Kembali ke Daftar Berita
Kabar Da'i

Sedang Hamil Tua, Pasangan Da'i Menembus Pedalaman Seruyan

Oleh Admin Dewan Dakwah • Rabu, 16 September 2026
Sedang Hamil Tua, Pasangan Da'i Menembus Pedalaman Seruyan

Seruyan, dewandakwah.or.id — Perjalanan dakwah tidak hanya harus ditempuh dengan kendaraan, namun juga harus ditempuh dengan keberanian. Bagi seorang da’iyah yang tengah mengandung buah hati pertama dan memasuki trimester akhir, perjalanan menuju pedalaman Seruyan, Kalimantan Tengah, adalah keduanya.

Seruyan, dewandakwah.or.id — Perjalanan dakwah tidak hanya harus ditempuh dengan kendaraan, namun juga harus ditempuh dengan keberanian. Bagi seorang da’iyah yang tengah mengandung buah hati pertama dan memasuki trimester akhir, perjalanan menuju pedalaman Seruyan, Kalimantan Tengah, adalah keduanya.

Di satu sisi, ada rasa cemas yang sulit disembunyikan. Persalinan pertama sudah semakin dekat. Sementara jarak dengan orang tua dan mertua terbentang jauh. Namun di sisi lain, ada amanah dakwah yang telah menanti di sebuah desa yang tak mudah dijangkau. Itulah yang dirasakan Ustadzah Rahmaniah Daka, S. Sos dan Ustadz Rizki Al Ikhlas, S.Sos., dua Da'i muda Alumnus STID Mohammad Natsir. Restu keluarga dan penguatan sang suami akhirnya menjadi bekal untuk melangkah.

Rabu, 19 Agustus 2026, perjalanan dimulai sejak dini hari. Tepat pukul 02.00 WIB, Ustadzah Rahmaniah dan rombongan da'iyah bertolak dari Kampus Putri STID Mohammad Natsir menuju Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Sedangkan suami, Ustaz Rizki, berangkat terpisah dari Gedung Menara Dakwah Kramat Raya 45. Keduanya baru bertemu di terminal bandara. Rombongan penugasan dakwah ke Kalimantan Tengah berjumlah lima orang, terdiri atas tiga perempuan dan dua laki-laki.

Sekitar pukul 11.30 WIB, pesawat lepas landas menuju Sampit. Menjelang mendarat, pemandangan dari balik jendela pesawat menghadirkan wajah lain Kalimantan. Kepulan asap tebal terlihat di sejumlah titik, disertai jejak kebakaran yang membakar sebagian lahan. Setibanya di Bandara Sampit, rombongan disambut langsung Ketua Dewan Dakwah Kota Waringin Timur, Ustaz Dwi Sulistio, M. Ag, bersama istri, Ustazah Latifah Mujahidah, M. Pd. dan jajaran pengurus lainnya.

Menembus “Salju Kalimantan”

Keesokan harinya, Kamis, 20 Agustus 2026, perjalanan menuju Desa Ulak Batu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, dimulai. Sang da’iyah dijemput Ustaz Hairul bersama Kepala Desa Ulak Batu. Dari Sampit, perjalanan darat berlangsung sekitar lima jam. Jalan beraspal perlahan berganti menjadi jalur perkebunan kelapa sawit. Permukaan jalan yang bergelombang membuat kendaraan terus berguncang. Abu kecokelatan menyelimuti jalan dan pepohonan.

Warga setempat menyebutnya dengan istilah yang cukup unik: “salju Kalimantan.” Di tengah guncangan perjalanan dan kepulan asap dari titik-titik kebakaran hutan yang terlihat di sepanjang rute, sang da’iyah berusaha menjaga kondisi tubuh sekaligus kandungannya.

Perjalanan pun berlanjut. Setibanya di Desa Paren, kendaraan roda empat tak lagi bisa meneruskan perjalanan. Barang-barang kemudian dipindahkan ke cas atau klotok, perahu bermesin yang menjadi salah satu sarana transportasi utama masyarakat di wilayah tersebut. Deru mesin perahu memecah kesunyian sungai. Klotok membawa rombongan menyusuri sungai dengan air berwarna cokelat pekat. Di kanan-kiri, tebing curam berdiri dengan tanah yang terus terkikis abrasi. Jalur darat telah berakhir. Kini sungai menjadi jalan.

Meniti Tangga Curam Menjelang Magrib

Tantangan belum berhenti ketika perahu akhirnya merapat di tepi Desa Ulak Batu. Untuk mencapai permukiman warga, pasang da’i itu masih harus menaiki tangga curam yang berdiri tegak di tepian sungai. Sekitar 10 hingga 15 anak tangga harus dilalui satu per satu. Perlahan. Hati-hati.

