Sekapur Sirih Dakwah 12 Tahun Di Pedalaman Hutan Papua

Dewan Da’wah News, Papua – Sesuai judulnya yang diawali dengan kata ‘sekapur sirih’ memiliki makna bahwa tulisan ini merupakan pengantar atau sekilas cerita yang diambil dari kesaksian hidup da’i yang mengabdikan dirinya bedakwah di pedalaman daerah, contoh kasus kali ini dakwah di pedalaman hutan Papua. Kesaksian ini merupakan satu kisah di antara ratusan atau ribuan juru dakwah di daerah antah-berantah lainnya.

Ustadz Muhammad Agus, adalah salah satu pendakwah yang diberi amanah tugas dakwah pasca diwisuda oleh sebuah kampus Islam di Makassar sebagai bentuk pengabdian dan rasa terima kasihnya kepada lembaga yang telah memberi dia sejumlah disiplin ilmu agama.

Pada Kamis 21 November 2019, Ust. Agus bersama rombongan muslim Papua datang ke Dewan Da’wah Pusat untuk membagi kisah dakwahnya selama 12 tahun di pedalaman hutan Papua.

Awal Pengabdian Dakwah

Ust. Agus berasal dari Makassar, 12 tahun lalu Ust. Agus bersama sejumlah da’i dikirim oleh sebuah lembaga pendidikan tinggi Islam di kampungnya untuk berdakwah di pedalaman Papua.

Ust. Agus dikirim ke sebuah kampung yang berada di dekat pantai tepatnya di Teluk Bintuni, Papua Barat.

Bagi msyarakat Indonesia pada umumnya, tidak akan menyebut kampung yang dimaksud Ust. Agus sebagai kampung sebagaimana mestinya.

“Sebab, di samping kanan hutan, kiri hutan, belakang hutan dan di arah depan sungai,” kata Ust. Agus mengawali kisahnya saat presentasi di depan jamaah masjid Al Fuqon Dewan Da’wah, Jl. Kramat Raya 45, Jakarta Pusat (21/11/2019).

Dia istiqomah berdakwah di sana dan memutuskan untuk menjadi warga tetap demi mengajarkan agama Islam, sebab keberadaan da’i sangat minim. Toh meski ada da’i yang dikirim, kebanyakan mereka hanya bertahan 1 tahun.

Para da’i itu pulang bukan tanpa alasan, menurut Ust. Agus, mereka pulang kampung karena ada yang gila, ada yang diancam oleh warga sekitar dan lain-lain. Dirinya pun menceritakan di awal-awal tahun dakwah dia masih tidak boleh berceramah, artinya berdakwah di pedalaman tidak mudah.

Kesulitan

3-4 tahun pertama Ust. Agus makan nasi sebulan 2-3 kali. Beras yang didapat pun sudah hancur menjadi bubuk, artinya beras itu sudah tak layak makan. Tapi dia bersama masyarakat tetap memakannya sebagai tanda syukur atas nikmat Ilahi.

Sebenarnya, Ust. Muhammad ditugasi oleh lembaganya untuk berdakwah di pedalaman Papua selama setahun tapi setelah melihat realita dakwah seperti masyarakat di kampung yang tersebut membutuhkan juru agama, akhirnya dia menetap hingga kini.

Padahal di tempat itu, semua fasilitias serba minim. Seperti keterbatasan listrik, sulitnya mendapatkan sinyal operator selular hingga air bersih pun langka. Mereka menggunakan iar yang berwarna coklat untuk keperluan sehari-hari.

Sudah banyak calon anggota dewan datang ke daerah itu untuk berkampanye, tapi setelah mendapatkan kekuasaan mereka ingkar janji.

Tidak hanya keperluan sehari-hari yang serba sulit, rute menuju ke kampung pun tidak mudah dan tidak murah.

“Dari kota kabupaten menuju ke kampung saya itu (ongkosnya) jauh lebih mahal dari tiket pesawat Papua-Jakarta,” kata Ust. Agus.

Ust. Agus tinggal di daerah pesisir tepatnya di Teluk Bintuni yang menurut dia merupakan salah satu tempat penambangan gas alam yang hasilnya diekspor ke sejumlah negara seperti, Singapura, Malaysia dan Rusia.

“Di antara mereka (pihak penambang) ada yang sangat kaya. Padahal hasilnya diambil dari sana tapi untuk listrik, air bersih dan perbaikan jalan saja tidak bisa mereka wujudkan untuk kami,” ujar Ust. Agus.

