Bedah Buku “GOAT of Dakwah”, Hidupkan Kembali Keteladanan M. Natsir di Kalangan Generasi Muda
Jakarta, dewandakwah.or.id — Perpustakaan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia kembali menggelar kegiatan bedah buku sebagai bagian dari ikhtiar meningkatkan minat baca dan memperkuat literasi keislaman di tengah derasnya arus konten digital. Kegiatan berlangsung pada Rabu (19/8/2026) di Gedung Menara Dakwah Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, lantai 2, Jalan Kramat Raya No. 45, Jakarta Pusat.
Jakarta, dewandakwah.or.id — Perpustakaan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia kembali menggelar kegiatan bedah buku sebagai bagian dari ikhtiar meningkatkan minat baca dan memperkuat literasi keislaman di tengah derasnya arus konten digital. Kegiatan berlangsung pada Rabu (19/8/2026) di Gedung Menara Dakwah Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, lantai 2, Jalan Kramat Raya No. 45, Jakarta Pusat.
Buku yang dibedah berjudul GOAT of Dakwah: Mohammad Natsir My Roman Empire, karya Wildan Hasan, Naufal Al Zahra, Aldy Istanzia Wiguna, Imanudin Kamil, Mahmud Faaz, Agung Aditya Subhan, dan Rahmat Ramadhan.
Buku tersebut ditulis oleh generasi muda yang memiliki perhatian terhadap sejarah perjuangan Islam di Nusantara, khususnya kiprah Mohammad Natsir sebagai tokoh dakwah, pemikir, negarawan, dan pejuang umat.
Kegiatan dihadiri sejumlah perwakilan Lembaga Dakwah Kampus (LDK) dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, LDK LIPIA, Pelajar Islam Indonesia (PII), serta peserta lainnya.
Diskusi dibuka oleh Hadi Nur Ramadhan, Founder Pusat Dokumentasi Islam Indonesia Tamaddun sekaligus Ketua Biro Perpustakaan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia. Sejarawan muda asal Betawi tersebut mengungkap sejumlah sisi karya dan kiprah M. Natsir yang belum banyak diketahui generasi muda.
“Ada banyak jejak karya-karya Natsir yang belum banyak diungkap. Salah satunya adalah Natsir sebagai sastrawan dan penggerak ekonomi rakyat,” ujar Hadi
Dalam pemaparannya, Wildan Hasan dan Agung Aditya Subhan menjelaskan bahwa buku GOAT of Dakwah tidak hanya ditujukan untuk menambah khazanah literasi keislaman, tetapi juga menjadi sarana mengenalkan sosok Mohammad Natsir kepada generasi muda.
Istilah GOAT dalam judul buku merupakan singkatan dari Greatest of All Time, istilah yang lazim digunakan untuk menggambarkan seseorang yang dianggap terbaik sepanjang masa dalam bidangnya. Dalam konteks buku ini, istilah tersebut digunakan untuk menggambarkan kiprah M. Natsir dalam dunia dakwah di Nusantara.
Wildan Hasan mengangkat salah satu pesan M. Natsir yang dinilainya relevan bagi generasi muda, khususnya para aktivis dakwah.
“Bagi saya diam itu tidak bisa,” ujar Wildan mengutip pesan M. Natsir.
Menurut Wildan, kalimat tersebut menggambarkan semangat perjuangan M. Natsir yang tidak pernah berhenti berbuat untuk Islam, umat Islam, dan bangsa Indonesia.
Semangat tersebut terlihat dalam perjalanan hidup Natsir, baik sebelum maupun setelah kemerdekaan, ketika berada di pemerintahan maupun setelah tidak lagi menduduki jabatan pemerintahan.
Semangat yang sama juga tercermin dalam ungkapan M. Natsir yang banyak dikenang para aktivis dakwah: “Jangan tangan berhenti mendayung, nanti arus membawa hanyut.”
Pesan tersebut menggambarkan pentingnya kesinambungan perjuangan. Seorang dai dan aktivis dakwah tidak seharusnya berhenti berkontribusi hanya karena perubahan keadaan, posisi, maupun jabatan.
Sementara itu, Agung Aditya Subhan menyoroti pentingnya belajar mencintai Indonesia melalui keteladanan para tokoh yang memberikan pengabdian nyata kepada bangsa.
Ia menilai, pada masa kini terdapat orang-orang yang mengatasnamakan rakyat dan mengaku bekerja demi kepentingan bangsa. Namun, setelah mendapatkan tujuan atau kedudukan yang diinginkan, semangat perjuangan tersebut terkadang justru ditinggalkan.
