Memilih Partai Yang Benar Untuk Muslim

Oleh: Dr. Tgk. Hasanuddin Yusuf Adan M.C.L. M.A. (Ketua Umum DDII Aceh dan Dosen UIN Ar-Raniry)

Melihat plural dan membludaknya partai politik dalam sesuatu negara mayoritas muslim membuat ummat Islam yang kuat akidahnya menjadi kalang kabut dan gamang dalam menentukan sikapnya. Di satu sisi mereka terikat dengan hubungan emosional keluarga, orang sekampung, pembantunya dalam kesulitan, namun di sisi lain orang-orang yang punya hubungan emosional semacam itu terkadang bukan orang Islam, atau minimal seorang muslim tidak tha’at atau seorang muslim tha’at tetapi berada dalam partai non Islam.

Dalam kondisi semisal itu membuat ummat Islam yang termasuk dalam kategori educated people berada pada posisi dilematis. Di satu sisi dia cintakan Islam dan menginginkan partai pilihannya bersama orang partainya berprinsip dan bersikap sama dengannya, namun kehendak dan keinginannya sulit terwujud. Dalam situasi semacam itu apa yang rakyat Islam harus lakukan untuk menjawab dilematis yang ada, mereka tidak boleh melihat kepentingan sesa’at yang sifatnya materialis tetapi membawa akibat fatal bagi eksistensi ‘aqidah Islamiyyah yang menjadi tolok ukur mengisyaratkan seseorang itu muslim atau kafir, atau munafik, atau musyrik, atau murtad, atau apa saja nama lainnya yang keluar dari ketentuan akidah dan syari’ah.

Bagi seseorang muslim yang berada dalam bingkai uneducated people sering kepentingan sesa’at itu dimanfa’atkan karena mereka tidak tau dan tidak mau tahu apa yang bakal terjadi di masa depan dengan agama yang mereka anut hari ini. Mereka sering tidak tau kalau efek dari money politics itu dapat menukar posisi mayoritas muslim dalam sesuatu negara menjadi minoritas pada suatu masa nanti. Mereka juga tidak tau kalau minoritas non muslim akan menjadi mayoritas pada waktu yang lain pula. Oleh karena itu educated people berkewajiban untuk memahamkan kondisi tersebut kepada uneducated people agar mereka tidak tertipu dengan nikmat sesa’at yang dianggapnya manfa’at tetapi menjadi racun dan mudharat dalam waktu yang lama.

Mengenal Partai-Partai

Secara ideologis partai politik itu terbagi kepada tiga golongan, yaitu partai politik Islam, partai politik kafir, dan partai politik sekuler. Secara historis-filosofis partai politik itu sangat banyak manakala dihitung semenjak awal mula lahirnya partai politik dalam kancah perpolitikan bangsa-bangsa, yaitu semua partai politik yang pernah ada baik dari kalangan partai Islam, partai kafir maupun partai sekuler. Semua prilaku dan arahan konstitusi partai politik tersebut telah membuat dunia dan negara-negara di dunia hari ini menjadi seperti ini.

Partai politik Islam adalah partai-partai yang dalam anggaran dasarnya tercantum berazaskan Islam dengan tujuan berjuang untuk mempertahankan, memajukan Islam dan menjalankan hukum Islam dalam wilayah kekuasaannya. Dengan demikian kalau ada partai Islam tetapi para anggotanya tidak membela Islam apalagi ada usaha melemahkan Islam dan syari’atnya, maka partai Islam tersebut sudah diselewengkan oleh para anggotanya. Maka partainya tetap partai Islam tetapi para anggotanya yang tidak Islami serta mengkhianati konstitusi partai. Kader dan orang partai semacam itu ibarat pemain bola yang memasukkan bola ke gawang sendiri, prilaku politikus partai Islam yang berusaha untuk memenangkan kafir jadi pemimpin ummat Islam, atau meninggalkan hukum Islam dengan menjalankan hukum lain ciptaan manusia, atau ketika memperoleh kuasa membantu kafir seraya mendiskreditkan ummat Islam, memasang anggota kabinet dan para pembantunya dari kalangan kafir, mereka butul-betul seperti pemain bola yang mencetakkan goal ke gawang sendiri. Itu bermakna ada sesuatu yang tidak beres pada orang-orang semacam itu yang dalam terminology ke-Aceh-an disebut Panténgöng.

Partai politik kafir adalah partai-partai politik yang didirikan dan dimenej oleh orang-orang kafir (apa saja agamanya) selain Islam dengan dasar partainya berupa ideologi agamanya masing-masing dan bergerak, bekerja serta beramal untuk kepentingan agama mereka masing-masing yang langsung atau tidak langsung biasanya berlawanan dengan prinsip-prinsip partai politik Islam. Termasuk juga kedalam kategori partai kafir adalah partai-partai politik yang didirikan oleh penganut ideologi komunis-atheis walaupun mereka menganut sesuatu agama seperti agama Islam, Kristen, Hindu, Budha, Kong Hu Chu, dan sebagainya. Hal ini disebabkan karena ideologi komunis-atheis tidak mengakui adanya tuhan dan menolak agama-agama dalam kehidupan.

