Kembali ke Daftar Berita
Kabar Da'i

Mengetuk Pintu, Menyentuh Hati: Kiprah Ustaz Zainul Hasan Menghidupkan Dakwah Al-Qur’an di Pedalaman Morowali Utara

Oleh Admin Dewan Dakwah • Minggu, 06 September 2026
Mengetuk Pintu, Menyentuh Hati: Kiprah Ustaz Zainul Hasan Menghidupkan Dakwah Al-Qur’an di Pedalaman Morowali Utara

Jakarta, dewandakwah.or.id — Malam telah turun ketika Ustaz Zainul Hasan, S.Sos. mulai melangkahkan kaki menuju rumah-rumah warga. Bukan menuju masjid dengan jamaah yang telah menunggu. Bukan pula ke ruang kelas dengan meja dan papan tulis. Ia berjalan dari rumah ke rumah.

Jakarta, dewandakwah.or.id — Malam telah turun ketika Ustaz Zainul Hasan, S.Sos. mulai melangkahkan kaki menuju rumah-rumah warga. Bukan menuju masjid dengan jamaah yang telah menunggu. Bukan pula ke ruang kelas dengan meja dan papan tulis. Ia berjalan dari rumah ke rumah.

Sekitar satu kilometer ditempuhnya setiap malam. Selama kurang lebih tiga bulan, langkah itu menjadi rutinitas: mendatangi warga, membuka mushaf, lalu mengajarkan huruf demi huruf Al-Qur’an kepada ibu-ibu yang sebelumnya belum lancar membaca. Begitulah dakwah berlangsung di pedalaman Morowali Utara, Sulawesi Tengah. Ketika masyarakat tidak bisa datang ke masjid karena harus bekerja, sang dai yang mendatangi mereka. “Kalau Ibu tidak mau mengaji ke masjid, saya yang datang ke rumahnya,” ungkap Ustaz Zainul.

Kisah tersebut disampaikan Ustaz Zainul dalam kegiatan Penyambutan Dai dan Daiah Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, Selasa (1/9/2026), di Aula Masjid Al-Furqan Dewan Dakwah, Jakarta. Di hadapan para dai yang baru menyelesaikan masa pengabdian, ia menceritakan bagaimana dakwah di pedalaman mengajarinya satu hal penting: sebelum mengajak masyarakat mendekat kepada agama, seorang dai harus terlebih dahulu mau mendekat kepada masyarakat.

Bukan Penugasan yang Dibayangkan

Jalan menuju Morowali Utara tidak pernah ada dalam bayangan awal Ustaz Zainul. Alumni ADI Surabaya itu kemudian melanjutkan pendidikan di STID Mohammad Natsir. Ia merupakan bagian dari enam angkatan yang dikirim Dewan Dakwah Jawa Timur untuk melanjutkan pendidikan di kampus tersebut. Seluruh peserta dari enam angkatan itu berhasil lolos dan melanjutkan pendidikan di STID Mohammad Natsir.

Setelah menyelesaikan pendidikan, tibalah waktunya menerima amanah pengabdian. Ketika mengisi pilihan lokasi penugasan, Ustaz Zainul berharap dapat ditempatkan di sebuah lembaga atau yayasan. Namun, amanah berkata lain. Ia justru dikirim ke pedalaman Morowali Utara.

Bayangan tentang medan dakwah yang jauh dari kenyamanan kota sempat membuatnya was-was. Jalan setapak, medan licin, dan perjalanan terjal menjadi gambaran yang menghantuinya. Pertanyaan sederhana pun muncul: Mampukah ia bertahan? Keraguan itu perlahan terjawab setelah ia tiba di lokasi.

Jangan Tunggu Mereka Datang

Di Morowali Utara, Ustaz Zainul mendapat pendampingan dari dai senior, Ustaz Yayan. Sebelum turun lebih jauh ke tengah masyarakat, ia dibekali pemahaman mengenai karakter warga dan pendekatan dakwah yang tepat. Ada satu pesan yang kemudian terus ia pegang: Datangi masyarakat. Jangan hanya menunggu mereka datang. Rumah ke rumah. Bahkan, kebun ke kebun.

