Forum Persaudaraan Haji Dewan Dakwah Gelar Kajian Bulanan, Tekankan Pentingnya Menjaga Kemabruran Haji dengan Ilmu dan Amal
Jakarta, dewandakwah.or.id — Ibadah haji bukanlah akhir dari perjalanan spiritual seorang Muslim, melainkan momentum untuk membangun kehidupan yang lebih baik setelah kembali ke tanah air. Pesan itu mengemuka dalam Kajian Bulanan Forum Persaudaraan Haji Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia yang digelar pada Sabtu, (26/09/2026).
Jakarta, dewandakwah.or.id — Ibadah haji bukanlah akhir dari perjalanan spiritual seorang Muslim, melainkan momentum untuk membangun kehidupan yang lebih baik setelah kembali ke tanah air. Pesan itu mengemuka dalam Kajian Bulanan Forum Persaudaraan Haji Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia yang digelar pada Sabtu, (26/09/2026).
Kajian yang diikuti sekitar 260 jamaah tersebut menjadi ruang silaturahmi sekaligus penguatan komitmen para alumni haji untuk menjaga kemabruran melalui ilmu, amal, dan konsistensi dalam kehidupan sehari-hari. Hadir dalam kesempatan tersebut Anggota Pembina Dewan Dakwah, H. Mas'adi Sulthoni, MA, Anggota Pengawas, H. Avid Solihin, MM., Ketua KBIHU Dewan Dakwah, H. Kasyful, Ketua FPH Dewan Dakwah, H. Indra beserta pengurus forum lainnya serta Dai senior Dewan Dakwah Ustadz Muhammad Rais.
Ketua Angkatan 29, H. Rizki, dalam sambutannya menegaskan bahwa menjaga kemabruran haji setidaknya dilakukan melalui dua hal, yakni ilmu dan amal. Menurutnya, kajian bulanan menjadi salah satu sarana bagi para jamaah untuk terus memperbarui pengetahuan keislaman setelah menunaikan ibadah haji. “Untuk menjaga kemabruran haji itu ada dua: yang pertama dengan ilmu, yang kedua dengan amal,” ujarnya.
Ia menyebut kegiatan tersebut juga diikuti dengan gerakan khatmul Quran yang telah berlangsung selama beberapa tahun di kalangan jamaah. Menurutnya, tradisi tersebut menjadi salah satu bentuk konkret menjaga semangat ibadah setelah pulang dari Tanah Suci.
Namun, ia mengangkat satu persoalan yang menarik untuk didiskusikan, bagaimana seseorang tetap aktif beramal tanpa terjebak pada sikap riya atau kesombongan. Pertanyaan tersebut menjadi refleksi penting bahwa semangat beramal perlu berjalan beriringan dengan keikhlasan.
Dari Solidaritas hingga Memberangkatkan Dai ke Tanah Suci
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Forum Persaudaraan Haji Dewan Dakwah, H. Indra, menyampaikan sejumlah perkembangan kegiatan forum haji. Salah satunya adalah aksi solidaritas untuk korban gempa di Lombok. Dari penggalangan dana spontan, jamaah berhasil menghimpun sekitar Rp. 6,72 juta yang kemudian digenapkan menjadi Rp10 juta dari kas forum dan disalurkan melalui Laznas Dewan Dakwah.
Forum juga menggalang dukungan untuk memberangkatkan dai senior Dewan Dakwah, Ustaz Muhammad Rais, yang telah berdakwah di Timor-Leste sejak 1981. Ustaz Rais direncanakan melaksanakan ibadah umrah pada 6 Oktober 2026 bersama Ustaz Dr. Imam Zamroji sebagai pembimbing.
Dukungan tersebut merupakan bentuk penghormatan sekaligus apresiasi atas pengabdian panjang seorang dai yang menghabiskan sebagian besar hidupnya di medan dakwah. Selain itu, Forum Persaudaraan Haji Dewan Dakwah juga tengah mempersiapkan rangkaian kegiatan menyambut milad ke-30 pada 2027. Salah satu agenda yang dibahas adalah program umrah lintas angkatan yang telah menarik minat sekitar 80 jamaah.