Menurut Agung, perjalanan hidup M. Natsir memberikan pelajaran mengenai pentingnya konsistensi dalam berjuang. Sejak muda, ketika belum memiliki jabatan maupun kedudukan tinggi, Natsir telah aktif berdakwah dan berjuang. Ketika kemudian dipercaya menjadi salah satu pimpinan penting di negeri ini, aktivitas perjuangannya tidak berhenti. Bahkan setelah tidak lagi berada di pemerintahan, Natsir tetap bergerak melalui dakwah.
Salah satu momentum penting dalam perjalanan tersebut terjadi ketika Masyumi menghadapi pembubaran pada masa pemerintahan Soekarno. Natsir bersama para pengurus Masyumi mengambil langkah strategis dengan membubarkan diri sebelum organisasi tersebut dibubarkan. Setelah itu, perjuangan dakwah tidak berhenti. Natsir bersama rekan-rekannya kemudian mendirikan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia sebagai wadah perjuangan berikutnya.
Dari perjalanan tersebut lahir ungkapan yang dikenang di kalangan aktivis dakwah: “Dulu kita berdakwah lewat politik, maka sekarang kita berpolitik lewat dakwah.”
Agung juga menjelaskan bahwa M. Natsir memiliki pegangan kuat dalam menjalankan perjuangannya. Salah satunya adalah QS. Al-Ankabut ayat 69 yang dipasang dalam bentuk kaligrafi di rumahnya:
“Dan orang-orang yang berjihad (bersungguh-sungguh) untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.”
Ayat tersebut, menurut Agung, menggambarkan semangat M. Natsir untuk terus berdakwah dan berjuang bagi Islam, umat Islam, bangsa, dan tanah air.
Diskusi kemudian berkembang melalui sesi dialog bersama peserta. Sejumlah peserta mengajukan pertanyaan dan berdiskusi langsung dengan para pembedah buku.
Salah satu hal menarik disampaikan aktivis senior Sabar Sitanggang. Menurutnya, masih banyak sisi M. Natsir yang perlu diungkap dan dipelajari oleh generasi berikutnya.
M. Natsir, menurut Sabar, bukan hanya dikenal sebagai tokoh politik, dakwah, dan pendidikan. Masih terdapat sisi lain yang menarik untuk dikaji, termasuk kiprahnya dalam bidang sastra, seni, dan ekonomi.
Ia juga menyebut bahwa M. Natsir bersama Masyumi telah memiliki konsep mengenai negara sebelum munculnya berbagai perdebatan mengenai dasar negara.
Kegiatan bedah buku ini pada akhirnya tidak hanya menjadi ruang untuk membahas sebuah karya, tetapi juga menjadi momentum untuk kembali mengenalkan sosok dan perjuangan M. Natsir kepada generasi muda.
Melalui perjalanan hidup M. Natsir, peserta diajak melihat bahwa dakwah dan pengabdian tidak seharusnya berhenti karena perubahan posisi, jabatan, maupun keadaan.
Semangat untuk terus “mendayung” menjadi salah satu pesan penting dari sosok M. Natsir: tidak berhenti berbuat, tidak berhenti berdakwah, dan tidak berhenti berjuang.
Humas Dewan Dakwah
Editor: Abu Dzakir
Berita Terkait
Berita
Liputan Nasional Sepekan Pendidikan Dewan Dakwah (26 Oktober – 01 November 2026)
Jakarta, dewandakwah.or.id - Bidang Pendidikan Dewan Da’wah terus berkomitmen memperkuat pendidikan Islam dan kaderisasi da’i melalui berbagai kegiatan di lembaga pendidikan Dewan Da’wah di seluruh Indonesia. Pada 26 Oktober, Akademi Da’wah Indonesia (ADI) NTB melaksanakan kegiatan belajar mengajar (KBM), sementara ADI Lampung menggelar halaqah Al-Qur’an rutin sebagai bagian dari pembinaan mahasiswa.
Berita
Ketua Umum Dewan Dakwah Hadiri Silaturahmi Bersama Menteri Koperasi, Bahas Penguatan Ekonomi Umat dan Kondisi Nasional
Jakarta, dewandakwah.or.id — Ketua Umum Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, H. Fathurrahman Mahfudz, BIRK, MM., menghadiri pertemuan silaturahmi dan pengarahan (briefing) bersama Menteri Koperasi Ferry Juliantono serta sejumlah pimpinan organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam nasional, Rabu (4/11/2026).
Berita
Dewan Dakwah Terima Kunjungan 30 Da'i Muda dari 6 Negara, Perkuat Sinergi dan Kaderisasi Dakwah Internasional
Jakarta, dewandakwah.or.id — Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia menerima kunjungan Syaikh Abdul Majid dari Yayasan Nasihat dan Taujih bersama 30 dai muda dari enam negara, yakni Indonesia, Thailand, Filipina, India, Pakistan, dan Sri Lanka. Kunjungan ini menjadi bagian dari rangkaian pembinaan dan penguatan kompetensi dai yang tengah berlangsung selama tiga bulan.