Sebab sebagian masyarakat yang ditemuinya tidak selalu menetap di rumah. Untuk memenuhi kebutuhan hidup, mereka bisa tinggal di kebun selama berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan. Dakwah harus menyesuaikan dengan kehidupan mereka. Bukan memaksa masyarakat menyesuaikan diri dengan pola dakwah yang sudah ada.

Ustaz Zainul pun mulai belajar mengenal masyarakat Suku Tautawana yang ditemuinya. Ia menemukan karakter masyarakat yang baik, lembut, dan terbuka terhadap kehadiran para dai. Dari sanalah kedekatan mulai dibangun.

Satu Kilometer Setiap Malam

Salah satu ikhtiar yang kemudian dikembangkan Ustaz Zainul adalah pengajian Iqra dari rumah ke rumah. Program sederhana. Tetapi membutuhkan ketekunan. Selama sekitar tiga bulan, ia berjalan kaki setiap malam dari satu rumah menuju rumah lainnya. Jaraknya sekitar satu kilometer.

Tidak jauh jika ditempuh dengan kendaraan. Namun, perjalanan itu memiliki arti berbeda ketika harus dilakukan dengan berjalan kaki, malam demi malam, untuk menemui warga yang ingin belajar membaca Al-Qur’an. Awalnya sekitar tujuh ibu mengikuti pembinaan Iqra. Lima orang terus bertahan belajar. Dua lainnya terpaksa berhenti karena harus bekerja dari pagi hingga malam. Tetapi dari lima orang yang bertahan, lahir perkembangan yang bagi Ustaz Zainul jauh lebih berarti daripada sekadar angka.

Dua orang kini telah mampu membaca Al-Qur’an dengan lancar dan mulai memasuki Surah Al-Baqarah. Tidak ada panggung. Tidak ada sorotan. Tidak ada pengeras suara. Hanya seorang dai, beberapa warga, dan Al-Qur’an yang dibaca perlahan dari rumah ke rumah. Namun justru dari ruang-ruang sederhana itulah perubahan tumbuh.

Ketika Dakwah Berubah Menjadi Kekeluargaan

Ustaz Zainul datang bukan hanya membawa Al-Qur’an. Ia juga membawa kehadiran. Ia berusaha hadir dalam kehidupan sehari-hari masyarakat, berbagi makanan, memberikan motivasi kepada anak-anak agar tertarik datang ke masjid, sekaligus membangun komunikasi yang hangat dengan warga.

Lambat laun, batas antara dai dan masyarakat menjadi semakin cair. Mereka tidak lagi melihatnya sekadar sebagai orang yang datang mengajarkan agama. Ia mulai menjadi bagian dari keluarga. Masyarakat pun membalas perhatian itu dengan cara mereka sendiri. Ketika memiliki makanan, mereka tidak segan berbagi dengan sang dai.

Dakwah yang awalnya dimulai dari mengetuk pintu akhirnya membuka pintu yang jauh lebih dalam: pintu hati. Kedekatan itu bahkan membuat sebagian warga merasa berat membayangkan hari ketika sang dai harus meninggalkan mereka. Seorang warga pernah menyampaikan kalimat yang hingga kini membekas bagi Ustaz Zainul.“Ustadz, kalau nanti pulang tidak usah berpamitan. Langsung pergi saja." Bukan karena mereka tidak menghargai sang dai. Justru sebaliknya. Mereka khawatir tidak sanggup menahan kesedihan ketika harus melepas orang yang selama ini telah menjadi bagian dari kehidupan mereka.

Dakwah Tidak Selalu Tentang Kerumunan

Kisah Ustaz Zainul menjadi gambaran bahwa keberhasilan dakwah tidak selalu hadir dalam bentuk majelis besar dengan ratusan jamaah. Kadang ukurannya jauh lebih sederhana. Satu orang yang mulai mengenal huruf Al-Qur’an. Satu ibu yang akhirnya lancar membaca Al-Qur’an. Satu anak yang mulai tertarik datang ke masjid. Atau satu keluarga yang merasa memiliki tempat untuk belajar agama.

Bagi Ustaz Zainul, perubahan kecil semacam itu justru memiliki makna besar. Sebab dakwah bukan semata tentang berapa banyak orang yang hadir dalam sebuah kegiatan. Dakwah adalah tentang perubahan yang tumbuh di hati manusia.

