Dewan Dakwah Bergegas Hadapi Ahmadiyah Terkait Uji Materi UU/ NO.1/ PNPS/ 1965

Sebagai pihak terkait dalam sidang MK atas yudicial review yang diajukan pihak pemohon Ahmadiyah, pada hari kamis tertanggal 25 January 2018 Dewan Da’wah telah menyiapkan segenap ahli untuk bisa dihadirkan dalam persidangan ke-13 yang akan digelar pada hari Rabu, tanggal 31 January 2018 pukul 11.00 WIB.

Rapat terbatas yang dihadiri Drs. H. Mohammad Siddik, MA. (Ketua Umum Dewan Da’wah), KH. Abdul Wahid Alwy, MA. (Wakil Ketua), H. Amlir Syaifa Yasin, MA. (Wakil Ketua), H. Avid Sholihin, MM. (Sekretaris Umum), H.M. Amin Djamaluddin (Anggota Pusat Kajian dan Peneliti LPPI), H.T. Romly Qomaruddien, MA. (Bidang Ghazwul Fikri Pusat Kajian) dan Hadi Nur Ramadan (Bidang Dokumentasi & Data Pusat Kajian) bersama Tim Kuasa Hukum yang dipimpin Ahmad Laksono SH. in syaa Allah telah siap menghadapi jihad konstitusi ini.

Para ahli yang telah menyatakan kesiapannya, untuk sementara dibagi menjadi dua gelombang seiring dengan kebijakan Majlis Hakim. Adapun nama-nama ahli untuk gelombang pertama terdiri dari:

1. Dr. Daud Rasyid, MA. (untuk masalah teologi dan filsafat)
2. H.M. Amin Djamaluddin (untuk masalah literatur dan fakta)
3. Dr. Abdul Chair Ramadhan (untuk masalah hukum pidana)

Sedangkan untuk gelombang kedua, terdiri dari:
1. Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra (untuk masalah kebijakan hukum tata negara)
2. H. Amidan Sibareh (untuk masalah Hak Asasi Manusia)
3. Prof. Dr. Musni Umar (untuk masalah sosio-politik)

Untuk berikutnya, disiapkan pula Dr. Tiar Anwar Bachtiar (Pengurus PERSIS dan Peneliti INSISTS untuk masalah kesejarahan) dan Dr. Ahmad Zein an-Najah (Ketua Majlis Fatwa Dewan Da’wah dan MIUMI untuk masalah hukum Islam).

Memperkuat kesaksian ahli yang dihadirkan sebelumnya pihak kuasa Hukum dari MUI (Dr. Maneger Nasution, KH. Aminuddin Ya’qub, MA., Prof. Dr. Amin Suma dan Prof. Dr. Saeful Bahri), Dewan Da’wah pun mengajak seluruh komponen ormas-ormas Islam dapat melayangkan keberatan atas gugatan Ahmadiyah tersebut. Semua itu dilakukan semata-mata dalam rangka memelihara akidah dan syari’ah ummat (ri’aayatul ummat ‘aqiedatan wa syarie’atan) serta merawat keutuhan negara yang menjunjung tinggi nilai-nilai agama di atas kesepakatan hukum.