Kembali ke Daftar Berita
Kabar Da'i

Tiga Jam Menembus Hutan dan Menyeberangi Sungai: Da’i Muda Dewan Dakwah Menembus Pedalaman Talang Mamak

Oleh Admin Dewan Dakwah • Senin, 31 Agustus 2026
Tiga Jam Menembus Hutan dan Menyeberangi Sungai: Da’i Muda Dewan Dakwah Menembus Pedalaman Talang Mamak

Riau, dewandakwah.or.id — Tidak ada sinyal. Tidak ada listrik. Jalan beraspal pun tak sampai ke sana. Di Dusun Nunusan, pedalaman Talang Mamak, Batang Gansal, Indragiri Hulu, Riau, malam datang bersama gulita. Hanya lampu masjid kecil bertenaga aki yang menjadi penerang bagi warga.

Riau, dewandakwah.or.id — Tidak ada sinyal. Tidak ada listrik. Jalan beraspal pun tak sampai ke sana. Di Dusun Nunusan, pedalaman Talang Mamak, Batang Gansal, Indragiri Hulu, Riau, malam datang bersama gulita. Hanya lampu masjid kecil bertenaga aki yang menjadi penerang bagi warga.

Namun, di tempat yang nyaris tak tersentuh fasilitas modern itulah seorang da’i muda memilih hadir. Namanya Ustadz Anggi Saputra Almingkabo. Ia ditugaskan untuk menjalankan amanah dakwah di tengah masyarakat pedalaman Talang Mamak. Untuk sampai ke sana, ia harus melewati perjalanan yang tidak sederhana.

Bahkan sebelum berangkat, kesabaran sudah lebih dulu diuji. Komunikasi dengan warga Nunusan tidak dapat dilakukan melalui pesan singkat atau sambungan telepon seperti pada umumnya. Tidak ada jaringan seluler yang menjangkau dusun tersebut. Warga harus berjalan keluar dari lebatnya hutan, mencari titik tertentu yang memiliki sinyal, hanya untuk menyampaikan kabar penjemputan.

Akibatnya, Ustadz Anggi harus menunggu hingga satu pekan di Pekanbaru sebelum akhirnya mendapat kepastian perjalanan menuju lokasi pengabdian. Ketika kabar itu datang, perjalanan pun dimulai. Dari Pekanbaru, rombongan menempuh perjalanan menuju Seberida. Perjalanan yang biasanya dapat ditempuh sekitar enam jam berubah menjadi sembilan jam akibat kondisi jalan di Pelalawan yang mengalami hambatan.

Rombongan tiba di Masjid Seberida selepas Isya. Masih ada sekitar tiga jam perjalanan menuju Nunusan. Namun, malam telah pekat. Hutan yang harus dilewati bukan sekadar jalan biasa. Risiko satwa liar dan medan yang sulit membuat perjalanan malam hari terlalu berbahaya. Rombongan akhirnya memutuskan bermalam di Batang Gansal, menumpang di rumah kerabat warga.

Pagi harinya, perjalanan dilanjutkan. Tetapi kali ini kendaraan roda empat tak lagi bisa membawa mereka lebih jauh. Di depan terbentang jalan setapak tanah dengan tanjakan dan turunan tajam, sebagian berada di bibir jurang. Dua sepeda motor digunakan untuk membawa barang-barang yang diperlukan.

Hutan pun mulai ditaklukkan selangkah demi selangkah. Perjalanan belum selesai. Beberapa kali rombongan harus menyeberangi Sungai Batang Gansal menggunakan rakit yang ditarik dengan tali. Salah satu sepeda motor bahkan sempat terendam air dan mogok ketika menyeberangi sungai. Namun perjalanan tetap diteruskan. Hingga akhirnya, tepat tengah hari, setelah menempuh perjalanan panjang, rombongan tiba di Dusun Nunusan.

Di sanalah suasana benar-benar berbeda. Tidak ada tiang listrik. Tidak ada dering telepon. Tidak ada jaringan internet yang dapat diandalkan. Ketika malam tiba, seluruh dusun berubah menjadi gelap. Hanya cahaya dari lampu masjid kecil bertenaga aki yang masih menyala. Di tempat seperti inilah makna dakwah terasa begitu nyata.

Dakwah bukan sekadar berbicara di hadapan banyak orang. Dakwah juga berarti bersedia datang, tinggal, mengenal, mendengar, dan membersamai masyarakat—bahkan ketika untuk sampai ke sana harus menempuh hutan dan menyeberangi sungai.

Memulai Dakwah dengan Menghormati Adat

Setibanya di Nunusan, Ustadz Anggi tidak langsung menjalankan aktivitas dakwah. Ia terlebih dahulu membangun komunikasi dengan tokoh adat setempat. Pada Rabu (26/8/2026), Ustadz Anggi bersilaturahmi dengan kepala adat Dusun Nunusan. Pertemuan tersebut menjadi langkah awal untuk mempererat hubungan sekaligus meminta arahan dan izin sebelum menjalankan aktivitas dakwah di tengah masyarakat Talang Mamak.