Dari Langkah Kecil, Cahaya Itu Tumbuh

Pengalaman di pedalaman Morowali Utara menunjukkan bahwa seorang dai tidak cukup hanya membawa bekal ilmu agama. Ia juga membutuhkan kesabaran, kemampuan beradaptasi, kemauan untuk belajar memahami masyarakat, dan kesediaan untuk hadir di tengah kehidupan mereka.

Sebab di tempat-tempat seperti Morowali Utara, dakwah mungkin tidak dimulai dari mimbar. Ia dimulai dari sebuah langkah. Dari jalan setapak. Dari pintu rumah yang diketuk. Dari sapaan sederhana. Dari mushaf yang dibuka bersama. Dan dari seorang dai yang bersedia berkata: "Jika mereka belum bisa datang kepada kami, maka kami yang akan datang kepada mereka."

Langkah Ustaz Zainul mungkin hanya sekitar satu kilometer setiap malam. Namun dari langkah-langkah kecil itulah, cahaya Al-Qur’an perlahan menemukan jalannya—menyentuh rumah-rumah warga, menguatkan hati, dan menumbuhkan harapan di pedalaman Morowali Utara.

Humas Dewan Dakwah

Reportase: Bidang Pembinaan dan Penempatan Da’i Dewan Dakwah

Editor: Abu Dzakir

Berita Terkait

Da'iyah Muda Pulang Mengabdi ke NTT, Membina Masyarakat di Kupang Hingga Pesisir Flores Kabar Da'i
21 September 2026 • Oleh Admin Dewan Dakwah

Da'iyah Muda Pulang Mengabdi ke NTT, Membina Masyarakat di Kupang Hingga Pesisir Flores

Kupang, dewandakwah.or.id — Nama Bengkulu sempat tertulis dalam bayangan perjalanan Arbiatul Adawiyah, asal NTT. Saat surat penugasan dibacakan pada hari wisuda di STID Mohammad Natsir, alumni tersebut telah bersiap untuk menapaki medan dakwah di ujung barat Pulau Sumatera. Namun, perjalanan hidup membawanya ke arah berbeda. Panggilan pengabdian justru membawanya kembali ke tanah kelahirannya, Nusa Tenggara Timur (NTT). Di wilayah dengan masyarakat minoritas Muslim itu, Arbiatul mendapat amanah...

Menembus Kabut Asap, Menunaikan Tugas Dakwah di Kotawaringin Timur Kabar Da'i
21 September 2026 • Oleh Admin Dewan Dakwah

Menembus Kabut Asap, Menunaikan Tugas Dakwah di Kotawaringin Timur

Kalimantan Tengah, dewandakwah.or.id — Perjalanan para da’i Dewan Da’wah alumni STID Mohammad Natsir menuju medan dakwah di Kalimantan Tengah disambut pekatnya kabut asap sebelum akhirnya menjejakkan kaki di tanah tugas. Rombongan berangkat dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Jakarta, pada Rabu, 19 Agustus 2026 menuju Bandara H. Asan, Sampit, Kalimantan Tengah. Mereka terdiri atas Ustadz Ahmad Sobari, S.Sos., Ustadz Riski Al Ikhlas, S.Sos., bersama istrinya, Ustadzah Rahmaniah Daka, S.Sos...

18 Jam Membelah Samudra, Langkah Pengabdian Da’iyah di Ujung Barat Nusantara Kabar Da'i
17 September 2026 • Oleh Admin Dewan Dakwah

18 Jam Membelah Samudra, Langkah Pengabdian Da’iyah di Ujung Barat Nusantara

Mentawai, dewandakwah.or.id — Menempuh medan dakwah di Kepulauan Mentawai, Sumatra Barat, menuntut kesabaran ekstra sejak hari pertama keberangkatan. Itulah yang dirasakan oleh Ustadzah Sunarti Tuto Laba, S.Sos dan Ustadzah Ida Ayu Bukhori, S.Sos, da'iyah Alumni STID Mohammad Natsir. Perjalanan bukan hanya soal menembus jalur udara dan darat, melainkan juga kesiapan mengarungi Samudra Hindia selama belasan jam demi menyapa masyarakat pulau.