Kembali ke Daftar Berita
Berita

Biduk Dakwah Tak Boleh Berhenti, Ketua Umum Dewan Dakwah Dorong Konsolidasi, Kemandirian, dan Ekspansi Dakwah

Oleh Admin Dewan Dakwah • Minggu, 04 Oktober 2026
Biduk Dakwah Tak Boleh Berhenti, Ketua Umum Dewan Dakwah Dorong Konsolidasi, Kemandirian, dan Ekspansi Dakwah

Padang, dewandakwah.or.id — Dakwah tidak mengenal kata berhenti. Siapa pun yang menjadi nakhoda, biduk dakwah harus terus didayung menuju satu tujuan: mengajak manusia kembali kepada Allah dan menghadirkan kemaslahatan bagi umat. Pesan itu disampaikan Ketua Umum Dewan Da'wah Islamiyah Indonesia, H. Fathurrahman Mahfudz, saat membuka Rapat Kerja (Raker) Dewan Dakwah Provinsi Sumatera Barat di Ruang Pertemuan Yarsi Sumbar, Padang, Ahad (4/10/2026).

Padang, dewandakwah.or.id — Dakwah tidak mengenal kata berhenti. Siapa pun yang menjadi nakhoda, biduk dakwah harus terus didayung menuju satu tujuan: mengajak manusia kembali kepada Allah dan menghadirkan kemaslahatan bagi umat. Pesan itu disampaikan Ketua Umum Dewan Da'wah Islamiyah Indonesia, H. Fathurrahman Mahfudz, saat membuka Rapat Kerja (Raker) Dewan Dakwah Provinsi Sumatera Barat di Ruang Pertemuan Yarsi Sumbar, Padang, Ahad (4/10/2026).

“Jangan pernah kita berhenti tangan mendayung. Pemimpin bisa datang dan pergi, yang tidak berhenti adalah dakwah ilallah,” tegas Fathurrahman di hadapan sekitar 35 peserta yang mengikuti kegiatan secara luring dan daring.

Menurut H. Fathurrahman, pesan tersebut merupakan bagian dari kesinambungan gagasan dakwah yang diwariskan tokoh pendiri Dewan Dakwah, Bapak Mohammad Natsir. Dakwah ilallah bukan sekadar aktivitas menyampaikan pesan keagamaan, tetapi ikhtiar membimbing manusia agar menghambakan diri, taat, dan mengabdi kepada Allah SWT.

Karena itu, pergantian kepemimpinan tidak boleh menghentikan gerakan. Setiap periode kepengurusan harus menjadi momentum untuk mengevaluasi perjalanan, membaca perubahan zaman, dan melahirkan terobosan baru.

Tiga Pertanyaan untuk Menajamkan Arah Dakwah

Fathurrahman mengapresiasi terselenggaranya Raker Dewan Dakwah Sumbar. Ia menyebut forum tersebut sebagai raker perdana bersama Dewan Dakwah tingkat provinsi sejak dirinya dipercaya memimpin Dewan Dakwah.

Ia mengajak jajaran pengurus menjadikan forum tersebut sebagai ruang evaluasi sekaligus penajaman arah gerakan melalui tiga pertanyaan mendasar: apa yang telah terlewat, apa yang baru, dan apa yang membedakan Dewan Dakwah dari organisasi atau lembaga lainnya.

Menurutnya, tiga pertanyaan tersebut penting dijawab agar Dewan Dakwah tidak sekadar menjalankan rutinitas organisasi, tetapi mampu memberikan respons yang relevan terhadap perubahan masyarakat.

“Kita harus mampu menjawab dan memberikan solusi terhadap dinamika positif maupun negatif yang terjadi di tengah masyarakat yang serba global. Kita harus punya strategi yang jitu dan cepat untuk menyelesaikan persoalan, sekalipun sulit dan terasa berat bagi umat,” ujarnya.

Dakwah, lanjutnya, harus menghadirkan sentuhan yang menyejukkan. Kehadiran dai dan organisasi dakwah harus membuat masyarakat memperoleh ketenangan, jalan keluar, dan kemaslahatan. Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi adalah akselerasi digitalisasi. Perubahan teknologi telah mengubah cara masyarakat memperoleh informasi, termasuk pengetahuan keagamaan. Karena itu, Dewan Dakwah memerlukan strategi program yang mampu menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan identitas dan prinsip dakwah.

Dewan Dakwah Sumbar: Dakwah Merangkul, Bukan Memukul

Ketua Umum Dewan Dakwah Sumatera Barat, Prof. Dr. Efrinaldi, M.Ag, menegaskan bahwa identitas dakwah Dewan Dakwah harus tercermin dalam pendekatan yang menyejukkan dan membangun.

