedalaman Morowali

Jakarta, dewandakwah.or.id — Tidak semua dai memulai perjalanan dari mimbar. Ada yang justru memulainya dari titik paling sederhana: belajar membaca Al-Qur’an. Begitulah kisah Ustaz Angga Wirawinata, S.Sos., dai Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia sekaligus alumni Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah (STID) Mohammad Natsir. Dari seorang pemuda yang mengaku awam terhadap ilmu agama, ia tumbuh melalui proses pembinaan, pendidikan, dan pengalaman dakwah hingga akhirnya kembali ke wilayah pedalaman Morowali Utar...

Jakarta, dewandakwah.or.id — Tidak semua dai memulai perjalanan dari mimbar. Ada yang justru memulainya dari titik paling sederhana: belajar membaca Al-Qur’an. Begitulah kisah Ustaz Angga Wirawinata, S.Sos., dai Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia sekaligus alumni Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah (STID) Mohammad Natsir. Dari seorang pemuda yang mengaku awam terhadap ilmu agama, ia tumbuh melalui proses pembinaan, pendidikan, dan pengalaman dakwah hingga akhirnya kembali ke wilayah pedalaman Morowali Utara, Sulawesi Tengah, untuk mengabdikan ilmunya kepada masyarakat.

Kisah perjalanan tersebut ia bagikan dalam kegiatan Penyambutan Dai dan Daiah Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, Selasa (1/9/2026), di Aula Masjid Al-Furqan Dewan Dakwah, Jakarta. Di hadapan para dai dan daiyah, Angga tidak hanya bercerita tentang medan dakwah. Ia membuka kembali perjalanan panjang yang membawanya dari belajar mengaji hingga dipercaya menjadi dai di wilayah pedalaman.

Berawal dari Tidak Bisa Mengaji

Jalan Angga menuju dunia dakwah tidak bermula dari lingkungan yang membuatnya langsung akrab dengan ilmu-ilmu keislaman.

Saat berada di Morowali Utara, perjumpaannya dengan para ustaz Dewan Dakwah justru menjadi titik balik. Salah satunya adalah Ustaz Sugiatno yang mendorongnya untuk melanjutkan pendidikan. Ajakan tersebut kemudian membawanya mengikuti pembinaan di ADI Palu, sebelum melanjutkan pendidikan ke STID Mohammad Natsir. Angga mengingat dengan jujur kondisi dirinya ketika pertama kali masuk dunia kaderisasi. “Awal masuk ADI itu saya tidak tahu apa-apa. Tidak tahu ngaji, hadits, tauhid. Memang awam sekali," ujarnya

Pengakuan itu menjadi awal dari perjalanan panjangnya. Di lingkungan pembinaan, ia belajar dari dasar. Membaca Al-Qur’an yang bagi sebagian orang mungkin merupakan kemampuan sederhana, baginya menjadi sebuah proses perjuangan. Ia mengenang bagaimana para senior dengan sabar membimbingnya. Sekitar tiga bulan ia menjalani proses belajar membaca Al-Qur’an secara intensif.

Dari situlah satu per satu pintu ilmu mulai terbuka. Belajar membaca Al-Qur’an. Mengenal hadis. Memahami tauhid. Menjalani pendidikan. Hingga akhirnya menempuh pendidikan di STID Mohammad Natsir. Perjalanan itu menunjukkan bahwa kaderisasi bukan sekadar mencetak orang yang siap berdakwah, tetapi juga menempa seseorang melalui proses panjang hingga memiliki ilmu, mental, dan kesiapan untuk terjun ke masyarakat.


Kembali ke Pedalaman, Membawa Bekal yang Berbeda

Setelah menyelesaikan pendidikan, Angga justru kembali ke wilayah yang pernah menjadi bagian dari perjalanan awalnya. Ia mendapatkan amanah untuk berdakwah di Morowali Utara. Namun, pulang sebagai dai tentu berbeda dengan pulang sebagai seorang pemuda yang dahulu masih belajar.