Dewan Dakwah: Gerakan Dakwah, Bukan Sekadar Mengirim Dai
Drs. H. Avid Solihin yang memberikan pengenalan lebih jauh mengenai identitas, sejarah, dan kiprah Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia. Ia menegaskan bahwa Dewan Dakwah merupakan organisasi gerakan dakwah yang memiliki struktur dari pusat hingga daerah. Dalam paparannya, Dewan Dakwah disebut telah memiliki jaringan kepengurusan di berbagai wilayah Indonesia.
Menurut H. Avid Solihin, aktivitas Dewan Dakwah tidak sebatas mengirim dai ke berbagai daerah. Pengiriman dai hanyalah salah satu bagian dari gerakan dakwah yang lebih luas. Ia menjelaskan bahwa gerakan Dewan Dakwah mencakup sejumlah bidang yang dirumuskan dalam khitah dakwah, antara lain dakwah dan politik, ukhuwah, informasi, serta persoalan ekonomi.
H. Avid juga menguraikan sejarah berdirinya Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia pada 26 Februari 1967 di bawah kepemimpinan Mohammad Natsir bersama sejumlah tokoh umat, ulama, intelektual, tokoh bangsa, dan negarawan. Dalam paparannya, ia menekankan bahwa para alumni haji yang tergabung dalam Forum Persaudaraan Haji Dewan Dakwah telah menjadi bagian dari keluarga besar gerakan tersebut. Karena itu, ia mengajak jamaah untuk memahami sejarah dan perjuangan Dewan Dakwah sekaligus mengambil bagian dalam menjaga keberlanjutan gerakan dakwah.
Lima Peran Strategis Dewan Dakwah
H. Avid Solihin juga memaparkan sejumlah peran yang selama ini menjadi perhatian Dewan Dakwah, di antaranya sebagai pengawal akidah, penegak syariah, penguat ukhuwah, pengokoh Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan pendukung solidaritas kemanusiaan.
Dalam konteks syariah, ia menekankan bahwa penerapan syariah bukan semata-mata berbicara tentang aspek hukum formal, tetapi bagaimana nilai-nilai syariah hadir dalam seluruh aktivitas kehidupan, sejak bangun tidur hingga kembali tidur.
Sementara dalam persoalan ukhuwah, ia mengingatkan agar perbedaan dalam persoalan furu'iyah tidak menjadi alasan untuk memecah persatuan umat. “Kehadiran Dewan Dakwah tidak untuk memecah belah,” ujarnya.
Menurutnya, dakwah harus menjadi kekuatan yang mempererat persaudaraan dan menghadirkan kemaslahatan bagi umat dan bangsa.
Mengingat Neraka untuk Menata Kehidupan di Dunia
Sesi utama kajian kemudian disampaikan Ustaz Dr. Imam Zamroji dengan tema “Dahsyatnya Neraka dan Profil Penghuninya.” Tema tersebut tidak diarahkan sekadar untuk membangun rasa takut, tetapi menjadi sarana muhasabah agar jamaah menyadari panjangnya perjalanan manusia setelah kehidupan dunia.
Dr. Imam Zamroji mengingatkan bahwa kematian bukan akhir perjalanan manusia. Kehidupan dunia merupakan fase yang singkat, tetapi sangat menentukan kehidupan manusia di akhirat. “Sekali kita hidup, kita akan hidup untuk selamanya. Kalaupun mati, mati bukan akhir dari perjalanan,” ungkapnya.
Ia mengaitkan pesan tersebut dengan pengalaman ibadah haji. Menurutnya, haji merupakan momentum penting untuk membersihkan masa lalu sekaligus menata kehidupan setelah kepulangan dari Tanah Suci. “Bagaimana sekarang tergantung dengan sekarang. Haji yang Bapak, Ibu tunaikan adalah sebuah momentum berharga,” tuturnya.
Karena itu, sepulang haji, seseorang tidak cukup hanya mempertahankan identitas sebagai “orang yang sudah berhaji”, tetapi harus menunjukkan perubahan dalam kehidupan nyata.
