Tiga Kali Terjatuh di Lereng Bukit Winangkabino, Dua Da’iyah Perkuat Pembinaan di Pedalaman Morowali Utara
Morowali Utara, dewandakwah.or.id — Tiga kali tubuh itu terjatuh dari sepeda motor. Lumpur menempel di pakaian, debu memenuhi tubuh, sementara jalan di hadapan masih berupa tanjakan terjal yang berliku di lereng bukit. Namun perjalanan belum boleh berhenti. Bagi Ustazah Yurnela Hendri, S.Sos & Ustazah Rice Ramayanti S.Sos, jatuh di tengah perjalanan bukan alasan untuk kembali. Di ujung jalur berbatu dan berlumpur itu, warga Desa Winangkabino telah menunggu.
Morowali Utara, dewandakwah.or.id — Tiga kali tubuh itu terjatuh dari sepeda motor. Lumpur menempel di pakaian, debu memenuhi tubuh, sementara jalan di hadapan masih berupa tanjakan terjal yang berliku di lereng bukit.
Namun perjalanan belum boleh berhenti. Bagi Ustazah Yurnela Hendri, S.Sos & Ustazah Rice Ramayanti S.Sos, jatuh di tengah perjalanan bukan alasan untuk kembali. Di ujung jalur berbatu dan berlumpur itu, warga Desa Winangkabino telah menunggu.
Perjalanan menuju pedalaman Morowali Utara, Sulawesi Tengah, bermula dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta pada 19 Agustus 2026 pukul 09.05 WIB. Ada rasa gundah yang menyelinap ketika pesawat mulai meninggalkan landasan. Tujuannya bukan sekadar sebuah daerah baru. Morowali Utara merupakan salah satu wilayah yang memiliki kaitan dengan sejarah panjang perhatian dakwah Bapak Mohammad Natsir. Namun, ujian pertama bahkan datang sebelum kaki menginjak tanah Morowali Utara.
Berlari Mengejar Pesawat
Pesawat mendarat di bandara transit Sulawesi sekitar pukul 13.05 WITA. Sang da’iyah berjalan santai menuju ruang tunggu. Ia tidak menyadari satu hal penting: jam pada telepon genggamnya masih menunjukkan zona waktu WIB. Penerbangan lanjutan menuju Luwuk dijadwalkan pukul 14.05 WITA. Tiba-tiba terdengar pengumuman. "Penumpang tujuan Luwuk, pintu pesawat akan segera ditutup."
Langkah santai seketika berubah menjadi kepanikan. Ia berlari melintasi terminal sembari menenteng buku-buku yang telah disiapkan sebagai bekal mengajar di lokasi pengabdian. Napas terengah-engah, keringat bercucuran. Pintu pesawat nyaris ditutup ketika ia tiba. Beruntung, ia berhasil masuk. Sekitar pukul 15.30 WITA, pesawat mendarat dengan selamat di Bandara Luwuk. Namun, perjalanan menuju lokasi pengabdian masih jauh.
Menyusuri Jejak Perjuangan di Morowali Utara
Sekitar pukul 17.00 WITA, perjalanan darat kembali dilanjutkan. Tim Dewan Dakwah Morowali Utara datang menjemput. Sepanjang perjalanan, percakapan mengalir. Bukan sekadar obrolan perjalanan, tetapi tentang kondisi dakwah yang sebenarnya di lapangan—tentang masyarakat, pendidikan, keterbatasan tenaga pengajar, dan perjuangan membangun pembinaan Islam di wilayah yang jauh dari pusat kota.
Setibanya di Pondok Pesantren Dewan Dakwah Morowali Utara, rasa haru bercampur kagum. Bangunan yang berdiri masih sederhana. Fasilitasnya belum sepenuhnya memadai untuk sebuah lembaga pendidikan pesantren.
Namun justru dari kesederhanaan itu terlihat besarnya perjuangan. Cerita tentang ikhtiar Ustaz Sigit bersama tim setempat dalam membangun fasilitas pendidikan perlahan membuat sang da’iyah memahami satu hal: dakwah di pedalaman tidak dibangun dalam semalam. Ia dibangun sedikit demi sedikit, dengan kesabaran dan keteguhan.
Tiga Kali Jatuh di Lereng Winangkabino
Ujian fisik yang sebenarnya datang pada Ahad, 21 Agustus 2026. Pukul 10.00 WITA, perjalanan dakwah perdana menuju Desa Winangkabino dimulai. Sepeda motor non-matik menjadi kendaraan yang digunakan untuk menembus jalur pedalaman. Aspal sudah lama berakhir.
Jalan yang dilalui berupa jalur tanah di lereng bukit. Kontur terjal, lumpur, pasir, dan batu-batu lepas membuat perjalanan menjadi tidak mudah. Warga setempat bahkan bersyukur dengan keberadaan jalur tersebut. Sebelumnya, kawasan itu hanyalah perbukitan tanpa akses jalan yang bisa dilalui kendaraan. Perjalanan yang dalam kondisi normal dapat ditempuh sekitar satu jam berubah menjadi tiga jam. Motor beberapa kali kehilangan keseimbangan.