Sementara partai sekuler adalah sesuatu partai yang didirikan oleh orang-orang beragama tetapi tidak memberikan azas partai politiknya sesuai dengan doktrin agamanya. Misalnya ada sejumlah ummat Islam, ummat Kristiani, ummat Hindu, ummat Budha dan lainnya mendirikan partai politik dengan dasar atau azas partainya Pancasila, maka partai tersebut tergabung kedalam kategori partai sekuler. Partai sekuler tersebut berupaya mengumpulkan sebanyak-banyaknya warga negara apapun agamanya bergabung dan memilih partainya dengan meninggalkan doktrin dan keyakinan agama masing-masing. Partai sekuler biasanya wujud dalam negara-negara yang multi agama seperti Indonesia, Malaysia, Bangladesh, Pakistan, dan lainnya. Ada juga partai sekuler yang wujud dalam negara yang beragama tunggal manakala partai tersebut membebaskan diri dari doktrin agama sehingga agama dipisahkan dengan politik, dan negara diasingkan dari campurtangan agama.

Memilih Partai Yang Benar

Secara logis dan objektif ummat manusia harus mengakui kalau doktrin Islam itu sangat representatif, komprehensif, ideologis, dan strategis untuk keberlangsungan dan kesejahteraan kehidupan ummat manusia. Ketika doktrin tersebut disadurkan secara penuh kedalam partai Islam maka partai Islam tersebut akan dapat menjadi rule model bagi perpolitikan bangsa-bangsa di dunia dan layak diikuti serta dipilih oleh ummat manusia apapun agama mereka. Hal ini terbukti ketika partai Islam berkuasa di sesuatu negara maka ummat agama selain Islam bisa hidup dengan aman, tenang, tenteram, dan bahagia seperti di Indonesia dalam zaman kemenangan partai Masyumi, di Mesir dalam masa kejayaan Ikhwanul Muslimin, di Malaysia pada wilayah-wilayah yang dimenangi Partai Islam Se Malaysia (PAS).

Namun manakala partai non Islam menang di sesuatu negara maka ummat Islam sering menjadi objek penganiayaan rezim dan anggota partai tersebut seperti yang terjadi terhadap muslim Rohingya di Myanmar, muslim Uyghur di Tiongkok, pembantaian ummat Islam oleh Yahudi di Palestina, ummat Islam Pattani di Thailand Selatan, ummat Islam Moro di Filipina Selatan, dan lainnya. Atau apabila partai Islam menang dalam sesuatu pemilihan umum maka non muslim bersama dengan kaum sekuler mengkudeta kemenangan ummat Islam seperti yang terjadi di Aljazair ketika Front Islamic du Salut (FIS) memenangi pemilu dalam tahun 1991yang dilakukan kaum sekuler dan dibantu oleh militer Perancis sebagai mantan penjajahnya, di Mesir ketika Mohammad Mursi terpilih menjadi presiden kemudian dikudeta oleh jenderal Mohammad Al-Sisi atas kerjasamanya dengan Amerika Serikat 3 Juli 2013.

Dengan kondisi seperti itu apa yang harus dilakukan ummat Islam terkait dengan memilih partai yang benar? Apakah ummat Islam harus bergabung dengan pihak berkuasa walaupun pihak tersebut non muslim atau muslim sekuler? Jawabannya tidak. Apakah ummat Islam harus pasif, diam dan tidak peduli politik? Jawabannya bukan. Apakah ummat Islam harus ikut penjahat untuk sama-sama menghhancurkan Islam dan ummat Islam? Jawabannya lebih tidak lagi, lebih dari tidak dan lebih dari bukan. Lalu apa yang harus dilakukan ummat Islam? Ummat Islam wajib memilih partai Islam yang benar-benar partai Islam sebagai wadah dan media perjuangan untuk eksistensi dan kemajuan Islam dan ummat Islam dengan segala resiko yang bakal dihadapi.

Dengan kondisi politik dunia hari ini yang disunglap dengan label demokrasi oleh para pemain acrobat dunia maka ummat Islam wajib mendirikan, memurnikan, memilih dan memajukan partai Islam untuk keberlangsungan Islam dan ummatnya khususnya dalam mengelola negara dan menjayakan agama. Langkah tersebut menjadi bahagian daripada ibadah seseorang muslim yang dicatat pahalanya oleh Allah karena telah ikut serta membela dan memajukan agama Allah yang benar. Ummat Islam harus tahan banting dalam upaya tersebut karena tantangan dan hambatannya sangat dahsyat di depan mata, apapun yang terjadi ummat Islam tidak boleh memilih partai selain partai Islam yang baik dan orisinil karena terkait dengan eksistensi Islam dan ummat Islam warisan Rasulullah SAW.