Kembali ke Daftar Berita
Berita

Pusat Kajian Dewan Dakwah Bedah Geopolitik Timur Tengah, Tegaskan Pentingnya Menjaga Akidah dan Kehormatan Tanah Suci

Oleh Admin Dewan Dakwah • Selasa, 20 Oktober 2026
Pusat Kajian Dewan Dakwah Bedah Geopolitik Timur Tengah, Tegaskan Pentingnya Menjaga Akidah dan Kehormatan Tanah Suci

Jakarta, dewandakwah.or.id — Pusat Kajian dan Ghazwul Fikri Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia bekerjasama dengan Persatuan Da'i Dewan Dakwah (PERSADA) menggelar Mubahatsah Syahriyah sebagai forum kajian strategis untuk membahas dinamika geopolitik Timur Tengah, khususnya konflik yang melibatkan kelompok Hautsi dan Arab Saudi, serta implikasinya terhadap umat Islam dan kehormatan dua kota suci, Makkah dan Madinah.

Jakarta, dewandakwah.or.id — Pusat Kajian dan Ghazwul Fikri Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia bekerjasama dengan Persatuan Da'i Dewan Dakwah (PERSADA) menggelar Mubahatsah Syahriyah sebagai forum kajian strategis untuk membahas dinamika geopolitik Timur Tengah, khususnya konflik yang melibatkan kelompok Hautsi dan Arab Saudi, serta implikasinya terhadap umat Islam dan kehormatan dua kota suci, Makkah dan Madinah.

Forum bertajuk "Saat Saudi dan Dua Kota Suci Diguncang Hautsi" ini menghadirkan dua narasumber, yakni Ustadz H.T. Romly Qomarudin, MA, Wakil Ketua Umum III Dewan Dakwah yang membahas persoalan dari perspektif syariah, akidah, fatwa, dan riset strategis, serta Ustadz Pizaro Ghazali Idrus, Ph.D yang mengulas dinamika geopolitik global dan konfigurasi kekuatan di kawasan Timur Tengah.

Forum Mubahatsah tersebut diikuti jajaran pengurus Dewan Dakwah, Muslimat Dewan Dakwah, mahasiswa, kader dakwah dari berbagai daerah, serta peserta yang bergabung secara daring melalui Zoom Meeting pada Senin, 19 Oktober 2026 di Gd. Menara Dakwah, Jakarta Pusat.

Ketua Umum Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, H. Fathurrahman Mahfudz, BIRK, MM dalam sambutannya menekankan pentingnya menghidupkan kembali tradisi Mubahatsah sebagai ruang diskusi ilmiah yang memperkaya khazanah pemikiran dan memperkuat tradisi intelektual di lingkungan Dewan Dakwah.

Ia berharap forum tersebut tidak berhenti sebagai kegiatan sesaat, melainkan menjadi agenda rutin bulanan yang mempertemukan para ulama, akademisi, dan kader dakwah untuk membahas berbagai persoalan umat secara mendalam.

"Tradisi diskusi yang sehat harus tetap menjunjung tinggi adab, persaudaraan, dan penghormatan terhadap perbedaan pendapat tanpa harus menghilangkan keteguhan prinsip masing-masing," ungkapnya

Dalam pemaparannya, Ustadz H.T. Romly Qomarudin, MA mengingatkan bahwa umat Islam perlu menyikapi dinamika global dengan berlandaskan ilmu, ketelitian dalam menggunakan referensi, serta kejernihan dalam mengambil kesimpulan.

Ia menekankan pentingnya hikmah dan basirah dalam membaca perkembangan dunia Islam, terutama ketika arus informasi digital menghadirkan beragam narasi, kepentingan, dan pandangan yang saling bertentangan.

"Hikmah berkaitan dengan ilmu yang teruji dan dapat dipertanggungjawabkan berdasarkan fakta, data, serta penelitian. Sementara basirah merupakan ketajaman pandangan hati yang perlu disertai kedekatan kepada Allah dan kesungguhan dalam menelaah persoalan," jelasnya

Karena itu, para dai dan intelektual Muslim tidak boleh terburu-buru mengambil kesimpulan hanya berdasarkan informasi yang beredar di media sosial atau percakapan di berbagai grup komunikasi.