Di hadapan jajaran Majelis Pertimbangan, di antaranya Dr. Badrul Mustafa, Prof. Mukhlis Bahar, dan Dr. Ahmad Kosasih, serta Majelis Pakar H. Zainul Daulay, H. Masrul, H. Saleh Zulfahmi dan peserta Raker lainnya, Efrinaldi menegaskan prinsip: “Dakwah itu merangkul, bukan memukul; mengajak, bukan mengejek.”

Menurutnya, prinsip tersebut semakin relevan ketika dakwah berhadapan dengan masyarakat yang memiliki latar belakang, tingkat pendidikan, dan persoalan yang beragam. Ia kemudian mengajak peserta melihat perjalanan bangsa dari perspektif sejarah. Pada masa kolonial Belanda, kata dia, masyarakat pribumi ditempatkan dalam struktur sosial yang tidak setara dan akses pendidikan yang tidak bisa dinikmati secara merata.

Kini Indonesia memang telah keluar dari era kolonial. Namun, Efrinaldi mengingatkan, mentalitas dan cara berpikir yang bersifat kolonial tidak boleh kembali hadir dalam kehidupan masyarakat.

“Kita sudah tidak lagi berada dalam era kolonial, tetapi sudah era milenial. Namun terkadang cara berpikir dan bertindak sebagian masyarakat masih ada yang bersifat kolonial. Kejadian itu tidak boleh lagi dialami bangsa kita,” ujarnya.

Karena itu, orientasi dakwah ke depan harus mendorong setiap pribadi Muslim untuk menghadirkan kebaikan di dunia sekaligus kebaikan di akhirat.

Dakwah untuk Mencerdaskan Kehidupan Bangsa

Bagi Efrinaldi, salah satu instrumen utama untuk membangun umat adalah pendidikan. Ia mengaitkan agenda tersebut dengan amanat konstitusi untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Menurutnya, pendidikan tidak boleh berhenti pada pencapaian akademik, tetapi harus membentuk manusia yang berkarakter, berakhlak mulia, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, serta memiliki literasi yang kuat.

“Pendidikan masyarakat yang akan dibangun oleh Dewan Dakwah tidak hanya berorientasi pada aspek akademik, tetapi juga pembentukan karakter, akhlak mulia, penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi, serta literasi,” jelasnya.

Dalam konteks generasi Z dan perubahan sosial yang berlangsung cepat, pendidikan dan dakwah harus berjalan beriringan. Dakwah dituntut mampu membentuk manusia yang tidak hanya memahami agama, tetapi juga memiliki kapasitas intelektual dan kemampuan menghadapi tantangan kehidupan.

Dakwah Bil Hal: Dari Mimbar ke Aksi Nyata

Prinsip dakwah yang merangkul juga diterjemahkan Dewan Dakwah Sumbar melalui aksi nyata. Efrinaldi menegaskan bahwa dakwah tidak cukup hanya dilakukan melalui lisan dan tulisan. Dakwah harus hadir dalam bentuk pelayanan yang dapat langsung dirasakan masyarakat.

Salah satu bentuknya adalah kerja sama Dewan Dakwah Sumbar dengan Yayasan Rumah Sakit Islam (Yarsi) Sumbar dalam bidang kesehatan, termasuk penyuluhan kesehatan dan pelaksanaan khitanan masal di Kabupaten Kepulauan Mentawai dan Kabupaten Dharmasraya.

“Dakwah adalah perwujudan kemaslahatan. Dan tidak ada yang bisa dicapai saat ini tanpa kerja sama, sinergitas, dan kolaborasi dengan semua elemen masyarakat,” tegas Guru Besar Fakultas Syariah UIN Imam Bonjol Padang tersebut.

Semangat dakwah bil hal ini sekaligus menjadi bagian dari warisan pemikiran Mohammad Natsir yang menempatkan dakwah sebagai kerja nyata untuk membangun masyarakat.

Membangun Kemandirian, Memperkuat Kelembagaan

Dari sisi kelembagaan, Dewan Dakwah Pusat juga tengah memperkuat fondasi organisasi agar gerakan dakwah memiliki daya tahan jangka panjang. H. Fathurrahman menyampaikan bahwa Dewan Dakwah saat ini telah memiliki Lembaga Amil Zakat Nasional (Laznas), memperkuat kelembagaan wakaf, dan akan memaksimalkan unit usaha Dewan Dakwah.

Menurutnya, penguatan ekonomi kelembagaan bukan tujuan akhir, melainkan instrumen untuk memastikan dakwah memiliki sumber daya yang berkelanjutan. Aset wakaf dan unit usaha yang dikelola secara produktif dapat kembali digunakan untuk membiayai dakwah, pendidikan, kaderisasi, serta pelayanan sosial. Dengan demikian, Dewan Dakwah tidak hanya memperkuat struktur organisasi, tetapi juga membangun ekosistem dakwah yang lebih mandiri dan berkelanjutan.

