Mengenal Peradaban Khilafah Utsmani

Peradaban Islam di Turki merupakan peradaban fenomenal sebab selama kurang lebih seribu tahun mereka dapat bertahan. Ust. Cemal Sahin, Soe ketua Hayrat Foundation cabang Indonesia (Hayrat Foundation adalah sebuah NGO berpusat di Turki yang fokus bergerak dalam ranah dakwah, pendidikan dan sosial) menjelaskan peradaban pendidikan Turki yang diawali dari Peradaban Khilafah Utsmaniyah. Dia menyampaikan presentasinya dalam sebuah dialog interaktif berjudul “Peradaban Islam dan Pendidikan Islam di Turki” yang diadakan dalam rentetan acara yang dimotori oleh Islamic Book Fair (IBF) 2019, diselenggarakan di Convention Center (JCC), Senayan, Jakarta pada Rabu (27/2/2019) berikut ulasan ringkasnya.

Sekilas Sejarah Orang Turki Mengenal Islam

Peradaban Islam berdasarkan pada kebenaran, At-Ta’awun, kemanusiaan dan nila-nilai Islam. Sehingga di mana ada Islam di situ ada prinsip hidup Islam, kekuatan, interaksi dengan masyarakat asing lebih beradab.

Sedangkan Peradaban Barat berdasarkan pada kekuatan militer dan perjuangan sehingga menurut Barat siapa yang kuat dia yang benar dan menang. Peradaban Barat juga menjunjung tinggi rasisme dan nasionalisme sehingga di mana ada mereka di situ ada pasti ada kepentingan kekuasaan.

Kedua peradaban tersebut identik satu sama lain akan tetapi titik perbedaan yang fundamental adalah Islam mendahulukan pada kebenaran sehingga yang disasar adalah kesukarelaan hati manusia sedangkan Barat mengutamakan kepentingan pribadi yang cenderung pada penaklukkan paksa.

Sebelum mengenal Islam orang-orang Turki menganut Shamanism (kepercayaan kepada kehidupan) dan mereka mayoritas memeluk Islam setelah tahun 200 H. Awalnya, orang-orang Turki mengenal Islam secara intens pada tahun 750 M atau 130 H (periode Khilafah Abbasiyah) tepatnya saat perang Talas. Sebuah perang antar dua kubu, dari Islam diwakili oleh pasukan Abbasiyah dan lawannya adalah negara Cina. Perang ini terjadi sebab sejak lama Dinasti Tang Cina ingin mengalahkan Islam.

Di perang tersebut masyarakat Turki membantu Abbasiyah melawan Cina. Singkat cerita, perang Talas dimenangkan oleh Abbasiyah.

Sebelumnya, Cina sering mendzalimi masyarakat Turki sehingga tak heran orang-orang Turki dengan sukarela membantu Abbasiyah dalam peperang Talas.

Ada dua suku yang sejak awal menjadi pribumi Turki, pertama kaum pendatang yang pindah dari Timur Cina dan Cina Utara (Mongolia), kedua orang Turki asli yaitu sebuah suku yang bernama Uighur yang saat ini sedang mengalami berbagai bentuk kedzaliman oleh otoritas Cina.

Para pimpinan Khilafah Abbasiyah melihat orang Turki memiliki perawakan fisik yang kuat. Mengetahui hal itu, Khalifah Mu’tashim Billah berencana untuk meneruskan kerjasama dengan orang Turki di sektor pertahanan. Imbalan yang diberikan khalifah kepada pasukan militer Turki tidak tanggung-tanggung, mereka diberi sebuah daerah Sammarah, Baghdad. Di Sammarah semua penduduknya adalah orang Turki.

Kemudian pada tahun 850an M secara resmi diumumkan keluarga Abbasiyah menjadi pemimpin dan pengelola negara dan militernya harus dari orang-orang Turki.

Seiring berjalannya waktu, orang-orang Turki semakin akrab dengan Islam dan puncaknya pada tahun 900 M seluruh orang Turki memeluk agama Islam. Jika di tempat asal mereka di Cina biasa menggunakan kemah setelah mengenal Islam kehidupan mereka menjadi lebih beradab.

Proses peradaban Ilmu Pengetahuan Orang Turki

Era Khilafah Abbasiyah merupakan salah satu periode peradaban ilmu yang sangat pesat, salah satunya banyaknya ilmuan Islam yang menerjemahkan buku-buku Yunani ke dalam bahasa Arab.

Buku-buku hasil terjemah tersebut tentu sampai kepada orang-orang Turki yang sudah sejak lama menjadi bagian dari Khilafah Abbasiyah. Kemudian akan muncul cendikiawan-cendikiawan yang berasal dari suku Turki, seperti Ibnu Sina.

Inilah awal orang Turki belajar ilmu dan semangat dasar mengelola Khilafah Utsmani di masa depan.