Bukan hanya karena medan yang terjal, tetapi juga karena ada kehidupan kecil yang sedang dijaga di dalam rahimnya. Hingga akhirnya, tepat ketika azan Magrib berkumandang, kedua kakinya menapak di tanah Desa Ulak Batu. Ada rasa lelah yang luruh setelah perjalanan panjang—menembus udara, debu perkebunan sawit, jalan yang berguncang, sungai yang berarus, hingga tangga tepian desa yang terjal. Yang tersisa adalah haru. Di tempat yang jauh dari hiruk-pikuk kota itulah pengabdian dakwah dimulai. Di desa pedalaman itu pula, pasangan da’i itu bersiap menjalani hari-hari pengabdian sembari menanti kelahiran buah hati pertamanya.

Kisah perjalanan menuju Ulak Batu menjadi pengingat bahwa dakwah tidak selalu hadir di tempat yang mudah dijangkau. Ada kalanya ia harus ditempuh dengan jalan yang panjang, sungai yang berliku, medan yang berat, dan keberanian untuk meninggalkan zona nyaman. Di balik langkah para da’i dan da’iyah yang menjangkau pelosok Nusantara, ada dukungan umat yang ikut menguatkan. Zakat, infak, dan sedekah yang dititipkan melalui Laznas Dewan Dakwah menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan dakwah dan pembinaan umat di wilayah-wilayah terpencil. Sebab dakwah di pelosok bukan hanya tentang mereka yang berangkat. Ia juga tentang mereka yang membantu perjalanan itu tetap berlangsung.

Humas Dewan Dakwah

Reportase: Bidang Pembinaan dan Penempatan Da'i Dewan Dakwah

Editor: Abu Dzakir

Berita Terkait

Da'iyah Muda Pulang Mengabdi ke NTT, Membina Masyarakat di Kupang Hingga Pesisir Flores Kabar Da'i
21 September 2026 • Oleh Admin Dewan Dakwah

Da'iyah Muda Pulang Mengabdi ke NTT, Membina Masyarakat di Kupang Hingga Pesisir Flores

Kupang, dewandakwah.or.id — Nama Bengkulu sempat tertulis dalam bayangan perjalanan Arbiatul Adawiyah, asal NTT. Saat surat penugasan dibacakan pada hari wisuda di STID Mohammad Natsir, alumni tersebut telah bersiap untuk menapaki medan dakwah di ujung barat Pulau Sumatera. Namun, perjalanan hidup membawanya ke arah berbeda. Panggilan pengabdian justru membawanya kembali ke tanah kelahirannya, Nusa Tenggara Timur (NTT). Di wilayah dengan masyarakat minoritas Muslim itu, Arbiatul mendapat amanah...

Menembus Kabut Asap, Menunaikan Tugas Dakwah di Kotawaringin Timur Kabar Da'i
21 September 2026 • Oleh Admin Dewan Dakwah

Menembus Kabut Asap, Menunaikan Tugas Dakwah di Kotawaringin Timur

Kalimantan Tengah, dewandakwah.or.id — Perjalanan para da’i Dewan Da’wah alumni STID Mohammad Natsir menuju medan dakwah di Kalimantan Tengah disambut pekatnya kabut asap sebelum akhirnya menjejakkan kaki di tanah tugas. Rombongan berangkat dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Jakarta, pada Rabu, 19 Agustus 2026 menuju Bandara H. Asan, Sampit, Kalimantan Tengah. Mereka terdiri atas Ustadz Ahmad Sobari, S.Sos., Ustadz Riski Al Ikhlas, S.Sos., bersama istrinya, Ustadzah Rahmaniah Daka, S.Sos...

18 Jam Membelah Samudra, Langkah Pengabdian Da’iyah di Ujung Barat Nusantara Kabar Da'i
17 September 2026 • Oleh Admin Dewan Dakwah

18 Jam Membelah Samudra, Langkah Pengabdian Da’iyah di Ujung Barat Nusantara

Mentawai, dewandakwah.or.id — Menempuh medan dakwah di Kepulauan Mentawai, Sumatra Barat, menuntut kesabaran ekstra sejak hari pertama keberangkatan. Itulah yang dirasakan oleh Ustadzah Sunarti Tuto Laba, S.Sos dan Ustadzah Ida Ayu Bukhori, S.Sos, da'iyah Alumni STID Mohammad Natsir. Perjalanan bukan hanya soal menembus jalur udara dan darat, melainkan juga kesiapan mengarungi Samudra Hindia selama belasan jam demi menyapa masyarakat pulau.