Tiga kali sang da’iyah terjatuh
Jalur licin membuat roda tergelincir. Di beberapa titik, jurang terbuka di sisi jalan. Sedikit saja salah mengambil lajur, risikonya bukan sekadar pakaian kotor atau tubuh yang lecet. Namun ia kembali bangkit, melanjutkan perjalanan.
Hingga sekitar pukul 13.15 WITA, perjuangan itu akhirnya sampai di tujuan. Sang da’iyah menginjakkan kaki di Desa Winangkabino dengan pakaian lusuh dan tubuh berbalut debu tanah.
Tetapi pemandangan berikutnya mengubah semuanya. Di hadapannya, ibu-ibu desa menyambut dengan senyum yang hangat. Hidangan sederhana telah disiapkan, tak ada kemewahan. Namun ada sesuatu yang jauh lebih berharga: penantian warga terhadap hadirnya seorang pengajar. Rasa sakit akibat jatuh, lelah selama perjalanan, dan panjangnya jalur yang ditempuh seakan terbayar ketika melihat wajah-wajah yang menyambutnya.
Ketika Jalan Sulit Menjadi Jalan Ilmu
Keterbatasan tenaga pengajar selama ini menjadi salah satu tantangan dalam menjaga keberlangsungan pembinaan santri dan masyarakat di Morowali Utara. Karena itu, kehadiran da’iyah di Winangkabino bukan sekadar mengisi sebuah penempatan. Ia hadir untuk mendampingi warga belajar, membersamai para santri, menguatkan pembinaan keislaman, dan menjaga agar denyut ilmu tidak terputus hanya karena sebuah desa berada jauh dari pusat kota.
Jalan menuju Winangkabino memang terjal. Tetapi justru di jalan itulah makna pengabdian menemukan bentuknya. Dari pesawat yang nyaris ditinggalkan, perjalanan darat yang panjang, hingga tiga kali jatuh di lereng bukit, semuanya menjadi bagian dari satu ikhtiar: memastikan dakwah dan pendidikan Islam tetap hadir di tempat-tempat yang sulit dijangkau.
Langkah itu pun tidak berdiri sendiri. Perjalanan para da’i dan da’iyah ke pedalaman dapat terus berlangsung berkat dukungan zakat, infak, dan sedekah dari para donatur melalui Laznas Dewan Dakwah. Dari kota hingga lereng perbukitan, dari jalan beraspal hingga jalur berlumpur, dukungan umat menjadi energi yang menjaga para pejuang dakwah tetap melangkah. Sebab terkadang, jalan menuju ilmu memang tidak selalu mudah. Tetapi selama masih ada yang bersedia berjalan, pelita dakwah tidak akan padam.
Humas Dewan Dakwah
Reportase: Bidang Pembinaan dan Penempatan Da'i Dewan Dakwah
Editor: Abu Dzakir
Berita Terkait
Kabar Da'i
Da'iyah Muda Pulang Mengabdi ke NTT, Membina Masyarakat di Kupang Hingga Pesisir Flores
Kupang, dewandakwah.or.id — Nama Bengkulu sempat tertulis dalam bayangan perjalanan Arbiatul Adawiyah, asal NTT. Saat surat penugasan dibacakan pada hari wisuda di STID Mohammad Natsir, alumni tersebut telah bersiap untuk menapaki medan dakwah di ujung barat Pulau Sumatera. Namun, perjalanan hidup membawanya ke arah berbeda. Panggilan pengabdian justru membawanya kembali ke tanah kelahirannya, Nusa Tenggara Timur (NTT). Di wilayah dengan masyarakat minoritas Muslim itu, Arbiatul mendapat amanah...
Kabar Da'i
Menembus Kabut Asap, Menunaikan Tugas Dakwah di Kotawaringin Timur
Kalimantan Tengah, dewandakwah.or.id — Perjalanan para da’i Dewan Da’wah alumni STID Mohammad Natsir menuju medan dakwah di Kalimantan Tengah disambut pekatnya kabut asap sebelum akhirnya menjejakkan kaki di tanah tugas. Rombongan berangkat dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Jakarta, pada Rabu, 19 Agustus 2026 menuju Bandara H. Asan, Sampit, Kalimantan Tengah. Mereka terdiri atas Ustadz Ahmad Sobari, S.Sos., Ustadz Riski Al Ikhlas, S.Sos., bersama istrinya, Ustadzah Rahmaniah Daka, S.Sos...
Kabar Da'i
18 Jam Membelah Samudra, Langkah Pengabdian Da’iyah di Ujung Barat Nusantara
Mentawai, dewandakwah.or.id — Menempuh medan dakwah di Kepulauan Mentawai, Sumatra Barat, menuntut kesabaran ekstra sejak hari pertama keberangkatan. Itulah yang dirasakan oleh Ustadzah Sunarti Tuto Laba, S.Sos dan Ustadzah Ida Ayu Bukhori, S.Sos, da'iyah Alumni STID Mohammad Natsir. Perjalanan bukan hanya soal menembus jalur udara dan darat, melainkan juga kesiapan mengarungi Samudra Hindia selama belasan jam demi menyapa masyarakat pulau.