Kini ia datang membawa bekal ilmu dan pengalaman, sekaligus tanggung jawab untuk menghadirkan dakwah di tengah masyarakat pedalaman. Medannya tidak sederhana. Kondisi geografis, keterbatasan akses, perbedaan karakter masyarakat, hingga persoalan bahasa menjadi tantangan yang harus dihadapi. Masyarakat di kawasan pesisir dan pegunungan pun memiliki penggunaan bahasa yang berbeda.

Di tengah kondisi tersebut, keberadaan misionaris di sejumlah kawasan juga menjadi realitas yang harus diperhatikan dalam menjalankan dakwah. Tetapi Angga belajar bahwa menghadapi medan dakwah tidak cukup dengan membawa materi ceramah. Dai harus hadir terlebih dahulu sebelum didengar. Ia harus bergaul, memahami kehidupan masyarakat, mengenali kebutuhan mereka, dan membangun kepercayaan.

Sebab, dakwah di pedalaman bukan perlombaan siapa yang paling banyak berbicara. Dakwah adalah proses panjang untuk membuat masyarakat merasa bahwa seorang dai datang bukan sekadar untuk menyampaikan pesan, tetapi untuk berjalan bersama mereka.

Dakwah Dimulai dari Anak-Anak

Salah satu pintu yang digunakan Angga untuk mendekati masyarakat adalah anak-anak. Ia memberikan perhatian dan pembinaan kepada mereka. Perlahan, hubungan itu membuka ruang komunikasi yang lebih luas dengan keluarga. Ketika anak-anak mulai dekat dengan dai, orang tua pun semakin terbuka. Dari hubungan sederhana itulah kepercayaan tumbuh.

Pengalaman tersebut menjadi pelajaran penting bagi Angga bahwa dakwah tidak selalu harus dimulai dari forum besar, mimbar, atau ceramah panjang. Kadang, dakwah dimulai dari menemani anak belajar. Dari menyapa warga. Dari duduk bersama masyarakat. Dari hadir ketika mereka membutuhkan. Dan dari kesediaan seorang dai untuk menjadi bagian dari kehidupan masyarakat yang dilayaninya.

“Kalau Bisa Antum di Sini Selama-lamanya”

Ada satu momen yang paling membekas dalam perjalanan dakwah Angga. Ketika masa penugasannya harus berakhir dan ia bersiap melanjutkan amanah di tempat lain, masyarakat justru memintanya untuk tetap tinggal. “Mereka bilang, ‘Ustaz, kalau bisa antum di sini selama-lamanya," tuturnya.

Kalimat sederhana itu menunjukkan bahwa hubungan yang terbangun selama masa pengabdian telah melampaui hubungan antara dai dan jamaah. Ada kedekatan. Ada kepercayaan. Ada rasa kehilangan ketika seorang dai harus pergi. Namun, bagi Angga, dakwah tidak boleh berhenti hanya karena seorang dai meninggalkan tempat tugas. Ketika ia digantikan oleh dai berikutnya, ia berusaha menjelaskan kepada masyarakat bahwa pergantian dai bukan berarti berakhirnya dakwah. Dai boleh berganti. Tetapi dakwah harus terus berjalan.

Ketika Dai Berganti, Dakwah Harus Tetap Hidup

Di titik inilah ukuran keberhasilan seorang dai menjadi lebih luas. Dakwah bukan tentang membuat masyarakat bergantung kepada satu sosok. Justru seorang dai harus mampu menanamkan nilai-nilai Islam sehingga dakwah tetap tumbuh meskipun orang yang menyampaikannya berganti.

Angga memilih memandang pergantian dai sebagai estafet. Dai yang datang setelahnya bukan pengganti yang menghapus jejak pendahulunya, melainkan penerus amanah yang sama. Karena itu, meninggalkan sebuah daerah bukan berarti meninggalkan dakwah. Yang ditinggalkan bukan kekosongan, melainkan estafet.

Dari Belajar Iqra hingga Menjadi Dai

Perjalanan Ustaz Angga menjadi potret nyata bagaimana kaderisasi dakwah bekerja dalam rentang waktu yang panjang. Ia pernah berada pada titik ketika membaca Al-Qur’an saja masih harus belajar dari awal. Kini, ia kembali ke pedalaman sebagai seorang dai yang membawa ilmu dan pengalaman untuk dibagikan kepada masyarakat.