Beliau juga mengingatkan bahwa kekaguman terhadap kemajuan teknologi dan kekuatan suatu negara tidak semestinya menggeser prinsip-prinsip akidah Islam.

Ia mengaitkan pesan tersebut dengan warisan pemikiran Mohammad Natsir yang, menurutnya, menunjukkan keterbukaan dalam berinteraksi sekaligus keteguhan dalam menjaga prinsip-prinsip mendasar akidah.

Dalam konteks persoalan Timur Tengah, ia menilai diperlukan kajian yang cermat untuk membedakan persoalan perbedaan pendapat keagamaan, penyimpangan pemikiran menurut perspektif yang digunakan, serta konflik politik dan perebutan pengaruh regional.

Salah satu pokok penting yang disoroti Ustadz H.T. Romly adalah tanggung jawab umat Islam dalam menjaga kehormatan dan kesucian dua kota suci, Makkah dan Madinah.

Ia menjelaskan bahwa persoalan yang menyangkut Haramain tidak dapat dipandang semata-mata sebagai konflik antarnegara. "Bagi umat Islam, kedua kota tersebut memiliki kedudukan istimewa dalam kehidupan keagamaan dan menjadi pusat perhatian umat Islam di seluruh dunia," imbuhnya 

Karena itu, perkembangan yang berpotensi mengancam keamanan dan kehormatan Tanah Suci perlu disikapi dengan kesungguhan, kehati-hatian, dan kajian yang dapat dipertanggungjawabkan.

Beliau juga menekankan pentingnya kepedulian terhadap persoalan kaum Muslimin atau al-ihtimam bi amril muslimin. Kepedulian tersebut harus diwujudkan melalui sikap yang berlandaskan ilmu, ketakwaan, dan tanggung jawab.

Ia mengingatkan bahwa dalam situasi penuh ketegangan dan simpang siur informasi, umat Islam perlu menghindari sikap reaktif serta tidak mudah menerima klaim yang belum terverifikasi.

Menurutnya, literatur keislaman dan penelitian para ulama dapat menjadi bahan rujukan untuk memahami perkembangan gerakan keagamaan dan politik di Timur Tengah secara lebih komprehensif.

Membaca Pertarungan Geopolitik di Timur Tengah

Pada sesi kedua, Pizaro Ghazali Idrus memaparkan analisis mengenai konfigurasi kekuatan geopolitik di Timur Tengah. Dengan perspektif hubungan internasional, ia mengajak peserta melihat konflik kawasan tersebut dalam kerangka persaingan pengaruh, kepentingan strategis, dan visi politik sejumlah kekuatan regional.

Dalam analisisnya, ia mengidentifikasi tiga poros utama yang dinilainya berpengaruh dalam dinamika kawasan, yaitu Israel dengan gagasan perluasan pengaruh regionalnya, Iran dengan orientasi kekuatan yang dikaitkannya dengan kebangkitan Persia, serta Turki dengan kecenderungan menguatkan kembali pengaruh historis dan peran strategisnya di dunia Islam.

Pizaro juga menyoroti posisi negara-negara Teluk, termasuk Arab Saudi, yang menurut analisisnya masih menghadapi tantangan dalam menyatukan kepentingan dan membangun visi keamanan regional yang benar-benar solid.

"Hubungan antarnegara di kawasan tersebut tidak selalu berjalan searah. Perbedaan kepentingan politik, ekonomi, dan keamanan kerap memengaruhi pola kerja sama maupun persaingan di antara mereka," jelasnya

Kondisi itu, menurutnya, menjadi salah satu faktor yang perlu diperhitungkan dalam memahami konflik di Yaman dan persaingan yang melibatkan kelompok Hautsi serta berbagai kekuatan regional.

Pizaro mengajak peserta melihat konflik tersebut secara lebih luas, bukan hanya sebagai pertentangan di tingkat lokal, tetapi juga sebagai bagian dari dinamika politik internasional yang melibatkan kepentingan sejumlah negara.