Dalam pertemuan itu, kepala adat juga menceritakan sejarah Dusun Nunusan serta memberikan berbagai arahan kepada Ustadz Anggi. “Alhamdulillah, kami bisa bersilaturahmi dengan kepala adat Dusun Nunusan Pedalaman Talang Mamak. Bukan sekadar silaturahmi, beliau juga memberikan arahan dan menceritakan bagaimana sejarah Dusun Nunusan,” ujar Anggi.

Menurutnya, silaturahmi dengan tokoh adat menjadi bagian penting sebelum menjalankan amanah dakwah di tengah masyarakat. “Kegiatan ini bertujuan untuk mempererat hubungan silaturahmi dengan tokoh adat sekaligus meminta izin untuk menjalankan aktivitas dakwah ke depan,” katanya.

Langkah itu menunjukkan bahwa dakwah tidak hanya membutuhkan keberanian untuk datang, tetapi juga kebijaksanaan untuk memahami masyarakat yang menjadi tempat pengabdian.

Di Nunusan, Ustadz Anggi tidak hanya membawa pesan dakwah. Ia juga membawa amanah dari lembaga dan para donatur yang mempercayakan dukungan mereka untuk dakwah pedalaman. Perjalanan panjang menuju dusun itu akhirnya bukan sekadar cerita tentang hutan, sungai, motor yang mogok, atau ketiadaan listrik. Ia adalah cerita tentang sebuah cahaya yang sedang diupayakan tetap menyala. Cahaya itu mungkin hanya berasal dari sebuah lampu aki di masjid kecil.

Tetapi dari sanalah, ikhtiar dakwah terus dimulai. Sebab di tempat yang paling jauh sekalipun, dakwah tidak boleh berhenti.

Humas Dewan Dakwah

Reportase: Bidang Pembinaan dan Penempatan Da'i Dewan Dakwah

Editor: Abu Dzakir

Berita Terkait

Da'iyah Muda Pulang Mengabdi ke NTT, Membina Masyarakat di Kupang Hingga Pesisir Flores Kabar Da'i
21 September 2026 • Oleh Admin Dewan Dakwah

Da'iyah Muda Pulang Mengabdi ke NTT, Membina Masyarakat di Kupang Hingga Pesisir Flores

Kupang, dewandakwah.or.id — Nama Bengkulu sempat tertulis dalam bayangan perjalanan Arbiatul Adawiyah, asal NTT. Saat surat penugasan dibacakan pada hari wisuda di STID Mohammad Natsir, alumni tersebut telah bersiap untuk menapaki medan dakwah di ujung barat Pulau Sumatera. Namun, perjalanan hidup membawanya ke arah berbeda. Panggilan pengabdian justru membawanya kembali ke tanah kelahirannya, Nusa Tenggara Timur (NTT). Di wilayah dengan masyarakat minoritas Muslim itu, Arbiatul mendapat amanah...

Menembus Kabut Asap, Menunaikan Tugas Dakwah di Kotawaringin Timur Kabar Da'i
21 September 2026 • Oleh Admin Dewan Dakwah

Menembus Kabut Asap, Menunaikan Tugas Dakwah di Kotawaringin Timur

Kalimantan Tengah, dewandakwah.or.id — Perjalanan para da’i Dewan Da’wah alumni STID Mohammad Natsir menuju medan dakwah di Kalimantan Tengah disambut pekatnya kabut asap sebelum akhirnya menjejakkan kaki di tanah tugas. Rombongan berangkat dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Jakarta, pada Rabu, 19 Agustus 2026 menuju Bandara H. Asan, Sampit, Kalimantan Tengah. Mereka terdiri atas Ustadz Ahmad Sobari, S.Sos., Ustadz Riski Al Ikhlas, S.Sos., bersama istrinya, Ustadzah Rahmaniah Daka, S.Sos...

18 Jam Membelah Samudra, Langkah Pengabdian Da’iyah di Ujung Barat Nusantara Kabar Da'i
17 September 2026 • Oleh Admin Dewan Dakwah

18 Jam Membelah Samudra, Langkah Pengabdian Da’iyah di Ujung Barat Nusantara

Mentawai, dewandakwah.or.id — Menempuh medan dakwah di Kepulauan Mentawai, Sumatra Barat, menuntut kesabaran ekstra sejak hari pertama keberangkatan. Itulah yang dirasakan oleh Ustadzah Sunarti Tuto Laba, S.Sos dan Ustadzah Ida Ayu Bukhori, S.Sos, da'iyah Alumni STID Mohammad Natsir. Perjalanan bukan hanya soal menembus jalur udara dan darat, melainkan juga kesiapan mengarungi Samudra Hindia selama belasan jam demi menyapa masyarakat pulau.