Membuka Ruang Kolaborasi Regional

Penguatan jaringan dakwah juga diarahkan pada perluasan kolaborasi di tingkat regional. H. Fathurrahman mengungkapkan, Dewan Dakwah baru-baru ini diundang oleh ABIM (Angkatan Belia Islam Malaysia) dalam sebuah pertemuan di Malaysia yang turut dihadiri sejumlah tokoh, termasuk Perdana Menteri Malaysia.

Menurutnya, terdapat kedekatan historis dan intelektual antara Dewan Dakwah dengan sejumlah organisasi Islam di Malaysia yang sama-sama mendapatkan inspirasi dari pemikiran Mohammad Natsir. Hubungan yang baik antara Malaysia dan Sumatera Barat juga membuka peluang kerja sama dakwah yang lebih luas, terutama di bidang pendidikan, kaderisasi, sosial, dan pemberdayaan masyarakat.

Memperkuat Ujung Tombak hingga Mentawai

Konsolidasi Dewan Dakwah tidak berhenti di tingkat provinsi. Penguatan juga diarahkan kepada Dewan Dakwah kabupaten/kota sebagai ujung tombak yang berhadapan langsung dengan masjid, masyarakat, dan persoalan umat.

Penguatan tersebut mencakup kepengurusan yang aktif, program kerja yang jelas dan terukur, serta peningkatan kapasitas dai dan kader. Perhatian khusus diberikan kepada Kepulauan Mentawai, wilayah yang memiliki karakter geografis dan sosial tersendiri. Pembinaan berkelanjutan di Mentawai memerlukan ketersediaan dai, penguatan pendidikan, serta pendampingan sosial dan ekonomi. Pada saat yang sama, dakwah harus dilakukan secara santun, menghormati kearifan lokal, dan menjaga kerukunan antarumat beragama.

Ketua Dewan Dakwah Sumbar, Prof. Efrinaldi, menegaskan bahwa seluruh agenda tersebut bermuara pada satu tujuan, yaitu menghadirkan dakwah yang memberi manfaat nyata. “Roda ini mesti berputar, mesti berdinamika,” katanya.

Melalui Raker ini, Dewan Dakwah Sumatera Barat diharapkan mampu menerjemahkan agenda konsolidasi menjadi program yang konkret, terukur, dan berkelanjutan. Dari pusat kota hingga pulau terluar, dari pendidikan hingga kesehatan, dari mimbar dakwah hingga pemberdayaan masyarakat, Dewan Dakwah ingin memastikan dakwah tidak berhenti sebagai gagasan.

Sebab, pemimpin boleh berganti, zaman boleh berubah, tetapi biduk dakwah ilallah harus terus didayung—merangkul, mengajak, mencerdaskan, dan menghadirkan kemaslahatan bagi umat.

Humas Dewan Dakwah

Editor: Abu Dzakir

Berita Terkait

Liputan Nasional Sepekan Pendidikan Dewan Dakwah (26 Oktober – 01 November 2026) Berita
05 November 2026 • Oleh Admin Dewan Dakwah

Liputan Nasional Sepekan Pendidikan Dewan Dakwah (26 Oktober – 01 November 2026)

Jakarta, dewandakwah.or.id - Bidang Pendidikan Dewan Da’wah terus berkomitmen memperkuat pendidikan Islam dan kaderisasi da’i melalui berbagai kegiatan di lembaga pendidikan Dewan Da’wah di seluruh Indonesia. Pada 26 Oktober, Akademi Da’wah Indonesia (ADI) NTB melaksanakan kegiatan belajar mengajar (KBM), sementara ADI Lampung menggelar halaqah Al-Qur’an rutin sebagai bagian dari pembinaan mahasiswa.

Dewan Dakwah Terima Kunjungan 30 Da'i Muda dari 6 Negara, Perkuat Sinergi dan Kaderisasi Dakwah Internasional Berita
05 November 2026 • Oleh Admin Dewan Dakwah

Dewan Dakwah Terima Kunjungan 30 Da'i Muda dari 6 Negara, Perkuat Sinergi dan Kaderisasi Dakwah Internasional

Jakarta, dewandakwah.or.id — Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia menerima kunjungan Syaikh Abdul Majid dari Yayasan Nasihat dan Taujih bersama 30 dai muda dari enam negara, yakni Indonesia, Thailand, Filipina, India, Pakistan, dan Sri Lanka. Kunjungan ini menjadi bagian dari rangkaian pembinaan dan penguatan kompetensi dai yang tengah berlangsung selama tiga bulan.