Dewan Da’wah Touna Latih Minoritas Muslim Padafuyu Jauhi Riba

Dewan Da’wah News, Padafuyu – Dewan Da’wah Touna, Sulteng bersama da’i Dewan Da’wah Pusat berinisiatif meringankan beban ekononmi minoritas muslim Padafuyu, Sulteng.

Adalah Ustadz Ghozali, S.Sos, sarjana lulusan Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah (STID) Mohammad Natsir adalah da’i yang diutus oleh Dewan Da’wah untuk berdakwah di daerah terpencil, Dusun Padafuyu Desa Takibangke kec. Ulubongka Kab. Tojo una-una (disingkat Touna), Sulawesi Tengah.

Dewan Da’wah Touna bersama sang da’i membuat perencanaan dakwah salah satunya membantu warga muslim Padafuyu agar mandiri secara ekonomi, tujuannya agar tidak kalah dengan warga sekitar mengingat jumlah mereka yang masih minoritas.

Bentuk bantuannya berupa barang kebutuhan pokok harian yang siap di jual, dipinjaman dengan sistem pengembalian pinjaman pokok secara berangsur tanpa bunga maupun margin. Metode yang Dewan Da’wah Touna dan Ust. Ghozali pakai ini adalah prinsip pinjam-meminjam Islam yang tentunya bebas dari riba.

“Setelah pinjaman tersebut dikembalikan, kemudian akan digulirkan lagi kepada yang lain untuk menebar manfaat yang lebih besar bagi masyarakat binaan yang kurang mampu dari aspek ekonomi,” kata Ketua Dewan Da’wah Touna, Ustadz Marwin.

Masih dalam suasana Idul Qurban waktu itu, tepatnya pada hari Selasa (13/8/2019) bantuan tersebut diberikan kepada warga Padafuyu yang diwakili Ust. Ghozali.

Papa Mida, nama penerima bantuan merasa beruntung dan mengucapkan terima kasih kepada donatur yang telah menginfaqkan hartanya di jalan Allah.

“Terima kasih Dewan Da’wah karena telah membantu saya khususnya untuk membuka warung sebagai usaha tambahan, karena selama ini saya hanya bertani jagung yang di sini harganya sangat murah. Terima kasih karena sudah membantu kaum muslimin di sini untuk bisa belanja di warung saudara Muslim,” kata Papa Mida.

Kemudian Papa Mida dibantu kaum muslimin di sana membangun warung Muslim pertama di Dusun Padafuyu.

Dusun Padafuyu adalah kampung minoritas muslim, yang didiami sekitar 70-80 KK, 70% diantaranya adalah Kristen, selebihnya muslim.

Dari sekitar 25 KK muslim, tak seorang pun memiliki warung, sehingga kebutuhan sehari hari, mau tidak mau belanja di warung ummat Kristen. Hal tersebut dikarenakan keterbatasan ekonomi yang mereka miliki.

(Tamam/DDN)