Ust. Agus mengingatkan pemerintah yang rencananya akan konsen dalam pembangunan jalan tol di Papua, menurutnya lebih baik digunakan untuk perbaikan dan pengadaan akses jalan kaki di kampungnya.

Akses jalan kaki sangat dibutuhkan sebab rute yang dilalui becek dan berair yang menyebabkan jalan kaki jadi sulit. Terlebih ketika pasang maka jalan itu tidak bisa dilewati lagi sebab ketinggian air mencapai setinggi dada orang dewasa.

Kondisi pasang membuat petani sulit menanam mengingat ketinggian air meninggi membuat hasil kebun seperti bayam dan kangkung tenggelam.

Fakta Lapangan

Citra yang dibangun oleh misionaris setempat terkait perbandingan kuantiti muslim dan non-muslim adalah angka pemeluk agama Islam masih minoritas padahal kenyataannya tidak begitu.

Salah satu buktinya, seperti tertulis di atas, warga muslim di Papua sangat banyak bahkan ada satu perkampungan di tengah hutan yang penduduknya telah memeluk agam Islam hingga 4 generasi atau sebelum kemerdekaan sudah mengenal Islam. Dan daerah inilah tempat tinggal Ust. Agus.

“Saya sering ditanya, ‘di sana mayoritas non-muslim ya?’ saya katakan tidak, saya katakan di sana mayoritas muslim. Kenapa informasinya sampai demikian (dibiarkan)? Karena yang namanya zakat dan harta kaum muslimin (yang ingin disalurkan) dihalangi untuk masuk di sana. Artinya, dengan mendengar kata di Papua mayoritas non-muslim, kaum muslimin tidak tertarik lagi untuk menyumbangkan hartanya ke Papua, itu tujuannya,” ucap dia.

Hasil

Membutuhkan waktu yang lama untuk mengkader orang-orang setempat menjadi generasi pelanjut dakwah selanjutnya.

Ust. Muhammad Agus (dua dari kanan) berfoto bersama murid-muridnya muslim Papua yang sedang kuliah di Jakarta (Foto: eks)

Ust. Agus mengirim murid-murid ngajinya ke sejumlah daerah seperti di Jakarta. Dan murid-muridnya yang di Jakarta menemui dan menemani sang ustadz selama di sana.

Dalam presentasinya Ust. Agus meminta salah satu muridnya yang sedang kuliah di Jakarta untuk maju ke depan lalu membaca Al Quran. Bacaannya luar biasa indah.

Uniknya, pada kesempatan itu jamaah Masjid Al Furqon dibuat kaget sebab setelah pembacaan kalam ilahi ia mengatakan bahwa dulunya sang qori’ masih usia SD.

“Dia ini murid pertama TPA saya pak, jadi mereka (murid-murid TPA) saya temukan pas waktu itu masih seusia anak SD di sebuah kampung yang ada di tengah hutan,” lanjut Ust. Agus.

Dia menceritakan anak didiknya yang tadi diminta mengaji sudah hafidz 30 juz dan sekarang sudah masuk semester 7 kuliah di Jakarta.

Dia menyekolahkan murid-murid ngajinya hingga perkuliahan dan sekarang sudah 30-an mahasiswa yang ia sebar lebih banyak ke tanah Jawa, seperti Jakarta.

Kebutuhan

Ust. Agus dan warga binaannya saat ini sedang membutuhkan air bersih dan perahu mesin.

Air bersih untuk kebutuhan sehari-hari dan perahu mesin digunakan untuk moda transportasi antar kampung demi dakwah dapat berlangsung secara kontinyuitas.

“Terus terang pak, misionaris di sana sudah pakai helikopter pak. Mereka sudah bawa bantuannya, berasnya dan sembako lainnya pakai helikopter. Sedangkan saya 12 tahun di sana belum punya perahu untuk menyeberang dari satu kampung ke kampung lainnya,”

Pesan

Jika kaum muslimin melihat muslim lainnya khususnya yang dari Papua hendaklah dibantu

“Janganlah pandang mereka sebelah mata, kalau tidak bisa pergi ke Papua untuk membantu, minimal kita beramal jariyah dengan membantu dia (muslim Papua) supaya dia bisa kembali ke daerahnya dan membangun daerahnya sendiri,” pungkas Ust. Agus.

Bagi pembaca yang ingin membantu kegiatan dakwah Ust. Muhammad Agus dan dakwah pedalaman Dewan Da’wah lainnya silahkan klik www.laznasdewandakwah.or.id.[tamam/DDN]

Ket. Foto: Ilustrasi, keindahan gugusan pulau di Raja Ampat, Papua (sumber: casalunabali)