Perubahan itu tidak terjadi dalam semalam. Ada pembinaan. Ada pendidikan. Ada bimbingan para guru dan senior. Ada proses panjang di STID Mohammad Natsir. Dan ada pengalaman terjun langsung ke tengah masyarakat. Karena itu, pendidikan kader tidak berhenti ketika seorang mahasiswa menerima ijazah. Justru setelah itu, perjalanan pengabdian sesungguhnya dimulai.

Kisah Ustaz Angga memperlihatkan bahwa seorang kader dapat tumbuh dari keterbatasan, selama ia mendapatkan ruang untuk belajar, dibimbing, dan diberi kesempatan untuk mengabdi. Dari belajar membaca Al-Qur’an di masa awal perjuangannya, hingga kembali ke pedalaman Morowali Utara membawa dakwah—perjalanan Ustaz Angga menjadi pengingat bahwa seorang dai tidak selalu lahir dari mereka yang telah selesai belajar agama, tetapi dapat ditempa melalui proses untuk kemudian kembali menjadi pelita bagi masyarakat.

Humas Dewan Dakwah

Reportase: Bidang Pembinaan dan Penempatan Da'i Dewan Dakwah

Editor: Abu Dzakir

Berita Terkait

Da'iyah Muda Pulang Mengabdi ke NTT, Membina Masyarakat di Kupang Hingga Pesisir Flores Kabar Da'i
21 September 2026 • Oleh Admin Dewan Dakwah

Da'iyah Muda Pulang Mengabdi ke NTT, Membina Masyarakat di Kupang Hingga Pesisir Flores

Kupang, dewandakwah.or.id — Nama Bengkulu sempat tertulis dalam bayangan perjalanan Arbiatul Adawiyah, asal NTT. Saat surat penugasan dibacakan pada hari wisuda di STID Mohammad Natsir, alumni tersebut telah bersiap untuk menapaki medan dakwah di ujung barat Pulau Sumatera. Namun, perjalanan hidup membawanya ke arah berbeda. Panggilan pengabdian justru membawanya kembali ke tanah kelahirannya, Nusa Tenggara Timur (NTT). Di wilayah dengan masyarakat minoritas Muslim itu, Arbiatul mendapat amanah...

Menembus Kabut Asap, Menunaikan Tugas Dakwah di Kotawaringin Timur Kabar Da'i
21 September 2026 • Oleh Admin Dewan Dakwah

Menembus Kabut Asap, Menunaikan Tugas Dakwah di Kotawaringin Timur

Kalimantan Tengah, dewandakwah.or.id — Perjalanan para da’i Dewan Da’wah alumni STID Mohammad Natsir menuju medan dakwah di Kalimantan Tengah disambut pekatnya kabut asap sebelum akhirnya menjejakkan kaki di tanah tugas. Rombongan berangkat dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Jakarta, pada Rabu, 19 Agustus 2026 menuju Bandara H. Asan, Sampit, Kalimantan Tengah. Mereka terdiri atas Ustadz Ahmad Sobari, S.Sos., Ustadz Riski Al Ikhlas, S.Sos., bersama istrinya, Ustadzah Rahmaniah Daka, S.Sos...

18 Jam Membelah Samudra, Langkah Pengabdian Da’iyah di Ujung Barat Nusantara Kabar Da'i
17 September 2026 • Oleh Admin Dewan Dakwah

18 Jam Membelah Samudra, Langkah Pengabdian Da’iyah di Ujung Barat Nusantara

Mentawai, dewandakwah.or.id — Menempuh medan dakwah di Kepulauan Mentawai, Sumatra Barat, menuntut kesabaran ekstra sejak hari pertama keberangkatan. Itulah yang dirasakan oleh Ustadzah Sunarti Tuto Laba, S.Sos dan Ustadzah Ida Ayu Bukhori, S.Sos, da'iyah Alumni STID Mohammad Natsir. Perjalanan bukan hanya soal menembus jalur udara dan darat, melainkan juga kesiapan mengarungi Samudra Hindia selama belasan jam demi menyapa masyarakat pulau.