Penaklukkan Khilafah Abbasiyah dan Kehancuran Peradaban Ilmu Dunia

1200 M adalah tahun kesedihan bagi umat Islam khususnya Khilafah Abbasiyah sebab kerajaan Mongol secara mendadak menyerbu lokasi Kekhilafahan Abbasiyah. Masjid, rumah sampai perpustakaan pun ikut dihancurkan oleh pasukan mata sipit ini.

Menurut para ilmuan, jika dulu perpustakaan atau peradaban ilmu pada era Abbasiyah yang berpusat di Baghdad tidak dihancurkan oleh Mongol maka dunia akan selangkah lebih maju 600 tahun dari sekarang.

Sekitar 2 juta buku dibakar, dihancurkan dan dihanyutkan ke sungai oleh pasukan Mongol.

Cikal Bakal Kemunculan Dinasti Islam Turki

Melihat kejadian tersebut umat Islam yang bertempat tinggal di Barat Turki, biasa disebut orang-orang Utsmani terpicu kembali untuk membangkitkan pemerintahan Islam dan kemudian secara resmi menguumumkan pada dunia bahwa negara Utsmani telah berdiri. Singkat cerita, pada tahun 1299 M Khilafah Utsmani resmi berdiri.

Dari Khilafah Utsmani inilah pemerintahan Islam selanjutnya akan diteruskan dan lama berdirinya sampai 600 tahun.

Peradaban Ilmu di Khilafah Utsmani

Saat Sultan Muhammad Al Fatih menaklukkan Konstantinopel dia bersama pasukannya tidak menghancurkan bangunan di dalam benteng dan tidak membunuh masyarakat sipil dan tentara musuh yang sudah menyerah.

Pertama kali yang dilakukan oleh Al Fatih saat masuk ke benteng Konstantinopel adalah merubah gereja terbesar, Hagia Sophia menjadi masjid agung.

Berjalan ratusan tahun Kekhilafahan Utsmani menjadikan setiap masjid jami’ di tiap kota sebagai pusat kajian ilmu atau universitas.

Kemunduran Khilafah Utsmani

Pada tahun 1800an umat Islam mengalami kemunduran di beberapa bidang khususnya di sektor industri.

Para cendikiawan muslim menganalisa dan membuat kesimpulan akhir. Di antaranya ada yang mengatakan bahwa kemunduran umat Islam adalah karena umat Islam sendiri.

Sedangkan Syaikh Muhammad Abduh Rahimahullah ulama asal Mesir mengatakan bahwa kemunduran umat Islam disebabkan oleh perpecahan umat di wilayah furu’iyah (cabang-cabang agama) seperti fiqh.

Abdul Hamid Tsani Rahimahullah (Khalifah Utsmani terakhir) mengatakan ketertinggalan umat Islam tak lain disebabkan oleh umat Islam yang kurang meresapi nilai-nilai Islam dan kurang maksimal mengamalkan ajaran Islam.

Untuk mengantisipasi kemunduran umat yang lebih parah, Khalifah Abdul Hamid Tsani membangun universitas di beberapa kota penting di Turki. Dari kebijakan tersebut beliau mengembalikan peradaban ilmu di tengah-tengah kaum muslimin.

Kehancuran Khilafah Turki

Tahun 1923 merupakan fenomena sejarah menyakitkan tiada tara yang dialami oleh kaum muslimin khususnya Khilafah Utsmaniyah. Sebab di tahun itu Kekhilafahan Islam ditumbangkan oleh Mustafa Kamal At Taturk

Pada tahun 1923 saat Mustafa Kemal At Taturk menduduki Turki merupakan kehancuran terbesar kedua setelah Mongol menghancurkan Khilafah Abbasiyah. Tapi dampaknya lebih besar yang dilakukan oleh Mustafa Kemal At Taturk sebab yang dia lakukan adalah menghapus Islam.

Revolusi At Taturk ini turut menginspirasi Tunisia, Mesir, Iran dan negara lainnya untuk memberontak kepada pemimpin negaranya.

Tahapan Penghapusan Nilai-Nilai Islam

1. Undang-undang tentang unifikasi dan sekularisasi pendidikan tanggal 3 maret 1924. Di tahun yang sama Khilafah Islamiyah dihapus;
2. Undang-undang tentang kopiyah, tanggal 25 november 1925;
3. Undnag-undang tentang pemberhentian petugas jamaah dan makam, penghapusan lembaga pemakaman, tanggal 30 november 1925;
4. Peraturan sipil tentang perkawinan, tanggal 17 februari1926;
5. Undang-undang pemakaian huruf latin untuk abjad turki dan penghapusan tulisan arab, tanggal 1 november 1928;
6. Undang-undang tentang larangan menggunakan pakaian tradisional, tanggal 13 desember 1934.

Cemal masih ingin melanjutkan tapi karena keterbatasan waktu sehingga dicukupkan sampai di sini.[tmm]