Melalui pendekatan geopolitik, ia berupaya melengkapi pembahasan sebelumnya agar peserta memperoleh gambaran yang lebih utuh mengenai hubungan antara persoalan ideologi, politik, keamanan, dan kepentingan strategis di Timur Tengah.

Diskusi berlangsung dengan melibatkan peserta dari berbagai latar belakang, termasuk pengurus, akademisi, dan mahasiswa. Interaksi tersebut menunjukkan pentingnya mempertemukan perspektif keagamaan dengan analisis politik dan hubungan internasional dalam membaca persoalan umat.

Ust. H. T. Romly Qomarudin mengingatkan bahwa seorang dai harus terus belajar dan memperbarui pengetahuannya. Ia mengutip pesan KH Syuhada Bahri bahwa dai yang berhenti menuntut ilmu perlu mengevaluasi kembali kelayakannya dalam menjalankan tugas dakwah.

Pesan tersebut menegaskan bahwa tantangan dakwah pada masa kini menuntut penguasaan ilmu agama yang kuat, wawasan global yang memadai, serta kemampuan memilah informasi secara kritis.

Dai tidak cukup hanya memiliki semangat berdakwah, tetapi juga harus mampu memahami konteks sosial, politik, dan perkembangan dunia yang memengaruhi kehidupan umat Islam.

Dalam kesempatan tersebut, disampaikan pula bahwa Dewan Dakwah telah mengeluarkan pernyataan sikap terkait persoalan serangan Hautsi dan penjagaan dua Tanah Suci. Pernyataan tersebut dapat dibaca melalui situs resmi Dewan Dakwah.

Pusat Kajian dan Ghazawul Fikri Dewan Dakwah berharap hasil diskusi tidak berhenti pada pertukaran gagasan, tetapi dapat memperluas wawasan keislaman, memperkuat kapasitas intelektual kader, serta memberikan kontribusi bagi kemaslahatan umat.

Melalui forum ini, Dewan Dakwah menegaskan pentingnya membangun tradisi dakwah yang berlandaskan ilmu, keteguhan prinsip, keluasan wawasan, dan kedewasaan dalam menyikapi perbedaan.

Di tengah kompleksitas dinamika global, umat Islam membutuhkan pandangan yang jernih, kajian yang bertanggung jawab, serta komitmen bersama untuk menjaga kemaslahatan umat dan kehormatan tempat-tempat suci Umat Islam.

Humas Dewan Dakwah 

Editor: Abu Dzakir

Berita Terkait

Liputan Nasional Sepekan Pendidikan Dewan Dakwah (26 Oktober – 01 November 2026) Berita
05 November 2026 • Oleh Admin Dewan Dakwah

Liputan Nasional Sepekan Pendidikan Dewan Dakwah (26 Oktober – 01 November 2026)

Jakarta, dewandakwah.or.id - Bidang Pendidikan Dewan Da’wah terus berkomitmen memperkuat pendidikan Islam dan kaderisasi da’i melalui berbagai kegiatan di lembaga pendidikan Dewan Da’wah di seluruh Indonesia. Pada 26 Oktober, Akademi Da’wah Indonesia (ADI) NTB melaksanakan kegiatan belajar mengajar (KBM), sementara ADI Lampung menggelar halaqah Al-Qur’an rutin sebagai bagian dari pembinaan mahasiswa.

Dewan Dakwah Terima Kunjungan 30 Da'i Muda dari 6 Negara, Perkuat Sinergi dan Kaderisasi Dakwah Internasional Berita
05 November 2026 • Oleh Admin Dewan Dakwah

Dewan Dakwah Terima Kunjungan 30 Da'i Muda dari 6 Negara, Perkuat Sinergi dan Kaderisasi Dakwah Internasional

Jakarta, dewandakwah.or.id — Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia menerima kunjungan Syaikh Abdul Majid dari Yayasan Nasihat dan Taujih bersama 30 dai muda dari enam negara, yakni Indonesia, Thailand, Filipina, India, Pakistan, dan Sri Lanka. Kunjungan ini menjadi bagian dari rangkaian pembinaan dan penguatan kompetensi dai yang tengah berlangsung selama tiga bulan.