Takut kepada Neraka, Berharap Surga, dan Memperbaiki Amal
Dalam pemaparannya, Dr. Imam Zamroji mengajak jamaah memahami konsep neraka dan surga melalui pendekatan akal dan wahyu. Menurutnya, keberadaan balasan akhirat berkaitan dengan prinsip keadilan. Ia kemudian menguraikan sejumlah karakter dan perbuatan yang harus diwaspadai seorang Muslim agar tidak terjerumus ke dalam kebinasaan akhirat.
Namun, pesan kajian tidak berhenti pada rasa takut. Dr. Imam Zamroji memberikan sejumlah langkah untuk menjaga konsistensi iman, di antaranya memperbanyak mengingat kematian dan memperbanyak bermajelis bersama orang-orang saleh. “Zikrul maut,” katanya, menjadi salah satu cara untuk mengingat bahwa setiap tindakan manusia memiliki konsekuensi di akhirat.
Ia juga menekankan pentingnya mujalasatus shalihin, yakni berkumpul bersama orang-orang saleh. Menurutnya, lingkungan yang baik dapat menjadi salah satu sarana menjaga iman dan membantu seseorang kembali kepada semangat kebaikan ketika mengalami penurunan spiritual. Karena itu, kajian bulanan Forum Persaudaraan Haji tidak hanya dipandang sebagai agenda pertemuan rutin, tetapi juga sebagai bagian dari ikhtiar menjaga semangat pascahaji.
Dari Haji Menuju Gerakan Kebaikan
Menjelang akhir kajian, Dr. Imam Zamroji kembali menegaskan bahwa kemabruran haji perlu dijaga dengan ilmu yang diamalkan dan amal yang dibangun di atas ilmu yang benar. Ia juga mengajak para jamaah menjadi penggerak kebaikan di lingkungan masing-masing. “Jadilah Bapak dan Ibu menjadi provokator kebaikan-kebaikan yang akan dinikmati secara bersama,” pesannya.
Menurutnya, kebaikan tidak cukup hanya disimpan sebagai pengetahuan atau niat pribadi. Kebaikan perlu digerakkan agar hadir dalam kehidupan nyata. Dengan semangat tersebut, Forum Persaudaraan Haji Dewan Dakwah terus diarahkan menjadi ruang pembinaan sekaligus ruang kontribusi para alumni haji dalam memperkuat dakwah, solidaritas sosial, dan kehidupan umat setelah menunaikan rukun Islam kelima.
Humas Dewan Dakwah
Editor: Abu Dzakir
Berita Terkait
Berita
Liputan Nasional Sepekan Pendidikan Dewan Dakwah (26 Oktober – 01 November 2026)
Jakarta, dewandakwah.or.id - Bidang Pendidikan Dewan Da’wah terus berkomitmen memperkuat pendidikan Islam dan kaderisasi da’i melalui berbagai kegiatan di lembaga pendidikan Dewan Da’wah di seluruh Indonesia. Pada 26 Oktober, Akademi Da’wah Indonesia (ADI) NTB melaksanakan kegiatan belajar mengajar (KBM), sementara ADI Lampung menggelar halaqah Al-Qur’an rutin sebagai bagian dari pembinaan mahasiswa.
Berita
Ketua Umum Dewan Dakwah Hadiri Silaturahmi Bersama Menteri Koperasi, Bahas Penguatan Ekonomi Umat dan Kondisi Nasional
Jakarta, dewandakwah.or.id — Ketua Umum Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, H. Fathurrahman Mahfudz, BIRK, MM., menghadiri pertemuan silaturahmi dan pengarahan (briefing) bersama Menteri Koperasi Ferry Juliantono serta sejumlah pimpinan organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam nasional, Rabu (4/11/2026).
Berita
Dewan Dakwah Terima Kunjungan 30 Da'i Muda dari 6 Negara, Perkuat Sinergi dan Kaderisasi Dakwah Internasional
Jakarta, dewandakwah.or.id — Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia menerima kunjungan Syaikh Abdul Majid dari Yayasan Nasihat dan Taujih bersama 30 dai muda dari enam negara, yakni Indonesia, Thailand, Filipina, India, Pakistan, dan Sri Lanka. Kunjungan ini menjadi bagian dari rangkaian pembinaan dan penguatan kompetensi dai yang tengah berlangsung selama tiga bulan.